Malam sudah beranjak remaja,
ketika Elf minibus memboyong kami berlima belas menuju ke ujung paling barat pulau
jawa. Tidak banyak aktifitas selama dalam perjalanan, selain suara sayup-sayup tiga
orang gadis Amerika Latin ngobrol dengan bahasa espanyola, sementara yang
lainnya sibuk memperbaiki posisi duduk mencari posisi ternyaman dan memaksa diri
untuk tidur. Dua jam sebelum sampai ke titik tujuan “Taman Jaya”, goncangan Elf
memaksa seluruh penumpang untuk bangun, seakan mengajak kami ikut menikmati goyangan ombak di sisi kanan jalan dan bersuka
cita menyambut matahari pagi yang terbit memerah di ufuk timur. Perjalanan
selama delapan jam dari Jakarta ke Taman Jaya serasa hanya seperti kilatan
cahaya, setelah berdiri di dermaga memandangi hamparan laut membiru dan
segerombolan burung pipit menyambar-nyambar membelah-belah pantai.
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 September 2013
Rabu, 14 Agustus 2013
Mudik Tahun Ini
Bagi perantau--seperti saya ini--, mudik lebaran adalah hal yang paling ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Saat-saat dimana bisa berkumpul dengan keluarga, dengan sahabat-sahabat, dengan tetangga-tetangga, bahkan dengan keluarga yang mungkin belum pernah kita temui sebelumnya.
Tahun ini adalah kali ketiga saya merasakan mudik yang dipenuhi dengan gairah dan rindu yang meletup-letup, membakar tubuhku, seperti mercon-mercon yang membakar tubuh orang-orang di malam takbiran kemarin.halaaahh
Senin, 05 Agustus 2013
Balada Negeri Baliho #1
Jika overdosis baliho bergambar politisi bisa membuat anda muntah dan kejang-kejang, maka bisa jadi anda akan mengeluarkan seluruh isi perut anda dan kemudian koma ketika memasuki kota ini.
Memasuki gerbang selamat datang, bukan penunjuk jalan atau jajanan budaya dan ciri khas kota ini yang akan menyambutmu. Tetapi, bersiaplah untuk diserang segerombolan orang-orang tak tahu malu, menjajakan pose, senyum, dan kata-kata yang mungkin akan membuatmu menggigil sampai tak sadarkan diri. Semakin mereka memiliki jabatan, makin dangkal dan memalukan tampang mereka di baliho-baliho itu. Beribu macam janji palsu diumbar. Menjanjikan peningkatan kesejahteraan, tatanan kota dan infrastruktur yang lebih baik, pelayanan pendidikan dan kesehatan yang lebih murah bahkan gratis, bla bla bla.
Sebelum pingsan lagi, anda harus membuktikan dulu, bahwa apa yang tertulis di baliho itu adalah bualan omong kosong tong kosong bulshit baga-baga pabbote kutu kampret kelaut aja loe. Katanya akan membawa kota ini menjadi kota yang tertata dan nyaman, nyatanya anda akan mendapati kemacetan yang mengular sampai sejauh mata memandang. Katanya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, nyatanya Pedagang kaki lima yang dulunya menjadi tempat nongkrong anak muda berdiskusi sambil minum sarabba dan makan gorengan, digusur, digantikan dengan beton, ruko, rumah bernyanyi, minimarket, dan baliho-baliho (saya sudah bilang kota ini adalah kota sejuta baliho).
Senin, 01 April 2013
INI BARU NAMANYA LIBURAN
Ini baru namanya liburan, ketika
adrenalin sudah sampai di ubun-ubun. Jika biasanya saya selalu ngomel ketika
melihat pengguna jalan ugal-ugalan, kali ini saya hanya duduk takzim mengamini
seluruh keputusan gila abang ojek. Dari lapangan Banteng Jakpus, dijam paling
macet dan padat, pukul 4 sore, long weekend pula, serupa bermain rolling
coster, kami menerobos lampu merah sampai hampir disambar segerombolan motor
dari arah berlawanan, ngebut di trotoar pejalan kaki, bermacet-macet ria di rel
kereta api yang sirenenya sudah meraung-raung petanda kereta akan segera lewat,
dan dalam waktu 20 menit sampai di terminal Rawamangun dengan selamat dan
jantung yang hampir copot.
Bersama Ari Pimpinan Rombongan (Pimpro), Marti, Hence,
Fenot, Diah, Santi, dan Niar.
Inilah dia Gerombolan The Nekad Treveler
Minggu, 06 Januari 2013
Pengakuan Dosa
Film belum juga dimulai,
ponsel saya terus berdering. Saya mengabaikannya, karena jika diangkat, kedok saya akan terbongkar. Tempat itu seperti pasar, yang isinya hampir
berjenis kelamin perempuan semua, kalau tidak ada pria yang saya jebak untuk
ikut melakukan konspirasi ini.
Ponsel saya terus saja
berdering. Mau tidak mau saya harus mengangkatnya jika tidak ingin kena damprat
disertai semburan busa-busa air liur dan bau busuk sebusuk bau jempol kaki si penelpon.
Saya langsung memutar otak, alasan apa yang bisa digunakan agar terhindar dari
serangan busa-busa air liur dan bau busuk jempol kaki mengerikan itu. Tapi
karena saya adalah manusia terjujur yang pernah saya kenal seumur hidup saya,
saya tidak mampu melahirkan satupun ide untuk berbohong. Untung pria baik, imut, dan lucu yang saya ajak
untuk melakukan konspirasi ini punya
segudang ide brilliant. Akhirnya lahirlah alasan bahwa saya masih dijalan, tadi
ada urusan sama seorang teman di bone makanya telat sampai ke makassar. Saya
tidak berani mengangkat telpon itu didalam gedung teater karena suara filmnya
pasti kedengaran. Tapi saya juga tidak bisa keluar dari dalam gedung teater
karena suara ”pintu teater 1 telah
dibuka, bla bla bla..”. ahgggrrrrr, itulah kenapa saya malas berbohong,
karena saya harus terus membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lama
saya (percayakan kalau saya memang sejujur jujurnya manusia? Heu heuu).
Senin, 12 November 2012
Jalan-Jalan ke Kota Semarang
Ini
adalah kunjungan pertama saya ke Semarang (officially). Jika sebelumnya hanya
numpang lewat saja, kali ini benar-benar berkunjung dan nginap di sana. Kami
(saya dan teman-teman kantor) ke sana dalam rangka menghadiri acara pernikahan
teman kami “Ayu dan Ega” tanggal 11 November 2012.
Jika
diminta untuk memberikan pendapat tentang kota itu, maka saya akan bilang Semarang
adalah salah satu kota yang sepertinya nyaman untuk dijadikan sebagai tempat
tinggal. Kotanya sederhana, hampir mirip Jogjakarta. Cuma saja Jogjakarta lebih
ramai karena memiliki banyak tempat wisata dan kental dengan adat istiadatnya. Mengenai
kedua kota ini, saya selalu percaya bahwa kesederhanaan akan selalu diikuti
dengan rasa nyaman.
Ada
perasaan lega dan lapang ketika berada di kota itu. meskipun ketika turun dari
gerbong kereta di stasiun Tawang, hembusan angin terasa panas dan lembab, tapi
pemandangan yang disajikan sepanjang jalan menuju jalan Veteran tempat kami
akan menginap serta merta membuat rasa gerah saya menjadi sirnah. Mungkin
karena mau hujan saja makanya gerahnya luar biasa. Stasiun Tawang merupakan
stasiun kereta api besar tertua di Indonesia. Tidak mengherankan jika
gedung-gedung dan gaya arsitektur sekitaran stasiun tersebut masih kental
dengan corak belanda, mirip seperti kota tua di Jakarta, atau Benteng Rotterdam
di Makassar.
Selasa, 02 Oktober 2012
Anugrah, Sering-seringlah Berkunjung
Adakah
yang lebih menarik dari ANUGRAH? Anu Grathis (maksa yahh, haha)? Sejak dulu
sampai sekarang, saya adalah pemburu Anugrah. Tidak terkecuali waktu ditawari
mba Lia untuk hadir di acara International Documentary Film Festival yang
diadakan di Erasmus Huis kedutaan besar kerajaan Belanda untuk Indonesia. Tanpa
berpikir panjang saya langsung mengiyakan. Kapan lagi bisa nonton pemenang film dokumenter internasional gretongan,
tidak di putar di bioskop, DVDnya tidak dijual secara bebas pula. Sebenarnya
acara tersebut diadakan tanggal 25 s.d 29 September, namun karena kami adalah
buruh yang hanya punya waktu free pada
hari sabtu dan minggu, pilihan satu-satunya hanya hari sabtu tanggal 29
september 2012. Berbekal peta dan judul film documenter yang akan akan diputar
pada hari sabtu tanggal 29 september, kami capcus kesana. Mbak Lia start dari
bekasi, saya dari Salemba, dan titik temunya di halte kuningan timur.
Sekitar setengah 3 sore, kami baru sampai ke TKP, padahal
perjanjian awalnya sampai ke TKP jam setengah 2 tepat film pertama di putar.
Alasannya apa, we knowlah! Tanpa ba
bi bu kami langsung masuk ke gedung Erasmus Huis dan secara acak memilih film
yang akan ditonton, tak ada bayangan sedikitpun apalagi referensi mengenai film
yang diputar hari itu. Yang kami duga, film-filmnya pasti bagus karena
merupakan pemenang film documenter international tahun 2012.
El
SISTEMA
Film
sudah berjalan satu jam-an, untungnya masih banyak tempat duduk yang tersisa.
Awalnya saya berfikir latar belakang film ini diambil di spanyol, secara
bahasanya seperti bahasa Espanyola gitu (penyakit Sok Tahu Pertama). Ternyata
eh ternyata diambil dari Caracas Venezuela. Bahasa resmi Venezuela memang
bahasa Spanyol. Satu-satunya Negara Amerika Latin yang tidak menggunakan bahasa
spanyol adalah Brasil.
Film
ini bercerita tentang sistem pendidikan musik di Venezuela yang unik.
Pendidikan musik ini mampu membawa anak-anak Venezuela yang tumbuh
dipemukiman kumuh dengan tingkat kriminalitas yang tinggi menjadi
musisi kelas dunia. “El Sistima menunjukkan bagaimana Visionary Venezuela Jose
Antonio Abreu telah merubah kehidupan ratusan anak-anak melewati tiga decade
yang berat di mana kemiskinan dan tingkat kejahatan yang tinggi menjadi makanan
sehari-hari mereka.
Minggu, 19 Agustus 2012
MUDIK LEBARAN 2012
Jakarta, 16 Agustus 2012, 2.30 dini hari
Pagi-pagi sekali saya sudah mempersiapkan diri. Perjalanan ini selalu saya tunggu sepanjang tahun setiap tahun sejak masa kuliah. MUDIK. Entah kenapa ritual ini begitu berjiwa dan memiliki magnet yang sangat kuat. Masih jam 3 pagi, saya sudah mandi dan berdandan rapi, diantarkan cici mencari taksi dijalan raya menuju gambir, kemudian naik damri menuju bandara. Beruntung saya berangkat satu jam lebih awal. Di bandara sudah sesak dengan orang yang ngantri check in, padahal baru jam 4 pagi. Selama sejam saya harus menahan pipis yang benar-benar sudah diujung tanduk, karena harus ngantri, selain itu saya tidak bisa meninggalkan barang bawaan saya segede gaban. Tepat jam 6.30 pagi, pesawat sudah take off menuju Makassar. Bayangan rumah, ayah ibu, atting, keluarga, teman-teman yang akan menjemputku di bandara, seperti menari-nari bersama gumpalan awan putih dibalik jendela pesawat. Yang saya rasakan susah digambarkan, mungkin secerah dan sesegar langit biru pagi itu, senangnya bukan main.
Senin, 09 Juli 2012
Budaya dan Jebakan Betmen, gak nyambung, halah!
Sungguh beruntungnya kita
dianugrahi Indonesia. Negeri yang selalu bermandikan cahaya. Negeri kepulauan
yang sangat eksotis. Rempah-rempah melimpah ruah, di negeri ini kamu bisa menemukan aneka ragam makanan yang totally different dan yummy.
Ada ribuan pulau di
Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Marauke. Menurut data Departemen
Dalam Negeri, pada tahun 2004, jumlah kepulauan di Indonesia sebanyak 17.504
buah, 7.870 telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama. Dari
sekian banyaknya pulau tersebut, hanya sekitar 6.000 buah yang berpenghuni.
Itupun sudah fantastis, mana ada Negara di belahan dunia lain yang memiliki
kepualuan secanggih kepulauan kita.
Dalam setiap kepulauan
terdiri dari bermacam-macam agama, adat istiadat, kebudayaan, dan
bahasa. Bisa dibayangka begitu beragamnya penduduk negeri ini. dan sebagian
besar dari kita menerima keberagaman tersebut dengan bangga. Tidak ada satupun
sejarah yang menceritakan adanya pembantaian salah satu suku oleh suku lainnya
karena merasa diri lebih unggul. Peristiwa sampit dan konflik di Poso adalah impact dari sistem social yang timpang,
bukan karena mereka tidak bisa menerima perbedaan. Jikapun ada sekelompok orang
berseragam putih yang selalu mengharamkan dan mengkafirkan semua yang tidak
sesuai dengan pemahamannya, melakukan pengancaman dan pengrusakan, itu bukanlah
representasi dari penganut agama tertentu. Jikapun negeri ini pernah dikejutkan
oleh pengeboman ditempat ibadah, itu bukanlah wajah dari penduduk Indonesia,
itu adalah pencilan yang sepertinya sangat susah di Kontrol.
Jumat, 30 Maret 2012
MAMA TOYO
Enrekang adalah salah satu daerah di Sulawesi selatan yang sangat indah dengan hasil alam berupa buah dan sayuran yang
melimpah. seminggu yang lalu saya tiba disana, udaranya sangat dingin, enrekang
merupakan daerah yang terbentuk dari deretan gunung yang sangat indah. salah
satu gunung yang paling terkenal di sana adalah gunung Nona, kenapa disebut gunung Nona?, karena bentuknya mirip seperti Vagina. waktu dalam perjalanan pulang, saya
tidak henti-hentinya memandang keluar jendela dan mencari-cari di antara
deretan gunung yang ada, yang manakah kiranya gunung Nona itu. sampai-sampai
bus yang kami tumpangi hampir miring ke samping kiri karena semua penumpang mobil berdiri disisi kiri mobil untuk melihat
pemandangan indah yang sangat jarang terlihat di tempat lain apalagi dikota-kota besar. Kami seperti orang desa yang pertama kali ke kota dan melihat gedung-gedung
pencakar langit dengan lampu yang berkerlap-kerlip, kami ternganga-nganga melihatnya. Sampai disini, kami berhasil membuktikan kalau semuanya sudah terbalik,
bukan lagi gedung-gedung pencakar langit yang kami inginkan, tapi alam yang
menyajikan kecantikannya. Pegunungan yang menghijau, air yang mengalir jernih, udara sejuk, sayuran yang langsung dipetik dari kebun, semua yang
disajikan alam secara alami. Semangat komunal di daerah itu membuatku jadi iri dan merasa sangat kecil
dengan sifat individualis yang selama ini masih membelengguku.
Langganan:
Postingan (Atom)