Pagi ini langit biru. Udara juga sejuk. Suasana hati masih membuncah sisa kemenangan Timnas 2 hari yang lalu. Hanya saja aroma kambing kambing masih merebak di sudut sudut jalan.
To Magguru
Happiness only real when shared_Alexander Supertramp
Selasa, 08 September 2026
Surat untuk Purnama #10
Sabtu, 21 Agustus 2021
Menjadi Lansia, Rentan dan Terabaikan
Dalam drama Korea Navillera, Sim Dheok-Chool, seorang pensiunan kantor pos, diam-diam mendaftarkan dirinya ke panti jompo setelah mengetahui dirinya mengidap penyakit alzheimer. Ia dan istrinya hanya punya dua harapan di masa tuanya, yaitu menjalani masa tua tanpa membebani anak-anaknya dan melihat anak-anaknya sehat dan saling mengasihi. Dalam drama yang bercerita tentang kakek tua yang bekerja keras untuk menunaikan impian terakhirnya menjadi penari balet itu berhasil membuka mata kita, betapa orang tua kita yang telah menjalani waktu panjang dan asam garam kehidupan, ingin menjalani masa tua yang bermartabat, terus memberi, dan tidak ingin menyusahkan, meskipun harus menjalani hari-hari sepi. Prinsip yang mungkin menjadi pegangan hidup kebanyakan orang tua kita.
Namun,
harapan itu sepertinya tidak mampu dipenuhi oleh banyak dari orang tua/lansia
di Indonesia. Rasio ketergantungan penduduk lansia (dependency
ratio)
di Indonesia terus mengalami peningkatan dari 11,95 persen di tahun 2010
menjadi 15,54 persen di tahun 2020. Meskipun pandangan mengenai rasio
ketergantungan lansia ini harus ditempatkan secara bijak, mengingat kontribusi
dan kearifan yang dimiliki para lansia tersebutlah yang membawa kita pada pencapaian
bangsa kita hari ini, akan tetapi parameter ini juga harus menjadi penanda
bahwa negara belum mampu mewujudkan harapan terakhir dari setiap warga
negaranya, yaitu menjalani masa tua yang sehat, aktif dan mandiri.
Di
masa pandemi Covid-19, lansia tidak hanya menghadapi kerentanan dalam hal
sosial ekonomi, tetapi juga menjadi kelompok yang paling rentan terhadap
penularan Covid-19 dan memiliki potensi kematian yang paling tinggi. Sampai
dengan tanggal 5 Agustus 2021, jumlah lansia yang meninggal sepanjang masa
pandemi adalah 48.573 jiwa atau 46,7 persen dari total yang meninggal. Pandemi
memang membuat posisi lansia semakin terpuruk dan kita harus mampu melihatnya
dalam cakrawala yang lebih luas.
Lansia, kelompok
usia termiskin
Indonesia
merupakan negara urutan ke empat yang memiliki jumlah penduduk lanjut usia yang
paling tinggi di Asia setelah India, China dan Japan (Suveymater.org, 2016).
Tahun 2020, jumlah penduduk lansia Indonesia mencapai 9,92 persen dari total jumlah
penduduk Indonesia atau sekitar 26,82 juta jiwa. Namun karena kemampuan kerja
dan kesehatan yang semakin menurun, kelompok ini sangat rentan jatuh ke dalam
kemiskinan dibanding kelompok usia lainnya.
Berdasarkan
data Susenas tahun 2020, terdapat 43,36 persen lansia Indonesia yang berada di 40
persen terbawah spektrum kemiskinan. Lebih lanjut lagi, berdasarkan analisis
yang dilakukan TNP2K, tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia berada pada
kelompok lansia, yaitu berkisar antara 10-20 persen. Tingginya tingkat kemiskinan
lansia di Indonesia tersebut terutama disebabkan karena 85 persen lansia di
Indonesia tidak memiliki jaminan ekonomi/pendapatan (Kidd dkk, 2017).
Cakupan Perlindungan
Sosial untuk Lansia Masih Rendah
Perlindungan
sosial untuk lansia di Indonesia memang terbilang memiliki cakupan yang masih
rendah. Pada tahun 2021, lansia yang memiliki akses terhadap program
perlindungan sosial skema kontribusi atau jaminan sosial ketenagakerjaan hanya
sekitar 17,5 persen, termasuk dana pensiun untuk pegawai negeri. Sementara itu,
lansia penerima manfaat program perlindungan sosial skema nonkontribusi atau
bantuan sosial (PKH dan Bantu LU) hanya sekitar 5 persen dari total jumlah
lansia di seluruh Indonesia.
Selain
itu, pelaksanaan kebijakan bantuan sosial untuk lansia tersebut masih menghadapi
kendala diantaranya manfaat dan cakupan yang diberikan masih sangat rendah,
kesediaan data, skema dan kriteria penargetan, serta belum maksimalnya
koordinasi antara berbagai stakeholder. Beberapa daerah telah memiliki
program lansia yang cukup baik diantaranya Kabupaten Aceh Jaya dan Provinsi DKI
Jakarta. Namun secara keseluruhan, perlindungan sosial untuk lansia di daerah
masih sangat bergantung pada pemerintah pusat yang cakupannya sangat terbatas.
Reformasi
Perlindungan Sosial untuk Lansia
Pada
tahun 2050, jumlah penduduk lansia Indonesia diperkirakan akan mencapai 74 juta
jiwa atau sekitar 20 persen dari populasi Indonesia (UN, 2017). Tanpa adanya
upaya perbaikan yang komprehensif dari saat ini, maka Indonesia akan kewalahan
menghadapi periode aging population yang sudah di depan mata.
Dari
berbagai penelitian yang ada, untuk mengurangi tingkat kemiskinan lansia
tersebut, maka pemerintah harus memberikan perlindungan sosial yang lebih
komprehensif.
Sebagai
tahap awal, hal yang dapat dilakukan pemerintah adalah memperluas cakupan
perlindungan sosial nonkontribusi/bantuan sosial kepada lansia 40 persen terbawah
spektrum kemiskinan. Saat ini bantuan sosial untuk lansia miskin hanya mencapai
5 persen dari total lansia, yang terdiri dari cakupan PKH komponen lansia 1,1
juta jiwa, Bantu LU 35.000 jiwa, dan selebihnya berasal dari program pemerintah
daerah. Integrasi dan perluasan program PKH komponen lansia dan Bantu LU perlu
untuk dikaji dan dikembangkan, mengingat syarat dan besaran manfaat dari kedua
program tersebut hampir sama. Integrasi program bantuan sosial lansia ini dapat
mempermudah penguatan kualitas dan kuantitas serta pengendalian program.
Di
samping itu, Pemerintah juga perlu untuk membuka akses yang luas dan mudah
terhadap program-program perlindungan sosial yang bersifat kontribusi (bukan
bantuan sosial) kepada lansia kelompok pengeluaran di atas 40 persen, seperti
program jaminan pensiun dan jaminan hari tua. Akan tetapi program-program
perlindungan sosial tersebut harus disesuaikan dengan situasi lansia berdasarkan
kelompok pengeluaran masing-masing, terutama kelompok yang tidak mampu
menjangkau program kontribusi namun tidak juga menjadi prioritas bantuan sosial
(missing
middle).
Menjadi
tua dan lemah adalah siklus kehidupan yang tidak dapat dihindari. Akan tetapi,
menjadi tua, sehat, aktif dan mandiri adalah sesuatu yang dapat diwujudkan oleh
negara bekerjasama dengan seluruh elemen masyarakat. Berkaca pada Jepang yang
telah sukses memasuki periode super aged
society
dengan cukup baik, maka kita pun perlu mempersiapkan sebuah skema untuk
mendukung kehidupan hari tua lansia yang lebih baik melalui long
term care
insurance
system
yang komprehensif. Selain itu, agar lansia dapat tetap beraktifitas dengan
baik, maka pemerintah harus menyediakan infrastruktur yang ramah terhadap
lansia dan disabilitas.
Pada
akhirnya kita semua akan sampai pada fase akhir kehidupan manusia bernama
lansia jika diberi umur panjang, seperti Sim Dheok-Chool yang lambat laun kehilangan
sebagian besar ingatannya. Akan tetapi, Sim Dheok-Chool tidak jadi menghabiskan
sisa waktunya di panti jompo, karena disampingnya ada keluarga dan
tetangga/komunitas yang kuat mendukungnya. Menjadi tua dan lemah adalah
keniscayaan, tetapi menjadi tua dan bermartabat adalah pilihan yang dapat
dicapai melalui sokongan penuh dari Negara dan masyarakat yang kuat.
REFERENSI
BPS,
(2020). (Penyunting) Subdirektorat Statistik Pendidikan dan Kesejahteraan
Sosial. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2020. Jakarta, 2020.
Kidd, Gelders, Rahayu, Larasati,
Huda dan Siyaranamual, 2017. Perlindungan
Sosial bagi Penduduk Lanjut Usia di Indonesia. Publikasi oleh TNP2K dan
Pemerintah Australia melalui Program MAHKOTA, 2018.
Priebe,
J. (2017). Old-age Poverty in Indonesia: Measurement Issues and Living
Arrangements. The Institute of Social
Study, The Hague.
Ramesh,
M. (2014). Social Protection in Indonesia and the Philipines. Journal of Southest Asian Economies Vol
31, No.1 pp 40-56.
Yanuardi,
Fitriana, K.N., & Ahdiyana, M. (2017). Social Policy Evaluation
on Social Welfare Improvement of Neglected Elderly. Jurnal PKS Vol 16 No 1 Maret 2017; 1 – 10
Kamis, 12 Agustus 2021
Supporter Nomor 1 itu Bernama Kakek
My Dear Son, Kalam Tristan Ahmad
Sudah lebih sebulan kita berlibur di rumah
nenek kakek di Lonrong. Di sini kamu mendapatkan seluruh hak mu sebagai
anak-anak, bermain-main sepuasnya di ruang bermain yang terhampar luas. Kamu
bisa mondar-mandir seharian di luar rumah bersama kakak sabda, bermain pasir,
melompat sana sini, bermain basket, bermain badminton, menangkap kodok, mengamati si kaki seribu, berenang di kolam mini
kakek dan banyak lainnya.
Pagi ini Ibu mendapati pemandangan yang
mengharukan. Ibu bersyukur dan berdoa kepada Sang pemilik kehidupan, semoga
kita semua diberi kesehatan dan umur yang Panjang untuk terus hidup saling
mengasihi dan menguatkan satu sama lain. Ibu duduk di kursi ruang tamu melihat
kamu digendong oleh kakek sambil kamu bernyanyi lagu Omar dan Hana, sementara
kakek berjoget-joget sembari mengeluarkan suara seolah-olah itu adalah music
pengiring lagu kamu yang menggemaskan itu.
Ibu ingin bercerita sedikit tentang kakekmu.
Dia adalah sosok pekerja keras yang tidak bisa diam. Dia bisa sakit jika disuruh
beristirahat tidak melakukan apa-apa di rumah. Setelah pensiun menjadi guru,
kakek lebih banyak mengurusi kebun di dekat rumah dan kebun di Laddoko. Dia
bahkan membeli sepetak tanah di samping rumah kakek Tappa untuk berkebun (lagi).
Hasil kebun di sana bermacam-macam. Kemarin, kita (kamu, nenek, kakek dan ibu) jalan-jalan
ke kebun samping rumah kakek Tappa untuk sekedar sarapan di sana. Kamu tak
henti-hentinya berlarian sana-sini. Di kebun kakek ada bermacam-macam tanaman,
ada jagung, ubi kayu, ubi jalar, pisang, mangga, sayur mayur, cengkeh dan
banyak lainnya. Jika datang waktu panen, hasil panennya dibagikan ke keluarga,
tetangga, atau teman-teman guru nenek.
Kamu tahu kal, mungkin nenek dan kakek tidak
menyadari, masa pensiun nenek dan kakek adalah masa pensiun yang sangat ideal.
Di masa produktif mereka mendidik dan menghidupi anak-anaknya dengan baik. Di
masa pensiun mereka masih memberi banyak hal kepada kita (kasih sayang dan
materi) dan juga memberi kehidupan pada tumbuh-tumbuhan dan membagikannya
kepada sesama. Ibu baru saja nonton drama Korea berjudul Navillera, masih
episode 1, ada satu percakapan dalam adegan perayaan ulang tahun ke 70 kakek
yang belum Ibu tahu namanya itu. Dalam adegan itu cucunya bertanya “apa
harapanmu kakek?” Istrinya menjawab “örang tua macam kami ini hanya punya dua
harapan, pertama melihat anak-anak sehat
dan saling menyayangi dan kedua kami
bisa hidup tanpa membebani anak-anak”. Jika itu adalah harapan nenek dan
kakek di masa tuanya, maka kita patut bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan
semuanya.
Tentang kakekmu, dia suka sekali membersihkan
pekarangan rumah, mencangkul, dia bahkan bisa menggeser gundukan tanah yang ada
di depan rumah pindah ke sisi lain rumah. Kakek punya kebiasaan aneh, saat
hujan, dia akan keluar rumah dan memulai mencangkul, membuat parit, membuat
taman, atau membetulkan pagar. Kakek suka sekali melakukan pekerjaan fisik. Dia
selalu bilang, pikiran dan memorinya sudah tidak kuat, tetapi dia punya tenaga
untuk terus bergerak dan bekerja.
Karena sayangnya kepada cucu-cucunya, tahun
lalu sebelum kita pulang ke Lonrong, Kakek membuat kolam renang mini di samping
kanan rumah dekat garasi. Kamu dan kakak sabda senang bukan kepalang. Setiap
hari ingin nyemplung dan berenang. Berbagai alasan kamu buat supaya bisa
melangkahkan kaki masuk ke dalam kolam, misalnya membuang mainan ke dalam kolam
lalu masuk ke dalam kolam untuk mengambilnya, baju kamu lalu basah kuyup dan
cengar-cengir jika kedapatan. Tahun ini 2021, sebelum kita pulang kampung,
kakek membuat tiang dan ring bola basket mini untuk kamu dan kakak sabda. Kamu
dan kakak sabda jadi bisa berlarian memboyong bola basket yang harusnya di
drible itu. Kakek juga memasang net untuk kita bermain badminton.
Sejak dulu kakek senang sekali memberikan dukungan dan mendorong anak-anaknya untuk mengembangkan potensinya dalam seni dan olahraga. Ibu ingat sekali sewaktu masih duduk di bangku SD, kakek membuat ayunan di bawah pohon nangka, membuat alat sport gantung, dan melatih kami anak-anaknya bermain badminton setiap sore. Jika ada perlombaan bernyanyi, baca puisi, pramuka, atau apapun itu yang kira-kira Ibu punya potensi di situ, maka kakek akan mendorong 1000 persen. Bahkan waktu duduk di bangku sekolah SMA, kakek mengantar Ibu malam-malam pergi ke sekolah untuk mengikuti perlombaan badminton dimana Ibu bahkan tidak bisa membuat service yang benar. Tetapi kakek tidak pernah menyalahkan Ibu jika kalah, tak pernah sepatah katapun penyesalan jika hasil yang didapatkan tidak sesuai harapan. Itu mungkin yang membentuk karakter Ibu menjadi keras kepala dalam mengejar mimpi.
Kelak jika kau tumbuh menjadi lelaki dewasa, kau bisa melihat atau mencontoh hal-hal baik dari kakekmu, tentang kerja kerasnya, bagaimana dia mencintai cocok tanam, dan selalu ingin memberi yang terbaik untuk anak cucunya.
Rabu, 12 Oktober 2016
Sandyawan "Santo Pejuang Kemanusiaan"
![]() |
| Sandyawan berorasi sesaat sebelum Bukit Duri diluluhlantahkan aparat/Sumber Facebook |
