Selasa, 08 September 2026

Surat untuk Purnama #10

Pagi ini langit biru. Udara juga sejuk. Suasana hati masih membuncah sisa kemenangan Timnas 2 hari yang lalu. Hanya saja aroma kambing kambing masih merebak di sudut sudut jalan.

Beberapa orang dokter dan perawat berseragam jaga berjalan menyusuri trotoar Salemba UI. Seperti nelayan yang baru pulang melaut, entah badai apa yang telah mereka hadapi, jangan berharap melihat ceria di wajahnya. Begitulah, we all are have our own battle kata orang orang.

Hari ini saya jogging keluar Johar Baru. Johar Baru, bukanlah tempat yang nyaman untuk jogging. Di sana jalan padat dan sembraut bukan main. Saya hanya mengikuti insting lari lebih jauh. Mungkin ada hal menarik di depan sana. Benar saja, saya nyangkut di Bubur Spesial Cikini. Sarapan dengan seorang kakek yang makan banyak sekali kerupuk dan lelaki 20an yang makan bubur mashab dicampur dengan kecepatan kilat.

Saya juga banyak mendengar The Carnival of Animal Yo-Yo Ma di sepanjang jalan. Master peace itu selalu saja mampu membuat hati saya tunduk, kadang tersayat sayat. Tidak apa kau merengkuh rasa sedihmu, marah terhadap ketidakadilan dan perang yang tidak berkesudahan. Sepanjang sejarah manusia, ketidak adilan dan kemajuan zaman datang silih berganti. Kita tetaplah manusia yang punya perasaan, lemah, dan singkat usianya.

Note: bubur ayamnya B aja, enakan buryam kantin DJA.

7 Juni 2025