Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2015

TENTANG SI KECIL PAHIT YANG MEMUKAU


Saya bukanlah pecinta kopi. Meskipun tak menganggapnya penting, saya masih mengkonsumsinya, dengan kuantitas yang bisa dihitung dengan satu tangan dalam sebulan. Biasanya dengan tujuan khusus, menahan kantuk saat rapat, atau dalam rangka begadang jika weekend tiba. Konon, kopi pertama kali ditemukan sebagai minuman penambah energi oleh seorang petani Ethiopia bernama Khalid saat mengembala kambingnya. Kambing Khalid tiba-tiba menjadi sangat atraktif sesaat setelah memakan biji kopi. Saya berharap, reaksi tubuh saya setelah meminum kopi sama seperti kambing-kambingnya Khalid. Tapi itu tak terjadi, seringkali efek dari kopi yang saya minum malah seperti efek obat tidur, saya malah semakin tak berdaya melawan kantuk.

Sampai akhirnya saya nonton film bertema kopi yang diproduksi oleh seorang sutradara muda bernama Anggi Dwimas Sasongko. Sepertinya saya harus membuka mata, kopi bukan hanya sekedar minuman yang ngehits, lebih dari itu, kopi mengandung banyak cerita dan makna dibaliknya. Film berjudul Filosofi Kopi ini diadaptasi dari cerita pendek Dee lestari yang juga berjudul "Filosofi Kopi". Saya menyukai hampir semua cerpen dan prosa dalam buku Filosofi Kopi. Yang paling saya sukai adalah Spasi, namun seperti terserang amnesia lokal, cerita Filosofi Kopi tak mampu kuingat sama sekali. Jadi pada saat menyaksikan film Filosofi Kopi, saya tak perlu membanding-bandingkannya dengan cerita aslinya dalam buku.



Sejak pertama kali isu Filosofi Kopi akan difilmkan muncul, saya langsung antusias ingin menontonnya. Entah kenapa saya punya firasat film ini akan berhasil mencuri perhatian---tidak seperti Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang "sorry to say" terkesan serba maksa, Songong, dan Sok. Menurutku tak ada yang berhasil dari film yang diadaptasi dari Series Supernova-nya Dee Lestari itu. Bukunya sih keren, filmnya yang gagal fokus---. Dan tanggal 9 April kemarin, tepat di hari pertama tayang di bioskop, saya dan dua orang teman saya si batak Rimbi dan putri keraton Dian, berhasil nonton cantik di bioskop murah meriah Atrium. Kami bahkan nonton dua kali! Yang kedua terjadi karena kecerobohanku menghilangkan potongan tiket berikut tiket teman-temanku, padahal tiket XXI itu bisa dijadikan tiket masuk ke kafe Rolling Stone menyaksikan konser Filosofi kopi. Akhirnya kami nonton (lagi) kilat pada saat jam istirahat makan siang, demi untuk mendapatkan potongan tiket dan bisa nonton konser filosofi kopi. Kurang militan apa coba?

Saya suka dan puas, meskipun ada beberapa bagian yang agak silly. Sound effectnya kurang greget, akhirnya terkesan krik krik dibeberapa bagian. Ada juga scene yang meaningless, contoh adegan curcolnya El dan Jodi di kebun kopi, dialog panjang si Jodi dan cicinya yang terlalu sepi dari sound effect, atau dialog panjang si debt kolektor dengan Jodi yang lagi-lagi kurang greget. Terlepas dari itu, saya sangat mengapresiasi film ini. Film ini tidak hanya bercerita soal produksi kopi mulai dari cara penanamannya sampai cara penyajiannya, tapi juga banyak mengeksplor hubungan persahabatan,  dan yang lebih menarik, film ini menyentil nasib petani kopi yang banyak tersingkir akibat dari ekspansi perusahaan besar dan godaan mengganti komoditi kopi dengan komoditi lain yang lebih menguntungkan. Dalam sebuah wawancara, Glen Fredly sang co-produser bilang, film ini memang didedikasikan kepada para petani kopi di Indonesia. Ini merupakan angin segar bagi perfilman indonesia, film dengan pesan yang kuat sudah terlalu jarang kita temui di perfilman kita. Jika ingin mengangkat kembali perfilman indonesia, maka paling pertama yang bisa dilakukan adalah memperkuat tema ceritanya terlebih dahulu, sekiranya kecanggihan masih terlalu jauh untuk kita jamah. Kita tidak akan belajar jika terus-terusan membebek selera pasar dan godaan profit yang menggiurkan. Kampanye untuk nonton film Indonesia secara besar-besaran dan gratis beberapa hari yang lalu tidak ubahnya seperti layanan operator yang menawarkan fasilitas gratis, tapi dengan syarat dan ketentuan berlaku, parahnya lagi sinyal dan kualitasnya tiarap. Mau sebanyak apapun film gratisnya, kalau yang ditawarkan film pocong pocong, atau tema percintaan ababil akut, tidak akan membawa kita kemana-mana. Tawaran itu tak mampu menandingi film hollywood atau film negara lain yang jauh lebih maju dari sudut pandang manapun kita melihatnya.

Saya tak begitu menyukai kopi dan tak paham kenapa teman-teman cowok saya begitu mencintai kopi hitam, pacar saya bahkan mengakui dengan sangat fulgarnya bahwa kopi hitam adalah cinta sejatinya. Namun, tetap saja si kecil, hitam, dan pahit itu tak pernah kuanggap penting. Sampai akhirnya, film filosofi kopi berhasil membalikkan segalanya, saya memang tetap tak rutin mengkonsumsinya, tetapi penghargaanku terhadap kopi jauh lebih maju saat ini. Bahwa negara kita adalah penghasil kopi terbesar kelima di dunia. Bahwa negara kita ditopang oleh petani kopi yang berada di berbagai pelosok indonesia. Bahwa kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya, kopilah yang menyatukan anak-anak muda di warung kopi atau di teras rumah menyulam impian kecil mereka menjadi rencana yang maha besar, kopilah yang menjadi lampu berkekuatan 500 watt di kepala para sastrawan, para peneliti, mahasiswa, doktor, profesor, wartawan, di malam-malamnnya yang sunyi. Bahwa petani kopi kita adalah kelas/lapisan terbawah yang sangat mudah tersingkir dan tertindas dalam bisnis kopi kapitalis yang terus menggurita. Bahwa kita sebagian besar masyarakat indonesia tidak menyadari betapa beruntungnya kita memiliki kopi-kopi terbaik. Bahwa barista bernama Ben di film Filosofi Kopi  itu, guaaaaantengnya pooooooooooolllllllllllll uaaaaaanjeeeeeeng. ^_^
Ben, Al, dan Jodi di Konser Filosofi Kopi Kafe Rolling Stone

Chicco Jerikho, tiba-tiba saja mengalami metamorfosis yang sangat pesat. Sebelumnya, dia hanya pemain FTV dan sinetron yang biasa-biasa saja. Namun setelah main di Cahaya dari Timur Beta Maluku dan memenangi piala citra 2014, dia seperti baru terlahir kembali dengan segala pesona  yang dia miliki. Pemeran Ben dalam Filosofi Kopi itu memiliki tanggung jawab yang cukup besar jika tidak bisa dikatakan sangat besar atas kesuksesan film tersebut. Kegantengannya melebihi Tristan dalam film The Legend Of The Fall. Dia berhasil menghidupkan karakter Ben dengan sangat sempurna, Ben si barista ambisius, cuek, dan cinta mati sama yang namanya kopi. Keberhasilan tersebut tidak bisa lepas dari tandemnya Rio Dewanto yang berperan sebagai Jodi "si paman gober" yang pelit dan perhitungan. Jodi merupakan sahabat Ben dari kecil sekaligus pemilik modal dan mesin penghitung cuan kedai Filosofi Kopi. Ben dan Jodi menganalogikan dirinya sebagai kepala dan hati, Jodi sebagai kepala yang selalu realistis, sementara Ben adalah hati yang selalu idealis dan melakukan segala sesuatu hanya dengan satu alasan, karena cinta. Berlatar belakang kota Jakarta, film ini tidak lantas menipu diri dengan terus menjual Jakarta dengan segala keglamorannya. Gang-gang yang sempit, pasar tradisional, warteg dan es tehnya yang selalu menyegarkan, menjadi pemandangan yang biasa dalamfilm ini. Bahasa yang digunakan juga santai dan sangat natural, terkadang disisipi dengan bahasa kotor, dan inilah realitas yang kita temui di jalan tiap hari.


Konser filosofi kopi


Hal lain yang membuat film ini sangat layak untuk diapresiasi, bukan hanya karena subtansi dari ceritanya sendiri yang bagus, tetapi juga melibatkan musisi-musisi hebat baik yang sudah terkenal maupun baru untuk mengisi soundtrack film tersebut. Mereka adalah Maliq & d'Essentials, Gilbert Pohan, Sidepony, dan band yang dijaring melalui kompetisi ngeracik musik SVARNA. Dan yang bertanggung jawab atas keterlibatan musisi musisi tersebut adalah Glend Fredly.

Empat hari setelah tayang premier, pada tanggal 13 April 2015 kemarin, bertempat di Kafe Rolling Stone, Filosofi Kopi movie mengadakan konser dengan menghadirkan seluruh penyanyi soundtrack, produser, sutradara, casts, dan crew dari film tersebut. Saya termasuk orang yang percaya bahwa film yang bagus selalu didukung oleh soundtrack yang bagus pula. Pada malam itu, di konser yang cukup intimate, dihalaman belakang kafe Rolling Stone, bersama teman sebangsa dan setanah air yang kece tapi norak Rimbi Dian dan Langun, saya merasakan energi dan otimisme terhadap musik dan film indonesia. Sayang lagu-lagunya belum rilis, dan belum bisa dibajak juga. hahaha

Ngopi dulu, sebetulnya cuma rimbi yg ngopi, yang lain minum soda

Ada satu hal yang membuat saya terenyuh malam itu, pada seorang pria berkemeja biru muda, mengaku sebagai petani kopi, dan menyanyikan lagu-lagu bertema sosial dan lingkungan dengan petikan gitar yang rada-rada ngecountry. Setelah menyanyikan beberapa lagu, dia turun ke sisi kiri panggung, merapikan gitarnya dan memasukkannya ke dalam tas sambil jongkok. Setiap kali ada orang yang datang mengajak untuk berfoto, dia selalu meladeninya dengan ramah, lalu lanjut mengepack alat musiknya lagi. Setelah itu, dia berdiri di sisi panggung itu sampai konser hampir ditutup. Dia tidak memperlihatkan sedikitpun lagak, bahwa dia adalah seorang vokalis band yang sudah berpetualang ke banyak penjuru negeri menyuarakan isu sosial dan ekologis, jika dia adalah seorang aktifis lingkungan yang mendedikasikan banyak waktunya untuk menjaga alam Indonesia dari kerusakan dan kerakusan manusia-manusia bumi. Sementara orang-orang yang baru melakukan sedikit saja kampanye sosial, terlena dalam selebrasi dan pujian di atas panggung. Pria itu selain berilmu, dia juga telah banyak melakukan hal bermanfaat, namun kepalanya terus merunduk ke bawah. I really adore you Robi Navicula.
Me and Robi Navicula

Saya selalu menikmati momen dimana saya menggilai sesuatu, menggilai ketampanan Chicco, menggilai Filosofi Kopi the movie, menggilai kesederhanaan para petani-petani kopi, dan menggilai kejeniusan dan kesederhanaan musisi-musisi hebat. Saya memaklumi rimbi yang histeris dan gemetaran saat dirangkul dan dicium oleh chicco, sementara dian merengut tak karuan karena tak mendapatkan kesempatan yang sama. Saya rela diserang demam chicco selama berhari-hari dan tak tahu obat penawarnya apa.
Dari kiri ke kanan, Chicco, Jempol Rimbi, dan Rio

Meskipun yang keliatan cuma gigi, tak apalah, ini bukti kongkrit rimbi habis dirangkul chicco. Haha

Karena terkadang hidup butuh kegilaan untuk membuatnya lebih hidup.

------
Nb: Para pecinta kopi seharusnya nonton film ini. Ini bukan hanya sekedar mengapresiasi film indonesia, tetapi juga bentuk apresiasi kita kepada petani-petani kopi di indonesia dan pecinta kopi itu sendiri.

Selasa, 02 September 2014

Festival Film Jerman day #2 Goethe



Matahari masih sangat bersemangat menyiramkan hangatnya di bumi Jakarta, bisa jadi sebesar semangatku bergerak menuju Goethe siang itu, 24 Agustus 2014. Goethe merupakan lembaga pusat bahasa dan kebudayaan jerman bertempat di Jl. Sam Ratulangi No 9-15  Jakarta. Tanggal 22 – 31 Agustus 2014 kemarin, Pemerintah Jerman mengadakan festival film Jerman dibeberapa wilayah Indonesia, salah satunya di Jakarta, dan patut dicatat seluruh pemutaran filmnya gratis! 

Jam 2 siang, tempat itu sudah mulai ramai dikunjungi, mulai dari anak-anak muda sampai orang tua. Perbedaan mencolok dari kedua generasi ini adalah anak muda selalu datang bergerombol, sementara orang tua datang sendirian atau setidaknya berdua. Anak muda berteman riuh riah kebersamaan, orang tua berteman kesepian, begitukah? Haha. Apapun itu, satu hal yang menyatukan kami di sana adalah kecintaan pada film. Film serupa taman bermain tempat mempalajari nilai-nilai universal dan kebudayaan, wadah mengapresiasi kebaikan dan memasung kejahatan, tempat imaginasi beranak pinak, seperti halnya kau akan menemukannya pada buku lebih dalam lagi.

Hari itu, ada tiga film yang diputar di Goethe, Kaddisch fur einen freund, Oh Boy, dan Westen. Saya hanya bisa nonton dua film saja Kaddisch Fur Einen Freund dan Oh Boy. Untuk film pertama, saya menyimpan sobekan karcis saya di wadah yang disediakan oleh panitia, sebagai tanda saya menyukai film itu. Sementara film oh boy, saya tidak terlalu menikmatinya, karena diserang keram leher dan mata juling selama dalam teater, akibat kebagian tempat duduk paling depan. 

----------

Kaddisch Fur Einen Freund

Meskipun rilis di tahun 2012, nampaknya film ini patut untuk diangkat dan disimak lagi. Pembantaian warga Gaza yang telah menembus angka lebih dari 2.000 jiwa menyusul perebutan tanah Palestina dan genozida keji oleh Israel selama bertahun-tahun,  dibarengi dengan pembantaian yang dilakukan ISIS terhadap kaum minoritas di Suriah dan Irak, tidak bisa dipungkiri melahirkan kemarahan bagi siapapun yang berakal sehat, dan olehnya sangat rawan untuk berkembang menjadi  permusuhan yang serius, bahkan bagi mereka yang berada di luar konflik.
Dari serangkaian peristiwa itu, otak kita kemudian membuat sebuah cabang sendiri, bernama stigma paranoid. Apa yang kamu ingat ketika mendengar Yahudi, terbayang negara bengis yang tega membunuh ribuan orang tak bersalah dan melakukan cara apapun untuk merebut tanah rakyat Palestina. Sebaliknya apa yang kamu ingat ketika mendengar Islam, jika kau menanyakan itu pada orang-orang eropa atau negara-negara nonmuslim, Islam adalah mereka pria dan wanita diselimuti bom, meledakkan dirinya di tengah keramaian, kelompok orang-orang ekstrim fanatik, tempat berkumpulnya para teroris.



Film ini, ingin meluruskan stigma itu. Tidak betul bahwa semua orang islam adalah teroris, begitu juga tidak betul jika kau menganggap semua orang yahudi Jahat. Pembantaian rakyat Palestina yang sudah tidak bisa diterima nalar manusia bahkan setan sekalipun, harus diperangi dan diakhiri!!! Pemenggalan secara biadab yang dilakukan oleh ISIS  kepada kelompok minoritas di Suriah dan Irak juga tidak bisa dibiarkan. Dunia harus bergerak mengakhiri ini. Bukan cuma celotehan prihatin dan basa basi---jangan pernah berharap itu akan dilakukan oleh Amerika Serikat, Fuck them!. Di lain pihak, satu hal yang perlu selalu diingat, jangan membenci secara membabi buta, itu adalah cara berpikir yang tidak adil. Film ini mengajak kita untuk keluar dari hegemoni cara berfikir mengeneralisir.

Dua tokoh utama dalam film ini berasal dari dua generasi yang sangat jauh berbeda, Ali remaja Palestina dan Alexander veteran Yahudi asal Rusia. Sang Sutradar Leo Khasin sedari awal sekali, mencoba membangun hubungan yang unik antara Ali dan Alexander. Hubungan yang sangat intim namun malu untuk diakui yang berujung kekocakan yang natural. Kekakuan mereka mungkin disebabkan karena history masa lalu—latar belakang-- mereka yang pahit. 

Ali dan keluarganya terusir dari Palestina, beberapa lama hidup di pengungsian Libanon, dan akhirnya memutuskan untuk pindah dan memulai menata hidup di Berlin. Dari sini, bisa dimaklumi kenapa ayah Ali sangat anti terhadap Yahudi. Mereka tinggal di Apartemen dimana Alexander juga tinggal selama berpuluh-puluh tahun tepat di atas apartemen mereka. Alexander hidup sendiri, sesekali dirawat oleh perawat, dan secara berkala dikunjungi oleh petugas sosial untuk memastikan apaka Alexander masih mampu hidup sendiri atau sudah saatnya diangkut ke dinas sosial.
Konflik bermula saat Ali ikut bergabung dengan geng sepupunya. Mereka melakukan aksi terencana, masuk ke apartemen Alexander, mengobrak-abrik seisi ruangan, dan melakukan vandalisme rasis yang serius. Akibat kelakuannya itu, Ali sekeluarga terancam di deportase. Ibu Ali yang sedang hamil tua, menghukum Ali dengan memerintahkan Ali memperbaiki kekacauan dan kerusakan di rumah orang tua yang sudah sepuh itu. Ali diharuskan membantu Alexander mengecat dinding, menyusun rak-rak yang rusak, dan membuat dinas sosial setempat yakin bahwa alexander masih mampu hidup sendiri dengar rumah yang tertata rapi. Ibu Ali menyembunyikan perihal itu dari Suaminya yang sangat membenci Yahudi.

Dalam masa Ali mengunjungi Alexander secara sembunyi-sembunyi dan membantu Alexander membenahi apartemennya yang hancur, hubungan emosional mereka perlahan terbangun. Mereka menjadi sahabat yang kocak. Perdebatan tentang islam vs yahudi tidak pernah bisa berujung. Namun di luar itu semua, mereka menyadari bahwa islam dan yahudi yang mereka rasakan saat itu, berbeda dengan apa yang mereka dengar di luar sana. Alexander diam-diam mendatangi kantor polisi dan mencabut laporannya. Namun laporan sudah sampai ke meja hijau dan tidak bisa dicabut lagi. Alexander terserang struk saat memberikan kesaksian dan memaksa hakim menghentikan tuntutannya kepada Ali dan akhirnya meninggal.

Film ini dibuka dengan lantunan ayat suci Alqur’an Alfatihah, dan ditutup dengan Kaddisch Fur Einen Freund. Kaddisch Fur Einen Freund adalah nyanyian (doa-doa) bagi seorang yahudi yang akan dikuburkan. Ali menyanyikan lagu itu untuk sahabatnya Alexander. Sahabat yang megajarnya banyak hal, sahabat yang mengajarkannya berpikir adil sejak dalam pikiran.

--------------
Dari dua film yang saya tonton hari itu, saya mengambil satu asumsi bahwa film Jerman memiliki selera humor yang manis dan spontan dibanding dengan film Eropa lainnya. Kau tidak perlu menyediakan kesabaran saat menyaksikannya, seperti kau harus melakukannya saat menonton film Prancis. Tidak usah khawatir kebosanan akan menyergapmu di tengah-tengah atau bahkan mungkin dari awal, tetapi harus menunggu sampai ending dan kemudian bernapas lega lalu berujar, wauuu filmnya bagus. Di film ini, spontanitas, selera humor yang pas, dan pesan yang tersampaikan dengan jernih, membuat saya rela menyimpan sobekan karcis saya dan menyerahkannya ke panitia. Film ini layak mendapat apresiasi.

Semoga tahun depan bisa bertemu dengan film-film Jerman yang lebih baik lagi. Semoga perfilman indonesia bisa belajar dari yang lebih baik, dan bisa move on dari genre hantu jadi-jadian, beralih ke film yang lebih cerdas dan edukatif. Semoga Indonesia bisa membuat event yang setidaknya sama seperti Festival Film German ini atau festival Film Prancis, yang selalu disosialisasikan secara luas dan GRATIS, gratis seperti udara.

 Danke Goethe

Jumat, 15 Agustus 2014

Jack Kilmer di Alto Palo



Awalnya aku tidak terlalu tertarik dengan remaja pemeran Teddy di film Palo Alto ini. Belahan rambutnya yang sangat mainstream aku rasa adalah penyebabnya. Karena disana ada James Franco dan sutradara yang sangat familiar namanya "Gia Coppola" adalah sebab musabab kenapa film ini menjadi film pertama yang aku pilih untuk aku tonton dalam satu bulan terakhir ini.

Namun, Teddy pelan-pelan mencuri perhatian-ku. Lupakan belahan rambutnya. Mari fokus pada aktingnya yang sangat alami, anak remaja 17 tahun yang sedang jatuh cinta dan mencari jati diri. Jatuh cintalah dengan biasa saja. Ketulusan tak akan kamu temukan dalam keberlebihan, melainkan dalam kesederhanaan. Menjadi anak baik-baikpun tidak berarti harus menjadi sok suci.


He was so shining. Aku percaya anak dari Val Kilmer ini akan menjadi aktor terbaik masa depan. aseek. Aku membayangkan young Brad Pit tiap kali melihat wajahnya. belahan dagunya dan tulang pipinya mirip. Stilenya 90's bingits dan agak kikuk. Hastagaaaah. :)))))  

Film ini tidak mengandalkan pesan pada dialognya. Gia malah lebih banyak menonjolkan detail dan gestur pemerannya. Sinematografinya keren, dan itu lahir di tangan seorang sutradara muda 27 tahun, cucu dari sutradara paling berpengaruh di dunia, Francis Ford Coppola. Film ini dibuat dengan budget rendah. Meskipun berasal dari keluarga film director ternama, Gia Coppola lebih memilih untuk melakukannya secara mandiri. Film ini diadopsi dari James Franco's sort story of the same name. Yah James Franco si bad boy face itu.
#Ini bukan resensi, ini cuma komentar tidak utuh, ditulis dalam ketergesaan dan penyakit malas nulis akut.

Minggu, 17 November 2013

Mesin Pengingat #1



Serasa baru kemarin dentuman suara petasan dimana-mana menyambut tahun baru 2013. Tiba-tiba sekarang sudah berada di penghujung tahun 2013. Umur juga semakin bertambah. What have I done for these almost 28 years then? heemmm. oooh saya tahu. I’ve wachted a lot of movies,  dan sangat sedikit yang bisa nyantol di memori saya terutama terkait nama, judul, sutradara, bintang, tahun, tempat, dan tanggal. does it sound embarrassing? whatever....

Dua minggu ini  di sela-sela kerja, atau di kosan saat pulang kerja, saya menyempatkan diri nonton film. Beruntung, there is a lot of movies storage called server 70 at the office. hasrat nonton saya benar-benar terpuaskan.

oke ada beberapa film yang sempat saya tonton dua minggu belakangan ini: Memento, 13, The Heat, Wolverine, dan Prisoner (server 70); Thor dan Adriana (bioskop). saya tidak akan mampu  meresensi semuanya. saya terlalu malas untuk itu. godaan hujan gerimis lebih kuat mengajakku melakukan hibernasi. saya hanya akan memberikan sedikit komentar, semoga bisa menjadi alat bantu untuk mengingatnya kelak.

Memento
Ah Rumit
Film yang rilis di tahun 2000 ini direkomendasikan oleh wawan. katanya film ini adalah film favorit dia. dia bahkan menjadikan tattoo bertuliskan remember Sammy Jankis di tangan kiri leonard (Guy Pierce) sebagai quote andalannya. server 70 lagi-lagi memilikinya. kesan pertama menonton film ini beraaat ma meeen. menoleh sebentar, saya langsung kehilangan alur cerita dan bingung. jujur saya tidak betah menontonnya. jika tidak membaca review dan rekomendasi wawan yang mengagung-agungkan film ini, saya pasti menyerah. Alurnya maju mundur, terdiri dari dua sekuense dan bertemu ditengah dengan ending yang sangat amat tidak jelas. saya sempat protes ke wawan, kenapa film dikatakan keren jika disajikan dengan alur yang rumit, susah dimengerti, dengan ending yang terserah mau diinterpretasikan seperti apa. Menurutku, film yang bagus adalah film yang mampu menyampaikan pesan ke penonton dengan baik dan utuh. yah selera beda-beda, saya ternyata tidak begitu menikmati film-film christoper Nolan, sama seperti saya kebingungan sewaktu keluar dari bioskop seusai menonton inception.  kecuali film batman-batmannya, lumayan saya sukai.

13
deg-degan
film ini gila. menegangkan. sebenarnya tidak terlalu istimewa. Cuma saja jenis judi yang dimainkan di film tersebut benar-benar diluar akal sehat, namanya roulette games asal Rusia. ah saya terlalu malas menuliskannya. intinya Vincent anak muda yang dililit utang ingin memperoleh uang dengan jalan pintas, dia mencuri surat berisi instruksi melakukan sebuah pekerjaan sangat  rahasia.  Sesampainya di tempat rahasia tersebut, dia diberi nomor urut 13 dan disuruh mengikuti permainan paling gila dan tidak berperikemanusiaan. ada beberapa partisipan yang mengikuti game ini, dan dinikmati dengan sangat kejam oleh penonton-penonton dari kalangan rich, mereka bertaruh atas nomor participant yang dipilihnya. di ronde pertama, setiap participant disuruh membuat lingkaran dan diberi revolver dan satu peluru, mereka diminta memutar revolvernya,  kemudian setiap orang harus menembak orang didepannya. dironde kedua diberi 2 peluru, ronde ke tiga diberi 3 peluru, begitu seterusnya, dan yang memenangkan permainan adalah yang tidak mati sampai ronde terakhir. Vincent dengan nomor urut 13 berhasil memenangkannya. sayangnya dia harus ditembak mati oleh penonton lawan taruhannya di ending. film ini ditulis dan disutradarai oleh Gela Babluani. yahhh film setres yang lumayan menambah pengetahuan perjudian saya.

Adriana
Mengecewakan
Dari awal membaca synopsis pelem ini, saya langsung berniat menontonnya di bioskop. saya sangat mengapresiasi Sophia Latjuba karena telah mau memproduseri film berjudul Adriana. cerita yang diangkat dari Novel Adriana karya Fajar Nugros dan disutradarai oleh dia juga. Bercerita tentang sejarah patung-patung dan landmark yang ada di Jakarta. Ini patut diapresiasi ditengah-tengah menggilanya Dewi Persik dan Julia Peres di dunia perfilman sinting Indonesia.
Sayangnya, film ini mengecewakan. kelihatannya digarap dengan tergesa-gesa, tidak serius, dan asal jadi. Dialognya kasar, banyak sekali kejanggalan yang sangat fatal, terkesan memaksakan dan gak nyambung. Agus Kuncoro aduhhhhh actingnya aneh. Film ini diselamatkan oleh Indra Lesmana. Yah Soundtracknya diciptakan oleh Indra. salah satunya angel on my side yang dinyanyikan sendiri oleh Eva Celia, saya sangat menyukainya. oh yahhh seluruh anggota keluarga Sophia bermain di film ini. mereka seperti sedang reuni. haha

Thor
Salah alamat
Satu-satunya alasan saya menonton film ini, adalah karena konon ditutupnya lapangan Banteng beberapa bulan lalu karena disana ada Crish Hamsworth (Thor) sedang shuting. Saya pikir Thor inilah hasilnya. sepanjang film saya terus menunggu mana lapangan Bantengnya? Sampai lampu exit menyala, tak ada sedetikpun scene lapangan Banteng, Indonesia bahkan tidak disebutkan sama sekali. Penonton (saya) kecewa sodara-sodara. Telisik punya telisik ternyata Hamsworth waktu itu tidak sedang shuting untuk film Thor, melainkan untuk film Chiber dondonkkkkk. hahahah. salah alamat ternyata.
over all, film ini asik, saya sangat menikmatinya. Natalie Portman kelihatan lebih cantik. saya menyukai kisah percintaan mereka yang kelihatan sangat tulus.

The heat
Kocak
Sandra Bulllock dan Melissa McCharty tanpa diragukan lagi selalu berhasil bermain dalam film komedi.  Di film ini Bullock berperan sebagai Special agen FBI, yang selalu berhasil dalam setiap kasus yang ditanganinya, namun tidak ada seorangpun yang menyukainya di kantor, karena perilakunya yang aneh, sombong, dan ngebos. sementara McCharty berperan sebagai detektif di Boston yang dikenal kejam, pemarah, dan menghabiskan waktu di jalan  menciduk para pengedar narkoba bahkan para lelaki hidung belang sekalipun. mereka dipasangkan untuk mengejar gembong narkoba di Boston. lucunya berhasil, namun tidak dengan adegan ledakan bom dan mobilnya, untuk film sekaliber hollywood tidak harusnya dibuat seceroboh itu.

Prisoner
Penasaran setengah mati
saya membayangkan penjara dan kehidupan narapidana-narapidana yang ada di dalamnya, ketika mencopy film ini ke flash disk. bayangan saya ternyata salah. Film ini bercerita tentang misteri penculikan anak dari keluarga Keller Dover (Hugh Jackman) dan Franklin Birch (Terrence Howard). Kasus ini ditangani oleh detektif handal Loki (Jake Gyllenhal).  film ini menyajikan teka teki yang sangat kompleks. menggiring penonton untuk mencurigai hampir semua orang yang ada dalam film tersebut sebagai penculiknya. meskipun berdurasi cukup panjang dua setengah jam, film ini berhasil membuat saya terpaku di depan layar dan di buat penasaran setengah mati.

Kammanjo

Rabu, 02 Oktober 2013

TAOK


Kami ingin Anda memutarnya, membicarakannya, menyebarkannya kepada teman-teman di seluruh pelosok Nusantara. Kami bekerjasama selama tujuh tahun untuk membuka sebuah ruang agar masalah ini bisa dibicarakan tanpa rasa takut, dengan harapan bahwa hal ini dapat membantu Anda semua memperjuangkan kebenaran, rekonsiliasi, dan keadilan--Joshua Oppenheimer.

Saya kira, Ini merupakan hadiah paling berharga bagi bangsa ini,  dan mungkin akan mengguncang Indonesia, tepat sehari setelah sebagian orang--yang terus menutup mata terhadap kebenaran sejarah-- memperingati hari yang mereka sebut hari Penghianatan G 30 S/PKI. Ironisnya, hadiah ini didedikasikan oleh seorang sutradara asal Amerika, Joshua Oppenheimer,  yang menghabiskan waktunya selama tujuh tahun (2005-2012) di Medan Sumatera Utara untuk sebuah film dokumenter berjudul The Act of Killing/ Jagal.

Setahun sebelumnya, majalah Tempo menerbitkan Edisi khusus berisi pengakuan para algojo-algojo peristiwa 1965 yang merupakan pengembangan dari The Act of Killing. Sayangnya, tidak banyak orang yang bisa mengaksesnya, seperti ditelan bumi, majalah edisi oktober 2012 tersebut tetiba menghilang dari peredaran dunia real. Mungkin masih ada pihak yang belum rela membuka fakta sebenarnya, terkait apa sebenarnya yang terjadi di tahun-tahun paling berdarah di negeri ini, saat-saat dimana setengah juta orang dibunuh dan dihilangkan secara kejam. Tapi waktu berlahan akan mengungkap segalanya, arwah orang-orang tak bersalah itu akan terus bergentayangan menghantui dan menjadi mimpi buruk bagi para pembantainya, bagi para penguasa yang ditutup mata batinnya akan kebenaran sejarah. 

Jagal sejak setahun lalu telah menuai banyak penghargaan di dunia internasional, sementara di Indonesia sendiri, tempat dimana persitiwa tersebut terjadi, tidak mudah untuk diakses, jika tidak dikatakan terlarang. Ada beberapa lembaga yang berani memutar dan mendiskusikannya, tetapi tidak banyak dan tertutup, takut diserang kelompok-kelompok tertentu. Sejak pertama kali di putar pada Toronto International Film Festival 2012, sampai saat ini The Act of Killing telah memenangkan banyak penghargaan internasional, antara lain Panorama Audience Award dan Prize of the Ecumenical Jury dari Berlin International Film Festival 2013, Robert Award dari Film Academy of Denmark, Bodil Awards dari Asosiasi Kritikus Film Nasional Denmark, Penghargaan Aung San Suu Kyi pada Festival Film Internasional Hak Azasi dan Martabat Manusia 2013 Yangon Myanmar, Grand Prize pada Biogra film Festival 2013 di Bologna Italia, penghargaan Golden Chair dari Grimstad Short and Documentary Film Festival 2013 di Norwegia, dan Basil Wright Prize dari Royal Anthropological Institute Film Festival 2013 di Edinburgh Skotlandia. Bahkan, Situs agregator ulasan Rotten Tomatoes memberikan penilaian positif 97% dengan nilai rata-rata 8.8/10 berdasarkan 104 ulasan. Konsensusnya adalah, "Keras, mengerikan, dan sangat sulit untuk ditonton. The Act of Killing adalah bukti menakutkan dari kekuatan film dokumenter yang mendidik dan frontal. 


Kamis, 12 September 2013

SAPARATOZZZZZZZZZ


Di tengah hebohnya pemberitaan vicky dan begitu akutnya penyakit latah di negeri ini, saya malah dirundung rasa penasaran dan kagum terhadap sosok nyentrik bernama Tony Blank. 

Mungkin bagi sebagian orang, Tony Blank sudah sangat populer, terutama bagi mereka yang rutin mengikuti TBS alias Tony Blank Show yang diunggah di facebook secara berseri oleh Tim X-Code Yogyakarta. Tapi bagi saya ini masih baru. Hehehe telat banget yah. Saya tidak bisa berhenti tertawa di depan layar monitor menyaksikan kesaktian tony dalam menjawab semua pertanyaan-pertanyaan si pewawancara. Tidak ada jawaban tidak tahu. Mas Tony adalah ensiklopedia berjalan versi dirinya sendiri. It’s amazing

Tidak jauh berbeda dengan Vicky, Mas Tony sangat senang berbicara menggunakan bahasa yang agak berbeda dan ngelantur kemana-mana, perlu mengernyitkan dahi sejenak untuk memahaminya. Bedanya, Tony blank dalam setiap racauannya selalu menyelipkan pesan moral dan ketulusan, meskipun selalu diikuti dengan imaginasi yang melebar kemana-mana dan tidak terduga-duga, sementara Vicky meracau dengan tingkat kesombongan dan ketidaksadaran yang akut. Saya agak susah membedakan, yang tidak waras sebenarnya siapa, Tony atau Vicky?


Minggu, 01 September 2013

Elysium


Dari Elysium, engkau akan melihat betapa bumi itu sangat indah, jangan pernah melupakan, bumilah tempatmu berasal.
Di elysium, kehidupan seperti surga. Rerumputan dan pepohonan terhampar indah. Sungai-sungai mengalir jernih membelah kota. Semua jenis penyakit bisa disembuhkan. Tak ada polusi dan hingar bingar suara kendaraan atau pabrik. Semua pekerjaan dan keperluan manusia dikerjakan oleh robot. Kegiatan penduduk Elysium hanyalah bersenang-senang dan tentunya mempertahankan apa yang mereka miliki. Menjaga agar penduduk bumi yang menjijikkan tidak menembus atmosfer Elysium dan mencemari udara Elysium dengan bau mulutnya.
Sementara di bawah sana, di bumi, penduduknya sekarat. Populasi manusianya tidak terkendali, berbanding terbalik dengan sumberdaya alamnya yang habis tak tersisa. Kemiskinan, polusi, sampah, reruntuhan gedung, penyakit, adalah teman sehari-hari mereka. Orang-orang kaya, semuanya telah pindah ke Elysium.
Ide cerita seperti ini bukanlah yang pertama, di tahun 2013 setidaknya ada dua film yang memiliki ide yang sama. Up Side Down dan Oblivion, dimana si miskin dan si kaya hidup terpisah, yang miskin tetap di bumi dengan segala kemelaratannya, sementara si kaya membuat kehidupan baru yang super duper canggih di luar angkasa. Tapi Elysiumlah yang paling sukses menurutku, dari segi contain, skenario, dan yang terpenting Ellysium tidak hanya memanjakan mata dengan action dan sinematografi yang keren, tetapi juga mengekploitasi humanisme.  

Senin, 29 Juli 2013

Before Midnight


Finally this movie launched in June 2013. I already got it from my friend view days ago, after I begged him to download it from the office. I have waited this sequel for a long long time. Not just me I think, perhaps everyone who knows this romance movie also did it. Unfortunately, the English subtitle is not available yet, even less bahasa. So, i had to practice my listening again, even though it didn’t work in some part. Hahaha. But at least I have known its story line.
After watched before Sunset, probably everyone expected that its sequel could be nicer. Jesse would marry Celine, and they would have a gorgeous  family. Jessie would become a famous author and Celine would become a brilliant activist. And their life must be really challenged. If your imagine like that too, may be you’ll get disappointed with this sequel. Yaaa, they're married, but their life and relationship is not as smooth as Cerrybelle's thigh.
At the first time, I felt very broken heart with it. As an Indonesian, I always hope that every movie must sell an idealist life and happy ever after ending. Hahahha.
But, this movie for once again, show us its brilliant, that life is not easy, that life couldn’t be like a fairy tale. They don’t sell the high fantasy. And that's the point and critics of this movie. The people like celine who have an idealism and concern for the better word, could be alienated by this system. You can say that Celine gave up, but Celine still the same person “crazy and briliant”. And it happens to many people. 

I will not tell you about the story yet, I'll just keep you wondering, hihih. Just watch it.