Senin, 20 Mei 2013

Teman adalah Kekuatan


Awalnya saya ingin memberi judul tulisan ini “ The Benga’s day out”. Tapi setelah saya pikir-pikir, apakah yang lebih penting selain obrolan ngalor ngidul selama seharian menghabiskan waktu bersama mereka. Lagi pula saya sudah mendapatkan kritikan sangat keras atas tulisan saya beberapa waktu lalu tentang “Ini BaruNamanya Liburan”. Katanya tulisan itu sangat JELEK, tak ada apa-apa didalamnya, sampah, dan sangat Narsistik. Belum lagi efek dari tulisan semacam itu merugikan banyak orang (diskusinya akan panjang jika membahas yang ini). Oke oke saya menyadari itu sejak menuliskannya di pargraph pertama. Dan inilah yang menarik dari pertemanan ini, pujian dan makian mungkin akan datang disaat yang bersamaan. Rasanya nyeri-nyeri sedap.
Jujur saya bahagia pasangan orang tua ini berada disini, meskipun cuma beberapa hari. Mereka sedang mengurusi kerjaan masing-masing. Dan saya kecipratan kecapean karena terpaksa begadang lagi setelah sekian lama memensiunkan istilah begadang dari kamus saya. Hahaha
Adam bergelut dengan Kehutanan dan Pertanahan, sementara Dhani bergelut dengan HIV AIDS. Bisa dibayangkan begitu kayanya informasi yang bisa saya peroleh.
Dari Dhany, saya baru memahami, kalau pengidap penyakit HIV AIDS itu masih bisa tertolong selama si ODHA-nya (orang dengan HIV/AIDS)melakukan terapi. Selama ini saya berpikir, jika seseorang sudah terinfeksi virus HIV maka tinggal tunggu saja ajal menjemput. Ternyata tidak seperti itu, yang perlu dilakukan oleh seorang yang terinfeksi HIV/AIDS adalah melakukan terapi agar virusnya tidak berkembang dan memastikan agar virusnya tidak tertular kepada orang lain. Virus HIV/AIDS hanya tertular melalui Air kelamin, darah, dan ASI. Jadi jangan takut bersentuhan apalagi bergaul dengan pengidap AIDS.
Dari adam, jangan ditanya lagi, dia selalu ceramah tentang banyak hal. Adamlah yang menentang tulisan catatan perjalanan saya ke DIENG beberapa minggu lalu. Dia mengejar-ngejar saya seperti penjahat untuk mendiskusikan dan menceramahi saya tentang tulisan itu. hahahha. Tapi setidaknya saya punya tulisan untuk dikritik. Dia tidak henti-henti mempromosikan kota tempat tinggalnya yang katanya paling keren di Indonesia, yaitu Bantaeng. Katanya lagi, Kepala Daerah Bantaeng sebenarnya lebih hebat dari Jokowi, cuma saja dia tidak diekspos seperti Jokowi, dan itu membuatnya jauh lebih keren. Sambil bergelantungan di transjakarta, kami bercerita tentang kota impian Kuba, tentang Iwan Fals, hutan, dan diselingi gossip teman-teman lama dan cerita asmara.
Di sini, di ibu kota berpenduduk 10 juta jiwa ini, saya sangat sering merasa sendiri. wakakaka. terserah, saya mau dicap sebagai anggota geng galauers sedunia. Memang seperti itu yang terjadi. Saya khawatir, kota ini lambat laun membuat saya menjadi seperti mesin. Tidak adalagi hasrat lain selain bekerja bekerja bekerja dan hibernasi di hari sabtu dan minggu.
Saya butuh mercusuar yang mampu memercikkan bola api ketika semangat berada di titik nadir. Dan saya percaya, itu bisa datang dari hubungan pertemanan yang tulus. Seperti kata Spongebob, Teman adalah kekuatan.

Selasa, 14 Mei 2013

Hitam... Hidup...

Sambil berlari sang bocah hampiri bapak
Tagih janji yang dipesan ketika pergi
Sementara istrinya hanya memandang dengan senyum pasti


Seperti sedang disetrum listrik berkekuatan tinggi, semangatnya langsung membumbung ke ubun-ubun, saat mendengarkan saya menggumamkan lagu Nelayan itu, lirih.

Katanya, "Nelayan" adalah salah satu lagu terbaik Iwan Fals yang tidak banyak dikenal orang. Saat menyanyikan lagu itu, saya bahkan tidak tahu judulnya apa. Beberapa bulan terakhir saya hanya sering mendengarkan lagunya Iwan Fals secara acak saat jogging di Lapangan Banteng tiap hari Jumat.

Dari situ, pembicaraan tentang Iwan Fals berlanjut dan hidup, diselingi cekikikan histerisku yang amat sangat tidak penting. Adam adalah big fans dari Iwan Fals. Saya hanya perlu menyebutkan sedikit saja lirik yang saya tahu, dia langsung bisa menyebutkan judul dan menyanyikannya lengkap dan utuh.

Iwan Fals adalah musisi jenius yang mungkin hanya akan dilahirkan di muka bumi Indonesia yang sakit ini sekali dalam seabad atau mungkin berabad-abad. Kualitas karya-karyanya melampaui zamanya. Efek Rumah Kaca bisa saja kritis memotret kondisi sosial melalui bait lagu dan nada, tapi mereka terlalu mengawang-awang. Beda dengan Iwan Fals, yang mencipta dan menyanyikan lagu dengan sangat jujur, cenderung provokatif, satir, dan yang paling penting tidak berjarak dengan lirik-lirik yang dibuatnya.

Atau jangan-jangan saat menulis lagu dia terlebih dahulu melakukan survey atau penelitian dulu apa yah? Dia pasti tipe pembaca berat.

Iwan Fals sudah melewati banyak hal, manisnya popularitas, sanjungan, celaan, ancaman, nikmatnya memperjuangkan idealisme, menjalani masa muda yang menggebu-gebu, sudah merasakan pasang surutnya hidup. Di masa tuanya, dia memilih lebih banyak berkompromi, termasuk dengan merk kopi yang iklannya tiap hari muncul di TV.

Sampai suatu pagi, terhembus kabar bahwa Iwan Fals meninggal. Jelas Indonesia akan terguncang hebat jika berita itu benar. Untungnya itu masih Hoaks. Tapi cepat atau lambat, saat itu pasti akan datang. Bukankah kematian mutlak akan terjadi bagi mahluk yang bernyawa?

Trus saya mau bilang, lagu ini memang keren :)

Bocah, telanjang dada di pesisir
Tunggu kembalinya bapak tercinta
Yang pergi tebarkan jala di sana
Berjuang di atas perahu tunggakan KUD

Ibu, dengan kebaya yang kemarin

Setia dari balik dapur menanti
Suaminya telah seminggu pergi
Tinggalkan rumah, tinggalkan sejengkal harapan
Langkah waktu lamban, bagai kura-kura
Ikan-ikan datang, mimpi...
Siang ganti malam, tetap sabar
Suamipun pulang, lelah...

Sambil berlari sang bocah hampiri bapak

Tagih janji yang dipesan ketika pergi
Sementara istrinya hanya memandang dengan senyum pasti
Sekilas terlintas hutang-hutang yang membelit
Sang bocah tak peduli, menangis keras tetap tagih janji
Perahu tunggakan KUD belum terbayar
Belum lagi tagihan rentenir sebrang jalan
Nelayan kecil, hasil kecil, nasibpun kecil
Terjerat jala dihantam kerasnya gelombang
Perahu tunggakan KUD belum terbayar

Hitam... Hidup...
 

Kamis, 02 Mei 2013

Selamat Hari Buruh

Buat apa UMR buruh naik jika harga bbm ikut naik. Mereka mengeluh gaji mereka mungkin naik, tapi inflasi naik berkali-kali lipat dari kenaikan gaji mereka. Katanya mereka tetap saja dicengkram kemiskinan.

Ah, aku tak peduli, toh tidak ada urusannya denganku, selama gajiku masih cukup buat menghidupi anak, istri, pembantu, dan melunasi cicilan-cicilanku. Selama aku masih bisa menyekolahkan anakku di sekolah swasta yang tentunya jauh lebih berkualitas dibanding sekolah negeri.

Aku tak habis pikir, kenapa mereka mau bersesakan di jalan, terpanggang terik matahari, di setiap hari pertama di bulan Mei. heh, toh hidup mereka tidak berubah dengan itu. Atau jangan-jangan mereka dibayar dengan kaos dan nasi boks biar manut.

"Jam kerja kami selalu lebih dari delapan jam, tanpa pernah dikasih uang lembur, jangankan uang lembur, gaji saja masih di bawah UMR. Pergi subuh pulang tengah malam, bahkan harus nginap dikantor, masih tanpa uang lembur. Protes sedikit, langsung dipecat tanpa pesangon, kata orang-orang ini akibat sistem kerja outsourcing. Pemerintah diam saja, mereka tidak melindungi kami yang di bawah dan miskin". Demikian keluh cleaning service di kantor.

Ingin kumenimpalinya "yah beginilah hidup, harus ada yang miskin dan kaya, baik dan jahat, hitam dan putih, dengan begitu keseimbangan baru akan terjadi".

Hidup ini baik-baik saja kok. Kita cuma butuh bersabar, sabar, dan sabar. Sabar di tindas, sabar dikibuli, sabar dibohongi, sabar miskin, sabar sabar dan sabar. Dunia ini milik mereka yang punya duit dan kuasa, selebihnya jadi kacung.

Yang diperlukan oleh sistem ini adalah teruslah menjadi bodoh dan tidak tahu. Dengan begitu, dunia yang katanya masih baik-baik saja ini masih bisa terjaga seperti yang mereka inginkan.

Selamat hari buruh 

Opposite




Senin, 01 April 2013

INI BARU NAMANYA LIBURAN



Ini baru namanya liburan, ketika adrenalin sudah sampai di ubun-ubun. Jika biasanya saya selalu ngomel ketika melihat pengguna jalan ugal-ugalan, kali ini saya hanya duduk takzim mengamini seluruh keputusan gila abang ojek. Dari lapangan Banteng Jakpus, dijam paling macet dan padat, pukul 4 sore, long weekend pula, serupa bermain rolling coster, kami menerobos lampu merah sampai hampir disambar segerombolan motor dari arah berlawanan, ngebut di trotoar pejalan kaki, bermacet-macet ria di rel kereta api yang sirenenya sudah meraung-raung petanda kereta akan segera lewat, dan dalam waktu 20 menit sampai di terminal Rawamangun dengan selamat dan jantung yang hampir copot. 

Bersama Ari Pimpinan Rombongan (Pimpro), Marti, Hence, Fenot, Diah, Santi, dan Niar.
Inilah dia Gerombolan The Nekad Treveler



Rabu, 20 Maret 2013

Nyampah

Tuhaaaaan
Entah saya yang aneh, atau jangan-jangan saya yang lebay menanggapi sikap orang-orang lebay ini?  Meskipun ke-lebay-an mereka sama sekali tidak merugikan saya barang seujung bulu rambutpun, tapi saya tidak bisa bohong, hati dan jiwa saya terganggu. huaaaaaaaaa

Bagaimana tidak, setiap kali membuka recent update bb, atau media sosial lainnya, saya menemukan hal yang sama berulang-ulang. Tiap lima jam display picture di up date dengan wajah yang dilipat kemana-mana. Mulut dimonyongkan ke kiri atau ke kanan, sebelah mata disipitkan, dengan angle poto diambil dari kiri atas atau kanan atas (mungkin biar kelihatan kurus). Rasanya pengen gigit-gigit meja. Rasanya ingin saya hapus saja dari pertemanan. Sekali dua kali foto kayak gitu, tak ada masalah. Tapi setiap hari ganti display picture dengan muka dimonyong-monyongkan, itu membuatku hilang selera. 

ah kenapa pula saya yang repot yakkkkk. Kalau terganggu, tidak usah akses media sosial itu geblek. setresss

Atau semua menu makanan difoto dan dijadikan display picture, enaaaaak, maaciiih honey, @ resto bla bla bla.

Tangeeeeeeen, lupyu darling, maacih hadiahnya babi#ups.

Ke-lebay-an - ke-lebay-an ini benar-benar memuakkan.

Kenapa pula saya yang repot dan terganggu hati?

Atau mungkin benar kata teman saya, kembali ke zaman prasejarah akan lebih menenangkan, tak ada keinginan ataupun akses untuk mengetahui urusan pribadi orang lain.





Sore-sore nyampah nyampah

 

Kamis, 14 Maret 2013

HUSHPUPPY "Quvenzhane Wallis"





 

Gadis kecil ini sangat layak diberi ganjaran sebagai artis terbaik atas perannya di film Beast of The Southern Wild besutan sutradara Ben Zeitlin. Menurutku, kemampuannya jauh melampaui Jenifer Lawrence pemenang pemeran wanita terbaik ataupun nominee-nominee lainnya dalam  ajang piala Oscar 2013. Apalagi dia baru berusia enam tahun saat berperan sebagai Hushpuppy di film tersebut.

Quvenzhané Wallis, saya jatuh cinta berkali-kali pada gadis Afro-Amerika ini. Selayaknya orang yang jatuh cinta, saya tidak bisa melepas bayangan wajah dan kesedihannya selama berhari-hari. Saat menyaksikan film itu, seperti ada air bah yang ingin tertumpah dari mata saya, tapi tertahan, tertahan karena malu kepada Hushpuppy yang terlalu kuat dalam menjalani hidupnya. Parahnya, menyaksikan Hushpuppy berefek melankolik terhadap moodku. Kasihan sekali Hushpuppy.

Sulit dipercaya, anak kecil berusia enam tahun mampu melakukan acting semenawan itu. Melalui tangan dingin Benh Zeitlin, Waliss menjelma menjadi anak pemberani dan kuat yang tinggal di komunitas kumuh bernama Bathub. Bathub adalah tempat dimana banjir dan badai bisa datang kapan saja. Tidak jauh dari Bathub didirikan lokasi perindustrian yang dipagari oleh tanggul. Lokasi perindustrian itulah yang menjadi awal dari neraka yang dirasakan oleh komunitas Bathub. Semua air tertahan di Bathub dan tidak bisa mengalir kemana-mana karena tanggul itu.  


Selasa, 12 Maret 2013

MENJEMPUT IMPIAN




Ingin kusumpal mulutnya dengan bangkai tikus yang sampai saat ini masih aku simpan manis di gudang. Yah suatu saat bangkai tikus itu pasti akan berguna untuk memberinya pelajaran. Pelajaran yang mungkin belum pernah dia rasakan selama hidupnya.
Mulutnya terus nyerocos tak karuan. Pernah aku menyaksikan film action based on true story berjudul public enemy di ruang perpustakaan mereka, pemeran utamanya Johnny Depp, berperan sebagai perampok bank.  Perampok-perampok itu tak pernah segan memberondong musuhnya dengan senjata tanpa ampun. Semacam itulah berondongan omelannya. Aku heran, kok ada bapak-bapak cerewet luar biasa seperti itu. Setahuku yang ditakdirkan memiliki sifat doyan ngomel itu adalah perempuan. Mungkin dulu dia lagi nyusup ke kelompok perempuan sewaktu Tuhan membagikan sifat ke mahluknya.
=========