Senin, 09 Februari 2015

Music gives Soul to The Universe

Music is moral law. It gives soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and charm and gaiety to life and to everything (Plato).

Musik secara naluriah ada pada setiap mahluk. Angin, api, dedaunan, pasir, pun mampu menghasilkan harmonisasi bunyi yang indah, kau bisa saja menyebutnya sebagai musik. Burung, yang sebagian besar bersuara falseto dan tak pernah diajarkan teknik bernyanyi yang benar oleh mamaknya, mampu bersenandung dengan sangat indah, dan kau selalu merindukannya. Suara semilir angin bercumbu dengan desiran ombak, kau mengejarnya, kau bahkan rela menukarnya dengan tabunganmu selama setahun. Musik, saat dia menghentakmu, alih-alih merasakan sakit, kau malah menikmatinya dan ketagihan. Musik, adalah sahabat yang tahu kapan dia dibutuhkan, di saat kau merasa sedih, atau sebaliknya. Musik dan lagu, memiliki memorinya masing-masing, kau tidak perlu repot-repot mengingatnya, kau hanya perlu merasakannya.

Inikah Cinta, lagu R&B yang dinyanyikan oleh ME dan sangat hits di era 90an, bagiku lagu itu tidak hanya ngehits dimasanya, dia memiliki kenangan yang kuat yang mengingatkanku pada masa-masa SD dulu. Di belakang sekolah dekat kompleks perumahan, setiap sore saya dan sahabat kecil saya Irma, di atas pohon jeruk, kami bertengger di sana, bersahut-sahutan, inikah rasanya cinta, oh inikah cinta, cinta pada jumpa pertama, ah, ah, ah. Kami sangat menguasai lagu itu, sampai cengkok-cengkoknya, sekiranya lagu R&B punya cengkok.

Shape of My Heart-nya Backstreet Boys, saat itu, saya masih SMP dan setengah mati suka sama lagu itu, dan ingin menghapalnya. Tapi, saat itu saya belum bisa bertanya pada om google, saya belum pula tahu cara mengakses internet, kasetnya juga tidak punya, akhirnya saya hanya bisa mengandalkan pendengaran yang pas-pasan, mencatatnya, yang penting pelafalannya kedengaran mirip setidaknya mimik mulutnya rada-rada mirip, ya sudah itu saja.

Padi, Tak Hanya Diam, mengingatkanku pada seorang lelaki yang katanya penyiar radio, saya tak mengingat bagaimana kami bisa kenalan, dia hanya tiba-tiba sering curhat via telpon mengenai keluarganya dan Bapaknya yang terkena kanker yang akhirnya meninggal. Saat itu Padi baru-baru rilis video klip Tak Hanya Diam, dan sering menjadi bahan obrolan kami jika bosan curhat soal keluarganya. :D

NOFX, lagu-lagu punk, metal, underground, yang gebukan drumnya memekakkan telinga, tak ada lain, akan mengingatkan saya pada Kurt Kobokan. Si cowok bringas dan pemalu itu, menanam banyak memori di kepalaku melalui lagu keras. Dia pula yang memperkenalkan Sigur Ros melalui film Heima.

Gery, dia memengaruhi alam bawa sadar saya melalui lagu-lagu, seberapapun kerasnya saya menolaknya. Dia tidak hanya memaksa saya mendengar ulang lagu-lagu the beatles, blur, Radiohead, Silverchair, The Strokes, Weezer, oasis, coldplay, The Simth, Duran-Duran, Incubus, dll, dia juga punya segudang cerita soal sejarah dan personel band-band itu sendiri.


Dan, kurasa setiap orang punya cara sendiri memperlakukan lagu-lagu kesukaannya. Saya memperlakukannya sama seperti menyimpan baju di lemari pakaian. Ada baju untuk ke kantor, baju buat olahraga, baju buat ke kondangan, baju buat ke rumah nenek dan tante-tante, baju buat traveling, baju buat tidur, dan lain-lain. 

Saya menyimpan Frente, Zee Avi, Miskha Adam, Death Cab for Cuties, Aditya Sofian, Eisley, Sarah Mclachan, Dido, Alanis Morrisette, Naif, Chrisye, The Innocence Mission, di folder pengantar tidur. Lalu saya meletakkan Air Suplay, Duran duran, The Strokes, Keane, Morrisey, The Vines, Eddie Vedder, Cold Play di keranjang penyemangat saat olahraga. Saat karaoke, saya hanya perlu memanggil lagu-lagu hitsnya Beyonce, Sia, Rihana, Reza Artamevia, Christina Aguilera, dan semacamnya. Saat me time di kamar, atau lagi jalan di trotoar jalan raya, saya akan memanggil Oasis, Cold Play, Sore, The Strokes, The Vines, Iwan Fals, Incubus, Payung Teduh, Radiohead, Blur, dan teman-temannya.

Kau tentu punya baju favorit. Meskipun sudah usang, kau tetap saja memakainya kemana-mana, ke pasar, ke kampus, nongkrong di kafe, ke kantor, bersantai di rumah, kemanapun kau nyaman memakainya. Lagu pun begitu, kau tentu punya lagu/album andalan yang punya posisi tersendiri di hati dan kepalamu, tak peduli semasif apapun gempuran musik baru yang datang. Saya memiliki Don't Crying Your Heart Out-nya Oasis, Bed Shaped-nya keane, Trouble The Scientist Yellow Shiver-nya Coldplay, Ordinary World Duran duran, Merintih Perihnya Sore, Pengobral Dosa dan Nelayannya Iwan Fals, ah banyaaak.

Hanya dengan musiklah, saya bisa merasa menjadi manusia terkeren di dunia. Saya memiliki ritual, menyumpal telinga saya dengan headset, dan memutar lagu-lagu dari folder berjalan di trotoar, seolah-olah ada kamera tepat di depan wajah saya, sekali-kali jangan pernah diganggu, saya sedang menyelesaikan syuting video klip teranyer abad ini. Mirip seperti yang dilakukan oleh Chris Martin dalam video klip Yellownya di pinggir pantai. Saya sungguh merasa sangat keren. hahaha

Oleh sebuah lembaga survei di Amerika Serikat, menurut hasil penelitiannya, selera Musik mencerminkan kepribadian dan tingkat kecerdasan seseorang, dan yang menyedihkan mereka mengklaim orang-orang yang menyukai Beyonce adalah kelompok orang-orang bodoh. jleeeeeb. Suka sama Nicky Minaj, Miley Cyrus, Selena Gomes, haha kau akan dianggap keterbelakangan mental mungkin...

Sejujurnya, saya kurang sepakat dengan hasil penelitian itu, terlalu menjeneralisir! Masih masuk akal, jika menghubungkan selera musik dengan tingkat pengetahuan. Suku Anak Dalam Jambi, sangat tidak adil jika kau menganggap mereka bodoh hanya karena mereka tidak tahu lagunya John Legend. Tetangga saya yang sangat doyan dangdut koplo, tak bisa kau klaim IQ jongkok hanya karena mereka cuma tahu lagu pacar lima langkah, sakitnya tuh di sini, janda tujuh kali, dan hamil duluan. Karena mereka tidak membaca, tidak mencari tahu, tidak punya akses secara ekonomi untuk tahu, tidak sekolah, yang menyebabkan mereka tidak tahu, bukan karena bodoh! Tapi bisa jadi, orang-orang cerdas, juga memiliki selera musik yang tinggi, lihat saja Einstein dan Stephen Hawking, selain menyukai Mozart, mereka juga membuat lagu dan melodi sendiri. 

Grammy Awards 2015 baru saja digelar. Saya tidak begitu peduli dengan pemenang-pemenangnya, toh itu dibuat berdasarkan konsensus, dan tidak bisa lepas dari namanya subjektivitas. Saya hanya senang nonton permonces dalam acara itu. Grammy tahun ini, openingnya mantap sekali, Pharel William kembali memukau dengan happynya (tahun lalu dia juga menyanyikan lagu yang sama), Sia keren, dan ditutup dengan Glory oleh Jhon Legend. Ingatan saya belum bisa lepas dari performance paling dahsyat di perhelatan Grammy tahun 2014, Imagine Dragons dan Kendrick Lamar, membawakan, Radio Active. Saya sudah nonton video ini berkali-kali, dan masih saja terkagum-kagum. Performance mereka perfect, epic, menghentak, memesona, hidup!


Yang saya tunggu-tunggu dari Grammy Awards tahun ini adalah SIA, saya masih berharap dia mau bernyanyi layaknya penyanyi lain, dari pada hanya mempertontonkan wignya blondenya. Tapi bukan SIA namanya kalau dia biasa saja. Masih nyentrik seperti biasa, dia menyanyi menghadap ke dinding membelakangi penonton, dia percaya sepenuhnya kepada bocah berusia 12 tahun Maddie Ziegler dengan tariannya yang luar biasa keren. Saya tak mengerti tari, tapi tiap kali melihat tarian dalam setiap performance SIA, saya bisa merasakan tarian itu hidup, dan mencengangkan. Berikut salah satu performance SIA yang menakjubkan.

 

Oke, demikian dulu ulasan musik narsis alakadarnya ini. Banjir mengepung dari segala penjuru. Semua menjadi latah, lebai, panik, dan saling menyalahkan. Mari pulang...

9 Februari 2015
@office
Backsound:breaking news menyoal banjir

Jumat, 06 Februari 2015

Catatan Pete-Pete #2

Menurutmu, kenapa robot-robot yang masih sangat muda itu, dijejer di sepanjang jalan Salemba setiap pagi dan sore hari? Apa kau merasa terbantu dengan keberadaan mereka? Atau kau malah kasihan, mereka tak ubahnya seperti robot mainan yang dipunggungnya ada tombol untuk menggerakan siku sampai tangannya selebar 90 derajat, sebagiannya lagi seperti robot linglung memerhatikan mobil dan motor yang mengalir seperti muntahan lava gunung Merapi? Tidak, kau tak akan mengerti. Di belakang robot robot itu berbaris mobil-mobil atasan mereka, bus-bus kantor mereka, motor-motor mereka, menutupi hampir setengah jalan sumber kemacetan itu. Anak SDpun tahu, sekiranya mobil-mobil yang diparkir di belakang robot di sepanjang jalan itu disingkirkan, tentu jalan itu akan lebih lapang, dan tak perlu anak-anak yang baru tamat SMA itu dipajang seperti robot soak yang sedang linglung.

Masih menyoal robot tipe ini, belum jua kita move on dari perang antara cicak dan kebun binatanf, baru-baru ini muncul lagi hot news baru, video perselingkuhan antara robot dan kopaja! Secara terpola dan tanpa malu, kernek kopaja kopaja yang melintas di bunderah HI menyetorkan duit serupa membayar karcis di pos robot setempat. Kernek kernek itu tak ubahnya seperti berada dalam suasana perang, turun dari kopaja, berlari seefektif mungkin sambil plangak plongok kiri kanan takut kena ranjau kali, kadang-kadang sambil merunduk takut kena peluru mungkin, dan menyimpan setorannya  di pos robot, lalu melanjutkan pelariannya, lari secepat mungkin, mengejar kopajanya yang malu malu untuk berhenti.

Ah kau robot. Seandainya saja kau mencintai dan memperlakukan kami selayaknya saudaramu, atau sahabatmu, seandainya kau bisa membuktikan bahwa kau dapat diandalkan, seandainya saja kejadian selingkuh selingkuh itu tidak terjadi, sekiranya saja atasanmu tidak seperti tikus mengerat semua makanan yang ada, tentu kami rakyat jelata ini tidak akan terus menjaga antipati padamu.

Rabu, 04 Februari 2015

Catatan Pete-Pete #1

Seharusnya, kau memulai harimu dengan ucapan syukur ke Sang pemilik alam semesta, atas nikmat yang tak tehitung ini. Sepatutnya, kau menyambut mentari dengan senyum termanis yang kau miliki, jika saja dia, bintang kita yang baik hati itu, mati, melebur menjadi lubang hitam, tentu saja kau akan sesak, gelagapan, gelap dimana-mana, pembangkit tenaga listrik tak akan sanggup memenuhi kebutuhan cahayamu, tulang-tulangmu akan terasa linu, bunga-bunga dan pepohonan berlahan musnah karena kehilangan sumber makanan, lambat laun kau akan sirna wahai penghuni bumi. Masih ingat potongan lagu keluarga cemara jaman baheula dulu? Apalagi yang kurang, kalau kau punya matahari dan udara. Yahh it's damn true!!! Oh ya, kalau boleh memperluas makna dari lagu itu, keluarga yang sehat bahagia dan rukun, itu juga bisa berarti matahari bukan? Merekalah yang membuatmu lebih hidup.

Kau malah memulai harimu dengan sumpah serapah, hanya karna melihat vikinisashit muncul di headline surat kabar nasional. vikiNisashit mengajak jokowi untuk melakukan konspirasi hati, disampul paling depan koran itu, ada gambar viki sedang orasi di depan polisi-polisi. Kau tak terima kenapa justru orang-orang seperti dia yang selalu mendapat panggung. Meskipun kau tau, dimana-mana, justru orang-orang biasa saja atau malah sangat biasa yang sering lebih dikenal dan dipuja, sementara mereka yang punya ilmu dan semua syarat untuk menjadi besar memilih jalan sepi. Kau tau, dunia ini terlalu sesak dengan kemunafikan, tapi mengapa kau tak bisa menerimanya.

#selftalk
4 februari 2015, pukul 17.30, di atas angkot yang sopirnya ugal-ugalan, tiba-tiba muncul ide untuk memanfaatkan waktu selama berada di atas angkot sepulang dari kantor utk nulis apapun itu, katakan saja temanya tentang selftalk. Yah semoga bisa menjadi agenda rutin, ini  jenis autis yang bermanfaat, semoga.

Ps: pete-pete adalah bahasa makassar dari angkutan umum jenis mikrolet.




Selasa, 03 Februari 2015

Untuk Seorang Kawan

Seorang kawan, di hari yang random, saat malam belum sepenuhnya gelap, dan hujan masih saja mengguyur, tanpa prolog apapun, melalu pesan digital, tiba-tiba menanyakan "bagaimana kabarnya To Magguru?". Saya sontak tertegun, sejujurnya, saya pun memiliki pertanyaan yang sama. Saya tidak punya jawaban apapun selain kata mandek, terlalu naif jika saya terus menyalahkan waktu dan ide yang ngumpet entah kemana. 

y ahora,  estoy aquĆ­....
To Magguru semacam rumah yang mengingatkanku banyak hal, tempat berpendapat dan berkontemplasi, ruang untuk mengeksplorasi ide (i wish i can do it), dan tempat bernostalgia. Tapi kenyataanya, saya bahkan sangat jarang berkunjung ke sini. Saya menduga, si kambing hitamnya adalah, karena saya mencoba ingin menulis sesuatu yang serius atau sesuatu yang berhubungan dengan kemaslahatan orang banyak (asik). Faktanya, rencananya itu malah menghalangiku dari banyak hal, bahkan dari hal yang remeh temeh sekalipun. Ide itu hanya mentok pada pengumpulan data, referensi, dan survei kecil-kecilan yang tidak dicatat dan terlupakan.

Si kambing hitam ke dua, saya kira, adalah triplets Daehan, Minguk, Manse. Bagaimana bisa saya begitu terpukai sama anak umur satu setengah tahun itu. Kau tak akan memahaminya sebelum melihat kelucuan mereka dan cara orang tua mereka mendidik si kembar tiga ini.

Masih banyak kambing hitam lainnya, tapi kambing yang paling bertanggung jawab atas semuanya adalah alter ego saya. Pada dasarnya saya anak baik-baik, punya perpektif yang yahhh cukup jelas, (asik),  tapi si alter ego ini sering sekali membuyarkan semuanya.

Saya masih harus banyak belajar menulis, lebih keras lagi. Menulis akan menjagamu untuk tetap waras. Menulis seribu kali lebih efektif daripada membaca. Untuk bisa menulis, kau harus membaca terlebih dahulu.

Untuk Seorang Kawan, terimakasih untuk selalu mengingatkan.

Rabu, 31 Desember 2014

My very first 2015's note


Buenos diaz, welcome 2015. Woowww time flies!!!!

Salam dari pelosok nun jauh, Lonrong, Kabupaten Bone, Sulsel. Bukan london yah, tapi lonrong. Semoga resolusi 2015 diijabah oleh Sang Pemilik segala Kuasa.

Akhir tahun kali ini, saya memilih pulang ke habitat asli (kampung) dan menjauh dr hingar bingar perayaan tahun baru ibu kota. Awalnya saya hanya tidak ingin berada di jakarta pada saat malam pergantian tahun. Di sana terlalu bising dan macet, selain itu saya tidak pernah betah dengan efek uring-uringan yang selalu mengikuti dua sejoli itu. Menyingkir ke pinggiran ibu kota, ke Sawarna Jawa Barat, ke Balik Papan, atau ke tempat yang ongkosnya murah, sempat menjadi pilihan liburan akhir tahunku. Namun menjelang detik-detik hari raya natal, saya berbalik arah dan menerabas segala pertimbangan untuk liburan di tempat baru, dan memutuskan untuk cuti dan pulang kampung. 

Estoy aqui hay. Tidak ada yang lebih teduh dan menenangkan, selain melihat wajah ibu, ayah, adik, dan keluarga besar. Tidak ada yang lebih menyejukkan selain menghabiskan sore, duduk di serambi rumah, di bawah langit biru membentang luas, dicumbui semilir angin, dihangatkan secangkir teh buatan ibu, menamatkan novel The Five You Meet in Heaven karya Mitch Box yang entah sudah berapa bulan tak saya sentuh.   Di sini, saya menemukan diriku menapaki tanah. Surga dunia sesunggunya adalah ketika berada disekitar orang-orang tercinta.

Waktu bergerak begitu cepat. bagaimana mungkin 12 bulan serasa seperti 5 menit yang lalu. Saya sering bertanya-tanya seperti apa rasanya berada di black whole (mesin watu) dimana waktu berjalan sangaaat cepat. Saking cepatnya, benda-benda yang melintasi pusaran black whole seperti tersedot dan menghilang. Saya pernah membaca di salah satu edisi majalah national geografi, sesungguhnya benda-benda itu tidak menghilang. Benda-benda itu melintasi black whole hanya beberapa jam saja, tetapi bagi ukuran waktu manusia, itu setara dengan ratusan tahun di bumi, sehingga tak ada manusia bumi yang mampu menunggunya keluar dari pusaran black whole, karena keburu mati duluan. Entahlah, teori tentang black whole masih mengalami masa pertumbuhan, seperti fansnya jkt48 yang suatu saat akan menyadari betapa noraknya masa muda mereka, suatu saat akan berkembang dan bertransformasi. Enstein, si genius itu, yang ternyata butuh waktu 9 tahun mendaftar sana sini untuk menjadi asisten dosen, telah mampu menyimpulkan bahwa waktu itu relatif, jauh sebelum ilmuwan-ilmuwan hari ini melakukan perjalanan keluar angkasa dan membuktikan omongan si manusia penghayal itu. Lebih jauh lagi, konsep waktu antara "kita" manusia yang sangat lemah ini dan konsep waktu Tuhan tentu tak akan sama. Lantas waktu yang berjalan begitu cepat ini apa? 

Entah sejak kapan, pergantian tahun kemudian menjadi simbol perpindahan waktu yang dirayakan tiap tahun oleh penduduk dunia. Entah kenapa pula petasan dan kembang api menjadi pilihan bising dan bau menemani detik-detik pergantian tahun. Pernah sakali saya merayakan pergantian tahun baru, sebenarnya bukan merayakan tapi dipaksa menemani saudara, di pantai losari sewaktu masih kuliah. Sejak saat itu, saya berjanji tak akan keluar rumah saat pergantian tahun! Saya tak tahu cara menikmatinya. Beritahu saya cara menikmati asap mesiu dan macet yang menjalar sampai subuh itu?!

Lebih dari itu, jika sebuah negara melepas 10 ton kembang api ke atmosfer dalam satu malam, berarti negara itu telah melepas 10 ton senyawa kimia, SO2, dan CO2 ke udara. SO2 atau sulfur adalah penyebab hujan asam, sementara CO2 biasa disebut dengan gas rumah kaca menyebabkan panas terperangkap di bumi dan meningkatkan suhu bumi. Belum lagi senyawa kimia lainnya yang menyebabkan warna kembang api begitu cantik dan nagih, akan mencemari udara dan menjadi pemicu bermacam-macam penyakit. 

Banyak hal yang terjadi di 2014. Tahun yang penuh gejolak dan dinamika terutama dalam perpolitikan dan ekonomi indonesia. Di tahun ini semua orang tiba-tiba jago ngomong politik dan menghakimi sesama. Termasuk diriku mungkin. Ditutup dengan bencana longsor, banjir, dan kecelakaan pesawat Air Asia. Seharusnya itu  semua cukup menjadi bahan introspeksi diri. Dan yang paling mutakhir, tepat pukul 00.00 1 januari 2015, harga bbm turun. Entah ini adalah kado  indah pergantian tahun, atau hanya menunjukkan ketidak hati-hatian pemerintah dalam mengambil kebijakan. Yang jelas harga yang sudah terlanjur mencekik sepertinya tak akan mungkin surut lagi.

Resolusi tahun 2015, masih seperti tahun sebelumnya, karena memang resolusi Penting beberapa tahun belakangan ini belum terwujud. Xoxoxo. 

Semoga menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat, bermanfaat untuk kebaikan.


Nb: ditulis di android, sungguh menyiksa, banyak typo, sambil nonton video klipnya nicky minaj anaconda, hahaha, what the hell is she doing on that video?. Semoga dijauhkan dari kesia-siaan macam itu.


Minggu, 02 November 2014

Lazy Fan


Aku selalu memimpikan, bisa menikmati akhir pekan, di sebuah bukit dengan rumput yang lembut dan hijau, pohon pinus mencuat satu persatu, disatukan oleh tali-temali yang dibawahnya menggantung lampu remang, sementara bulan dan bintang mengintip dari kejauhan, duduk berselonjor, memandangi SORE, menyanyikan lagu-lagu Centralismo dan Port of Lima

Mimpi itu, hampir saja terwujud, jika bukan karena kedunguanku datang terlalu cepat, dan SORE mau membiarkan kami hanya duduk terasuki lagu-lagu mereka. Seharusnya aku tak perlu datang tepat jam 3 sore, menghabiskan tenaga menunggu SORE tampil di jam 10 malam, meskipun dapat bonus Tika and The Dissident menyanyikan May Day dan jatuh hati pada Dialog Dini Hari. 

Biarpun tidak persis sama, Taman Menteng saat itu sudah disulap, setidaknya, 30 persen menyerupai bukit akhir pekan-ku, plus menghadiahi kami goody bag (beda itu biasa). Aku terus-terusan berbisik dalam hati, semoga tidak ada yang berdiri, semoga suasananya terus terjaga seperti ini semua pengunjung duduk menghadap panggung, jangan ada yang berdiri, jangan ada yang berdiri, jangan ada yang berdiri...

Folk Agogo, Polkawars, Harlan, Witches, Angsa & Serigala, Luky Annash, Zeke Khaseli & The Planeteers, Dialog Dini Hari, berlalu dan sepertinya semua penonton masih terlalu malas atau mungkin kecapekan untuk berdiri. Sampai Tika muncul dan berteriak,

Kawan-kawan, mohon berdiri dong, manggung dengan penonton yang duduk itu seperti sedang berciuman tanpa lidah!!!

Bubar jalanlah cita-cita muliaku untuk duduk bersandar di punggung temanku sambil nonton SORE manggung. Dan benar saja, meskipun semua penonton kembali duduk saat Tika selesai dan tetap calm saat Dialog Dini Hari perform, sesampai di penghujung acara yang berarti saatnya SORE naik panggung, tiba-tiba Bang Awan nyelekit "ini pada mau tahlilan???" @@#?!

Menonton SORE sambil berdiri, tak apalah, yang terpenting, merintih perih menjadi salah satu pilihan Bang Ade dan kawan-kawan untuk mereka nyanyikan. Ada kekuatan magis yang aku rasakan setiap kali mendengar lagu itu, apalagi ditonton live, behh seperi oksigen yang mengalir dalam darah menjalari seluruh tubuhku.
Nyatanya, aku hanyalah seorang fan yang pemalas, tak ada militansi sama sekali, bahkan bertahan sampai jam 11 malampun tak bisa aku sanggupi. Aku meninggalkan Taman Menteng dengan tenaga yang tersisa sedikit, terdengar suara Ade semakin menjauh 
I lead you to my life, Through the finest hour of my life, You my light guiding me, through the darkest hour of my life, I'll never feel so ever, Feel so high, Through the summer sunshine of our love
 
Sebetulnya ada 3 hal yang menarikku datang ke Festival Seperlima: SORE, Bukit akhir pekan (bolehlah diganti dengan taman), dan Tika and The Dissident. Sore dan bukit akhir pekan mendekati gagal, sementara Tika, yahh so so lah. Sampai saat ini, aku masih dihantui rasa penasaran dengan lingkungan, buku bacaan, komunitas, dan lagu-lagu yang di konsumsi Tika. May Day is such a biautiful song yang dilahirkan oleh seorang perempuan slengean asal Indonesia, bernama Tika. Tahun 2009, May Day menjadi lagu resmi serikat pekerja di Detroit. Saat ini Tika sedang merampungkan materi album terbaru mereka, yang didalamnya terdapat satu lagu berjudul tubuhku otoritasku. Sayang, lagu itu sangat khas kelas feminis ngehe yang tercerabut oleh kebebasan yang dia sembah seperti Tuhan.

Dialog Dini hari, entah kapan band itu mulai bergerilya dan mempunyai fans sebanyak dan tentunya militan (tak seperti diriku ini) memenuhi taman menteng. Vokalisnya mengingatkanku pada banyak hal dalam sekali waktu: i. Wajahnya terlihat mirip Kurn Cobokan dari samping; ii. Suaranya Iwan Fals; iii. kebaikan; iv. keindahan; v. kerendahaan hati. aku menyukainya, karena mereka tak memaksa kami berdiri, lohhhh. haha. balik dari sana, aku berselancar mencari tahu band berciri khas folk dan blues itu. ternyata mereka sudah punya dua album dan mereka berasal dari Bali.

Semoga secepatnya bukit akhir pekan bisa terealisasi

26 Octubre 2014

Minggu, 12 Oktober 2014

1984



Bagaimanapun Winston Smith menyembunyikan carut marut pikirannya tentang kediktatoran partai dan kemungkinan adanya kehidupan lain yang tidak semenyedihkan kehidupan warga Oceania, polisi pikiran ternyata tetap saja mampu mengendusnya. Sudah tujuh tahun dia dikuntit oleh mata-mata, teleskrin, dan mikrofon, sebelum akhirnya dikhianati secara sempurna oleh kekasihnya sendiri, Julia.

Smith dibekuk di kamar sewaannya, lantai atas toko Pak Charington yang ternyata seorang polisi pikiran juga, beberapa menit setelah membaca kitab Teori dan Praktik Kolektivisme dan Oligarkiskitab suci persaudaraan penentang kediktatoran dan totalitarian partai. Dan selanjutnya, menjalani serangkaian tes pengakuan dan pertobatan, di Kementerian Cinta Kasih, dalam waktu yang Smith tak tahu persis, hingga yang tersisa hanya onggokan tulang belulang berselimut kulit koreng dan gigi yang tersisa beberapa biji.

Namun, jauh di dalam sel-sel otak dan ingatannya, Smith masih menyisakan pemberontakan, keyakinan yang tak tergoyahkan, bahwa double think (pikiran ganda), stopcrime (henti-jahat), dan black-white, tidak lain hanyalah manipulasi partai untuk menjaga warga Oceania tetap terpelihara dalam kedunguan, dan Kementerian Perdamaian, Kementerian Cinta Kasih, Kementerian Kebenaran, Kementerian Tumpah Ruah, tidak lebih dari mesin pemutar balik fakta semata.  Tentu saja Kementerian Cinta Kasih tak akan pernah barang sedikitpun membiarkan pikiran-pikiran itu menjejal di kepala Smith atau siapapun di tanah Oceania. Dia kembali dimasukkan ke kamar paling mengerikan di London, untuk menjalani prosesi pertobatan terakhir. Di kamar 101 tersebut, Smith akhirnya menyerah, jatuh terjengkang ke kedalaman yang dahsyat,  menembus tembok-tembok bangunan, menembus bumi, menembus samudra, menembus atmosfer, ke antariksa, ke selat antar dua bintang, menjauh. Lalu akhirnya terlahir sebagai manusia baru, jika masih bisa dikatakan sebagai manusia, yang tidak punya rasa, kemauan, tidak peduli terhadap apapun. O’Brien sang eksekutor memang menginginkan itu. Pemberontak semacam Smith tidak akan dibunuh sebelum menyesal dan mengakui bahwa partai adalah kebenaran yang mutlak! Karena orang-orang yang mati karena tidak mau melepaskan kepercayaan mereka yang sejati, tentu saja segala kemulian menjadi milik korban dan seluruh aib tertimpakan pada eksekutor yang membakarnya hidup-hidup.

======

Buku ini, sedari huruf pertama sampai huruf terakhir, menyimpan kekuatan cerita yang bisa meledakkan kepala pembacanya. Mungkin agak berat untuk memulai membacanya, bisa jadi karena novel ini terlalu suram dan agak berat, tapi kau hanya perlu bertahan sampai seperempat awal, dan kau akan menemukan kekuatan cerita dan decak kagum terhadap satire tajam kehidupan di Negara totalitarian, teori kekuasaan, serta kesabaran dan kebijaksanaan seorang penulis.

Hal lain yang membuatku bertahan untuk membacanya adalah diksi-diksi yang digunakan Orwel dalam menyajikan ceritanya sungguh indah, kelam, sederhana, namun tidak biasa. Saya jatuh cinta pada berondongan kata demi kata yang mengalir dalam buku itu. Saya seperti terhisap dalam kekuatan dan kesuraman setiap hurufnya. Saya baru menyadari, bahwa huruf, kata-kata, diksi, ternyata menyimpan kekuatan yang mampu melahirkan ribuan percabangan imajinasi.

Winston menyusuri gang itu melewati bercak-bercak cahaya dan bayang-bayang, melangkah ke kubangan keemasan di tempat dahan-dahan pepohonan saling merenggang. Di bawah pohon-pohon yang di sebelah kirinya, tanah seolah terselubung kabut bunga-bunga bluebell. Udara serasa mengecup kulit. Hari itu tanggal dua mei. Dari suatu tempat jauh di tengah hutan terdengar burung-burung balam mengulang nada-nada yang sama.

Apa kau merasakannya? Aku merasakannya!!!

Inti dari seluruh cerita dalam 1984, sebenarnya terangkum dalam kitab persaudaraan Teori dan Praktik Kolektivisme dan Oligarkis yang dibaca secara sembunyi-sembunyi oleh Winston. Ada yang bilang buku ini sebenarnya adalah buku teori tentang kekuasaan dan teori kelas yang dikemas dalam bentuk sastra. Apapun itu, saya menikmati kedua-duanya.

Orwel menjelaskan, dalam teori kekuasaan, ketimpangan antar kelas akan terus dilestarikan. Sebab jika kelonggaran hidup dan keamanan sama-sama dinikmati oleh semua orang, sejumlah besar manusia yang biasanya terbingungkan oleh kemiskinan akan menjadi pintar dan belajar berpikir sendiri, dan sekali mereka berbuat demikian, cepat atau lambat mereka akan sadari bahwa minoritas yang menggenggam hak istimewa itu tidak mempunyai fungsi apapun, dan akan mereka sapu bersih. Dalam jangka panjang, sebuah masyarakat hierarkis hanya mungkin jika ditegakkan di atas dasar kemiskinan dan kebodohan.

Dalam Bab I Kebodohan adalah Kekuatan, orwel merinci tentang pembagian masyarakat di seluruh dunia. Sambil tersenyum-senyum membacanya, ini sangat Wawan, gumamku.

Di seluruh zaman yang tercatat, dan boleh jadi semenjak akhir zaman neolitik, masyarakat di seluruh dunia terdiri dari tiga kelompok: tinggi, menengah, dan rendah. Tujuan dari ketiga kelompok tersebut tidak terujukkan. Tujuan kelompok tinggi ialah mempertahankan posisinya. Tujuan kelompok menengah ialah bertukar posisi dengan golongan tinggi. sementara itu, tujuan kelompok rendah, kalaulah mereka mempunyai tujuan—karena sudah ciri kekal kelompok rendah bahwa mereka terlalu ringsek oleh kesengsaraan dan kemelaratan sehingga hanya sekali-kali saja menyadari suatu yang berada di luar kehidupan mereka sehari-hari—iyalah menghapus segala perbedaan dan menciptakan suatu masyarakat yang didalamnya semua orang setara.

Untuk kurun yang panjang, kelompok tinggi tampaknya berkuasa dengan aman, tetapi cepat atau lambat selalu tiba saatnya mereka kehilangan kepercayaan diri atau kemampuan memerintah dengan efisien, atau kedua-duanya. Mereka kemudian digulingkan oleh kelompok menengah, yang menggandeng kelompok rendah dengan pura-pura bahwa mereka memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan.

Begitu tujuan mereka tercapai, kelompok menengah mencampakkan kembali kelompok rendah ke kedudukannya semula sebagai budak, dan kelompok menengah itu berubah menjadi kelompok tinggi. dari ketiga kelompok itu, hanya kelompok rendah yang tidak pernah meski hanya sementara, berhasil meraih tujuannya.

Dalam kurun kemunduran, rata-rata manusia secara fisik lebih baik dari pada keadaannya beberapa abad silam. Namun kemajuan di bidang kemakmuran, penghalusan perilaku, reformasi atau revolusi, belum pernah mendekatkan kita pada kesetaraan barang satu millimeter pun. Dari titik pandang kelompok rendah, segala perubahan histori tak lebih hanya berarti berubahnya nama majikan mereka.

Siapa kelompok rendah ini? merekalah kaum proletar. Dari kaum proletar, tak ada yang perlu ditakutkan. Dibiarkan saja dengan kehidupan mereka sendiri, dari generasi ke generasi, dari abad ke abad mereka akan terus bekerja, berbiak dan mati, tidak hanya  tanpa dorongan untuk berontak, tetapi juga tak berdaya memahami bahwa ada kemungkinan dunia yang lain selain dunianya. Mereka baru dapat menjadi berbahaya jika kemajuan industry menuntut agar mereka memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.

Hal lain yang menarik adalah, saat Winston dikerangkeng dalam ruang tanpa jendela dengan sorot lampu yang sangat tajam dan menyilaukan menjalani serentetan interogasi dan penyiksaan. Saya terus membayangkan Natalia Portman yang disekap di film V for Pendetta, tapi dalam versi yang lebih sadis. Interogasi O’Brien kepada Winston malah menjadi debat panjang, yang sudah jelas pihak kalah yang mana, tapi tetap ngotot dan berakhir represif.

O’Brien: Apakah masa silam mempunyai eksistensi konkret di dalam ruang? Apakah, entah dimana, ada satu tempat, suatu dunia yang berupa benda-benda padat, yang disitu masa silam masih sedang berlangsung?
Winston: Tidak
O’Brien: Lalu dimanakah masa silam itu ada, kalau memang ada?
Winston: Dalam catatan dan dalam pikiran, dalam ingatan manusia
O’Brien: Dalam ingatan. Baiklah, kami partai mengendalikan semua catatan, dan kami mengendalikan semua ingatan, maka kami mengendalikan masa silam, ya tidak?
Winston: Tapi bagaimana kalian dapat menghentikan orang mengingat?
**O’Brien menekan indikator pemberi rasa sakit**

Banyak hal yang tak terduga dalam buku ini. Endingnya agak pahit, tapi dari situ jam terbang, ketekunan, dan kebijaksanaan penulisnya terlihat. Buku ini ditulis oleh George Orwel pada tahun 1949 yang membawanya menjadi penulis tenar di seluruh penjuru dunia. Baru pada tahun 2003, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dicetak pertama kali oleh Bentang Pustaka. Buku yang saya baca adalah edisi ke II cetakan kedua Mei tahun 2014. Kredit yang berlipat-lipat untuk Landung Simatupang yang telah menerjemahkan buku ini dengan sangat sempurna. Ditangannya, tak ada kesan bahwa buku ini adalah buku terjemahan. 

1984
Penulis : George Orwell
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN : 978-602-291-003-9
Harga : Rp 64.000,-
Penerjemah: Landung Simatupang











Dari Skala 5, buku ini saya beri 4,5

Backsound: The First Gang to Die, Pengobral Dosa, Swell Window, Boom Claps,  True love