Kamis, 01 Mei 2014

Yes It's May Day

Yes its may day, 1st of May, Merry Merry Labour Day

=====
People cornucopia and march on the streets

Meanwhile, i just stay in my box, doing nothing but hear this song. 

May Day by Tika

Rise and shine... Don't go to work today
Teachers and strippers alike... Realize we're one and the same
Cause it's May Day... 1st of May
Gonna March the Streets today
Yes it's May Day... 1st of May
Merry merry labour day
Hear us go oi oi oi oi oi oi oi oi labours of the world unite
Sisters Don't be scared... Officer come joing the parade
Sever their vein today... We don't crawl under their feet
Cause it's Mayday... 1st of May
Gonna March the Streets today
Yes it's Mayday... 1st of May
Merry merry labour day
Hear us go oi oi oi oi oi oi oi oi labours of the world unite
Cause we are the one who build their homes
And we are the ones who tend their malls
And we are the ones who keep their banks
And we are the ones who buy their shit....
We are the ones who teach their kids
And we are the ones who cook their meals
And we are the ones who drive their cars
And we are the ones who who work their fields
And we are the ones who fight their wars
And we are the ones who who drop their bombs
And we are the ones to cut this crap
And we are the ones to bring them hell
Labours of the world unite...Oh no servitude today
Servitude ends today when labours of the world unite.

====

Yes We are the same
even you are a porter, chef, teacher, assistance, waitress, civil servant, cleaning service, construction laborer, or whatever any profession that you have, we are just the same.

We are like wheels who run this system. Thats why this system should treat us fairly, give us protection, give us properly salary, and so on.

Yes its may day, 1st of May, Merry Merry Labour Day

Jumat, 11 April 2014

Surat untuk Purnama #7

Purnama

Apa kabar???

Lama tak mengganggumu. Kamu kemana saja? Apa kau ditelan bumi, seperti dihisap pasir hidup dan meluncur masuk ke kerak bumi? Atau jangan-jangan kamu terlalu disibukkan oleh kebun dan peternakan Drenzilmu?

Hei bangun

lekas bangun dari tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu
cuci muka biar terlihat segar
merapikan wajahmu
masih ada cara menjadi besar #sing

Senin, 10 Februari 2014

Pram yang Terbuang



Arus balik, adalah buku pertama yang aku baca dari sekian banyak karyanya yang gemilang. Waktu itu aku masih di semester-semester awal menjelang pertengahan kuliah. Sungguh disayangkan baru mengenal penulis sekaliber dia di usia yang bisa dibilang sangat telat untuk melek buku-buku bagus. Jika tidak bergabung dengan unit kegiatan pers mahasiswa (UKPM) yang hari ini berulang tahun, mungkin akan lebih telat lagi aku mengenalnya. Sebelumnya aku hanya terbuai dengan novel-novel remaja atau detektif, dan buku inovasi, belakangan buku inovasi selfhelp atau apapun namanya tidak kusentuh lagi.

Selanjutnya aku berkelana dengan tetralogi Pulau Buru dan semakin terkesima dibuatnya. Keempat buku itu sangat kaya dengan informasi dan dibangun dengan kekaguman dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.

Setelah sekian lama tak membaca buku-bukunya Pram lagi, beberapa bulan lalu aku membeli Panggil Aku Kartini, tapi tak habis aku baca, entah kenapa aku tidak mendapatkan energi seperti di arus balik atau di Tetralogi Pulau Buru. Terakhir, aku ke toko buku loak senen dan seperti biasa langsung menuju tokonya bang Mora si Batak ganteng dan slengean, mataku langsung tertuju pada Nyanyian Sunyi Seorang Bisu (NSSB), tanpa babibu langsung kubawa pulang dengan harga yang lumayan murah 30 rb. Sebenarnya ada dua bagian, tapi aku hanya membeli bagian pertamanya saja dulu.

Mungkin terlalu prematur untuk membagi apa yang aku baca di NSSB ini, tapi sudah terlalu banyak yang aku dapat dan tak kuasa  lagi untuk kusimpan sendiri. Selain itu, aku tidak bisa mengandalkan ingatanku saja, makanya harus aku tulis.

======


Selasa, 04 Februari 2014

Hujan Seharusnya Menyenangkan


Jakarta masih saja diselimuti awan gelap. Syukur dia tidak lagi memuntahkan air yang kedatangannya sangat ditakuti oleh penduduk kota ini. Musim hujan yang selalu disambut dengan penuh suka cita di tempat lain, entah sejak kapan menjadi sesuatu yang begitu menakutkan di ibu kota Negara Indonesia ini. Isu banjirpun dipolitisir dengan sangat hebat dan bombastis oleh tv-tv dan media cetak, dijadikan alat kampanye dan ajang cari muka oleh orang-orang yang tak punya “kemaluan”, juga dijadikan alat untuk saling menghantam oleh para petinggi negeri ini. bukan hanya para petinggi saja, istri-istrinyapun ikut perang di sosial media saling menyalahkan. Dan masyarakat yang setiap tahun menjadi langganan banjir, hanya bisa pasrah, menjadi penonton sekaligus objek, menunggu siklus banjir terjadi tiap tahun seperti menunggu tanggal datang bulan bagi wanita yang sudah pasti dan rutin terjadi. Meskipun begitu, saya percaya ditengah bencana dan kesusahan seperti ini, kebaikan dan cinta selalu ada, tumbuh subur, merambat dengan diam-diam. Mereka tidak butuh pengakuan apapun.

Pernah saya melihat berita di televisi (milik seorang pebisnis kaya yang terlalu semangat ingin menjadi presiden), di tengah kepungan banjir seorang reporter wanita mewawancarai kakek-kakek “bapak, tiap tahun menjadi langganan banjir, apa tidak ada niatan untuk pindah rumah?”. Saya spontan tertawa, pertanyaan macam apa itu? Dia pikir Jakarta ini punya nenek moyang kakek-kakek itu, bisa nyaplok tanah dan membangun rumah seenak perutnya dia. Sang kakek dengan muka bingung menjawab, “seandainya semudah itu neng, mau sih mau tapi mau ngambil  uang dari mana”.  Tidak usah muluk-muluk pindah ke tempat lain, cukup sungai-sungai itu dikembalikan fungsinya sebagai tempat mengalirkan air dari daratan menuju lautan, hentikan pembangunan mall, perumahan, dan gedung-gedung yang tidak memerhatikan amdal, jangan lagi hijaunya rumput dan pepohonan diganti dengan beton dan aspal, hentikan pembabatan hutan di hulu (pegunungan), dan sediakan bak sampah yang memadai di semua tempat dan gratis. Itu sepenuhnya bisa dikontrol dan diupayakan oleh pemerintah, bukan si reporter itu sih, saya tidak menyalahkannya kok. ^_^

Imlek baru saja lewat, kata orang-orang hujan akan berangsur-angsur mereda setelah hari imlek, semoga tidak ada lagi kiriman banjir dari hulu, aneh rasanya bogor yang hujan, kok Jakarta yang kebanjiran. Bukan hanya badai yang pasti berlalu, banjirpun pasti akan berlalu. Semoga semua pihak bisa berbenah, semoga tahun depan musim hujan bukan lagi menjadi hal yang menakutkan, dan banjir di Indonesia tidak lagi menjadi rutinitas tahunan yang menjadi tontonan Negara-negara lain. 

Dan kita dengan nikmat bisa menyeruput teh panas sambil mamandangi gemerintik hujan melalui jendela, tanpa ada perasaan was-was di tempat lain banjir merangkak naik sampai ke atap rumah.

Karena saya sangat menyukai hujan….

Semoga Tuhan……

1 Februari 2014
Lagi demen sama Lorde


Minggu, 12 Januari 2014

Surat untuk Purnama #6


Sudah lama kita tidak saling menyapa. Mungkin menurutmu ini hanyalah alibi yang sengaja saya buat untuk menutupi kemalasanku, tidak apa, tapi saya memang seperti baru saja mengalami koma, detik-detik kehidupanku serasa berhenti. Atau, mungkin saja saya sedang membuat spasi kehidupan. Entahlah...

Menyaksikan penderitaan om saya melawan sakitnya selama hampir dua minggu, sebelum akhirnya menyerah dan menghembuskan nafas terakhirnya berlahan dan senyap, resmi menjadi kado awal tahun yang suram dan hikmat di tahun 2014 ini (060120141930). Hidup sungguh adalah sebuah misteri. Kematian adalah teman setia yang selalu mengintai kapan saja.

Untuk pertama kalinya saya menyaksikan seseorang yang mengalami sakratul maut. Sebelumnya, bayangan saya tentang sakratul maut itu sangatlah menakutkan dan mistis. Akan tetapi, ternyata tidak menakutkan sama sekali, yang ada saya melihat kebesaran Tuhan di sana. Saya sepakat dengan frase “sering-seringlah melayat  dan menjenguk orang sakit”, karena dengan begitu engkau akan menyadari betapa kecil dirimu dan betapa Maha Besar Tuhanmu. Kematian datang dengan dua cara, mendadak atau dengan berlahan, sangat berlahan, butuh waktu bertahun-tahun, seperti yang dialami oleh om saya.

Saya masih ingat sekali. Di sore hari yang gerimis, sehabis shalat Ashar, saya ingin sekali menjenguk om saya yang dirawat di rumah nenek. Sesampai disana, istrinya sedang membacakan surah Yasin di sampingnya, sementara om saya hanya terdiam baring menatap nanar ke depan. Pandangan matanya kosong, saya mencoba mengajaknya bicara, tak ada respon dan tak ada lagi bayangan saya di bola matanya. Bergantian kami mencoba membangunkannya, dia tetap saja bergeming. Lalu kemudian ada sekat di ubun-ubunnya yang kemudian melembek. Satu persatu denyut nadinya menghilang. Dan kemudian jantungnya berhenti berdetak. Matanya semakin meredup. Dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya lembut dan pelan. Dia mengalami sakratul maut selama tiga jaman, tetapi penyakit itu menyiksanya hampir dua tahun. Kini dia telah menghadap ke Sang Khalik. Semoga penyakit yang dia derita sebelum meninggal menjadi penghapus dosa-dosanya, semoga Tuhan memberikan tempat terbaik untuknya. Dan untuk ketiga anak yatim itu, semoga kami semua bisa bertanggung jawab dan ikut membesarkan mereka sampai kelak mereka mandiri dan menjadi anak yang berbakti dan bermanfaat bagi sesamanya.

Siklus hidup ini memang seperti lingkaran. Kita terlahir dalam kondisi yang sangat lemah dengan indra yang belumlah berfungsi sama sekali. Demikian juga ketika memasuki masa uzur. Satu persatu fungsi indra kita menghilang. Saat menghadapi sakratul maut, kondisi fisik manusia persis seperti bayi yang baru dilahirkan. Ubun-ubun yang lembek, bola mata hitam yang tidak memantulkan bayangan, dan air mata yang menetes di sudut mata. Tuhan sungguh luar biasa memberikan tanda itu.

Purnama
Apakah kau masih di sana?........

Minggu 12 Januari 2014

Mafia Dangdut #1


Saya punya cerita, lucu sih, tapi saya tidak yakin ceritanya akan menjadi lucu jika saya yang menceritakannya. Berdasarkan pengalaman, setiap kali saya berusaha bercerita lucu, selalu berakhir dengan ekspresi alis yang merengut disertai tatapan yang aneh oleh pendengar saya, di barengi dengan kata “apa sih, garing!”. Tapi tak ada kata menyerah dalam kamus saya. Jadi terima saja cerita garing ini. ciaaat.

Ini tentang tentangga saya, yang saya sebut MAFIA DANGDUT. Sebetulnya istilah mafia dangdut ini berasal dari Wawan, karena terlalu sering saya ceritakan tentang tetangga saya yang berisik dengan musik dandutnya yang membahana, akhirnya dia merekomendasikan tetangga saya itu di sebut saja sebagai Mafia Dandut.

Selama tiga tahun tinggal di gang itu, sudah tidak terhitung lagi berapa kali pesta dangdut nan asoi di gelar, tepat di samping kos saya. Sejak si rizki keturunan ke tiga dalam keluarga itu baru lahir, sampai kemarin saat Rizky berulang tahun ke tiga, pesta dandut selalui merajai jagad raya gang kramat sawah III Paseban dan tak tertandingi sama sekali.

Bukan hanya di hari ulang tahun Rizki, di malam tahun baru, atau di malam-malam yang random lainnya, pesta dangdut kerap kali mengalun sepanjang malam di gang kami itu. Tidak ada masalah sama sekali dengan kebiasaan itu, dan tidak ada yang salah, meskipun terkadang bising dan mengganggu. Cuma menjadi istimewa, karena mereka (keluarga itu) menikmati pesta dangdut itu dengan penuh suka cita, mereka tahu cara bersenang-senang.

Di malam yang hanya keluarga itu dan Tuhan yang tahu pesta dangdut akan di gelar, satu set salon dan organ tunggal sudah mejeng di depan rumah, satu persatu keluarga mereka datang, kebanyakan ibu-ibu, dan pesta joged dangdutpun di mulai. Mereka joged, tidak berhenti, joged sepanjang malam, asoiiii men, tarik mangg, sampai lemas. Jika tidak ada organ tunggal, alat karaokepun jadi.

Saya menduga, yang menjadi God of Mother dari Mafia Dangdut itu adalah si nenek yang punya tahi lalat di atas bibirnya dengan potongan rambut hampir cepak. Perawakannya memang tak ubahnya seperti bos besar, bos mafia dangdut maksudnya. Yang menjadi koordinator perlengkapan adalah cucu menantunya yang laki-laki (bapaknya Rizky), Rizky adalah adalah keturunan ketiga alias cicit. Sementara yang bertindak sebagai penyanyi adalah cucunya yang masih belia kira-kira masih sekolah di SMP, jika tidak menyewa penyanyi dangdut khusus. Dan yang menjadi anggota perjogedan adalah anak-anak dan kemenakan dari God of Mother yang kebanyakan adalah ibu-ibu. Rizky yang masih berumur tiga tahun pun sering begadang menemani nenek dan buyutnya joged sampai larut.

Semalam terakhir kali mereka menggelar pesta dangdut (lagi). Siangnya risky ulang tahun yang ketiga dan pesta dangdut sudah menggelegar kemana-mana. Dilanjutkan pada malam hari sampai jam 2 malam. Jaringan mafia dangdut ini semakin meluas dan besar. Tidak hanya ibu-ibu, bapak-bapak juga sudah mulai turun tangan eh kaki. Lampu disko yang berkelap kelip bikin pusing melengkapi meriahnya pesta semalam. Asap rokok membumbung ke udara, bapak-bapak dan ibu-ibu saling berhadapan menikmati alunan musik dangdut yang ajib. List yang entah berapa kali diulang adalah “oplosan, goyang Caesar, tukitakituk, dan bang jali”. Goyang oplosan yang vulgar itu tak terhitung berapa kali di ulang, mereka berbaris sepanjang gang dan bergoyang oplosan sambil teriak-teriak dan tertawa. Mereka menikmati betul pesta itu.

Saya menikmati menonton ritual mereka itu dari balkon. Mereka bahagia, tidak peduli apa kata orang, atau apa yang sedang terjadi diluar sana, selama mereka masih bisa berdangdut ria. Dangdut sangat melekat dengan masyarakat kita, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah. Sejujurnya jempol saya sudah mulai ikut bergoyang,  jika saja saya diundang untuk ikutan joged, uhhh seandainya. 

12 Januari 2014
Banjir mulai menyerbu Jakarta
Merintih Perih "Sore" 

Minggu, 15 Desember 2013

Surat untuk purnama #5

Purnama

hows life? it has been a while, i haven't replied your letter. i just can blame my activities, i think it was really alienated. it happened at the month where i should celebrate life "November", poor me. you know, my weight are going decrease, and he blames me all the time then. but, one think that i'm really afraid is, wheter i have done useful for the people or not?

when i wrote this letter, i was at hasanuddin airport and it was raining out there. i already met my family, my real life. and several minutes later, i have to flight to another life. what an evil the system that we called capitalism,who separates us from our life.

makassar 15 desember 2013