Rabu, 20 Mei 2015

MANUSIA PERAHU, KEMANA HARUS BERLABUH?




Dosa apa yang telah dilakukan oleh minoritas muslim Rohingya, sehingga tak ada lagi tempat untuk mereka di muka bumi ini? Bagaimana bisa, jagad raya maha luas yang diciptakan oleh Tuhan ini, gratis untuk seluruh mahluk hidup dan tak hidup sekalipun, menjadi begitu mahal harganya, oleh ulah sekelompok orang yang menyebut dirinya sebagai negara? Beritahu logika apa yang bisa digunakan untuk memahami, ribuan orang, wanita dan anak-anak, kelaparan, sakit dan depresi, terapung-apung di tengah lautan, mencari daratan dan perlindungan, namun tak ada lagi empati dan sedikit saja rasa iba untuk membiarkan mereka sekedar berlabuh, dengan mengatas namakan keinginan rakyat dan Negara?

Sekiranya, pangeran Sidharta atau yang lebih dikenal dengan Gauthama Buddha masih hidup, tentu dia akan menangis sejadi-jadinya, menyaksikan sekelompok pengikutnya kehilangan nurani dan melupakan pokok ajaran Buddha yang kedua; tidak memikirkan kepentingan diri sendiri dan terbelenggu oleh nafsu. Pemerintah Myanmar yang mayoritas beragama Buddha menolak suku Rohingya sebagai warga Negara mereka. Bahkan, sebutan Rohingya bagi masyarakat Myanmar adalah hal yang tabu. Mereka menyebut kelompok muslim Rohingya dengan nama Bengalis. Bengali adalah sebutan diskriminasi bagi kelompok Rohingya, yang mengekpersikan kebencian (xenophobia), dan mengimplikasikan bahwa suku Rohingya adalah imigran gelap dari Bangladesh.  Tahun lalu, 40 orang Rohingya termasuk anak-anak dibunuh secara kejam di Desa Du Chee Yar Tan oleh penduduk setempat. Sudah beberapa dekade, minoritas Rohingya mengalami diskiriminasi dan penganiayaan oleh Myanmar. Bagi minoritas Rohingya, hanya ada dua pilihan, Live and die or leave by boat. Sementara itu, Aung San Suu Kyi, penerima nobel perdamaian yang terkenal itu, yang katanya lagi kepengen jadi presiden Myanmar tahun 2015, hanya bergeming, menjadi penonton pasif, menyaksikan kejahatan kemanusiaan bergulir selama bertahun-tahun di negaranya. Katanya, dia tidak berkomentar karena takut memperkeruh suasana. Spekulasi lain beredar, dia memilih menjadi pendiam, untuk mengamankan dan merebut hati rakyat Myanmar dalam pemilihan presiden mendatang.

Selama berbulan-bulan, ribuan migran Myanmar dan Bangladesh terapung-apung di lautan Hindia, tanpa tahu harus kemana, setelah Pemerintah Thailand menolak kapal tersebut untuk bersandar, dan juga di usir oleh otoritas Malaysia kembali ke tengah lautan, dan akhirnya ditelantarkan oleh agen perdagangan manusia asal Thailand di tengah lautan Asia Tenggara. Kemana gerangan hati nurani, menelantarkan ratusan wanita dan ibu-ibu yang menangis, anak-anak yang memohon pertolongan, kelaparan, sakit-sakitan, bahkan sampai meminum urinenya sendiri karena kehausan? Otoritas Thailand secara resmi menyatakan menolak kapal berisi migran tersebut, termasuk didalamnya wanita dan anak-anak, dan beralibi sudah melakukan tanggungjawabnya dengan memberikan makanan dan minuman. Sementara otoritas Malaysia menyatakan, mereka mengirim migran tersebut kembali ke tengah lautan, karena Myanmar dan Bangladesh tidak dalam kondisi perang, jadi tak ada alasan untuk menerima migran tersebut. Mereka beralasan penolakan tersebut merupakan keinginan warga negaranya yang tidak menginginkan migran tersebut masuk ke negaranya. Malaysia memang telah menampung ribuan pengungsi Rohingya pasca kerusuhan yang terjadi di Miyanmar tahun lalu, tetapi bukankan dalam kondisi seperti ini, prioritas pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan hidup, menyelamatkan ribuan orang dari kelaparan dan ancaman kematian, dan itu adalah tanggungjawab setiap mahluk yang memiliki nurani apatah lagi institusi bernama negara!

Pada akhirnya, nelayanlah Acehlah, yang tanpa berpikir panjang, melaporkan dan memberikan pertolongan, disusul dengan tumpah ruahnya belas kasih penduduk Aceh kepada saudara-saudara kita yang malang itu. Saya menitikkan air mata menyaksikan foto-foto para pengungsi tersebut, membayangkan mereka kelaparan, kehausan, depresi, selama berbulan-bulan, di tengah lautan, tanpa tahu akan berlabuh dimana. Mereka, orang-orang tanpa negara, tak memiliki apapun. Di saat yang bersamaan, saya juga merasa begitu  bangga kepada suadara-saudara saya di Aceh, kepada Pemerintah Aceh, yang dengan tangan terbuka, memberikan pertolongan kepada para pengungsi tersebut, kebaikan mereka ditakzimi oleh seluruh dunia. 



Menerima migran Rohingya memang merupakan masalah yang pelik, apalagi bagi negara berkembang seperti Indonesia. Boro-boro memberikan kehidupan yang lebih baik kepada para pengungsi tersebut, penduduk sendiri saja masih banyak yang menganggur dan miskin, belum lagi gesekan sosial yang akan timbul pada saat pengungsi tersebut berbaur dengan masyarakat setempat, dimana para pengungsi tersebut akan menerima banyak bantuan dari UNHCR, NGO, lembaga donor, dan negara lainnya. Apa yang dilakukan oleh Pemda Aceh dan pemerintah Indonesia patut diapresiasi, ini adalah krisis kemanusiaan yang serius, sepatutnya semua negara khususnya negara Asian berkerja secara bersama-sama menyelesaikan masalah ini.

***

Selasa, 14 April 2015

TENTANG SI KECIL PAHIT YANG MEMUKAU


Saya bukanlah pecinta kopi. Meskipun tak menganggapnya penting, saya masih mengkonsumsinya, dengan kuantitas yang bisa dihitung dengan satu tangan dalam sebulan. Biasanya dengan tujuan khusus, menahan kantuk saat rapat, atau dalam rangka begadang jika weekend tiba. Konon, kopi pertama kali ditemukan sebagai minuman penambah energi oleh seorang petani Ethiopia bernama Khalid saat mengembala kambingnya. Kambing Khalid tiba-tiba menjadi sangat atraktif sesaat setelah memakan biji kopi. Saya berharap, reaksi tubuh saya setelah meminum kopi sama seperti kambing-kambingnya Khalid. Tapi itu tak terjadi, seringkali efek dari kopi yang saya minum malah seperti efek obat tidur, saya malah semakin tak berdaya melawan kantuk.

Sampai akhirnya saya nonton film bertema kopi yang diproduksi oleh seorang sutradara muda bernama Anggi Dwimas Sasongko. Sepertinya saya harus membuka mata, kopi bukan hanya sekedar minuman yang ngehits, lebih dari itu, kopi mengandung banyak cerita dan makna dibaliknya. Film berjudul Filosofi Kopi ini diadaptasi dari cerita pendek Dee lestari yang juga berjudul "Filosofi Kopi". Saya menyukai hampir semua cerpen dan prosa dalam buku Filosofi Kopi. Yang paling saya sukai adalah Spasi, namun seperti terserang amnesia lokal, cerita Filosofi Kopi tak mampu kuingat sama sekali. Jadi pada saat menyaksikan film Filosofi Kopi, saya tak perlu membanding-bandingkannya dengan cerita aslinya dalam buku.



Sejak pertama kali isu Filosofi Kopi akan difilmkan muncul, saya langsung antusias ingin menontonnya. Entah kenapa saya punya firasat film ini akan berhasil mencuri perhatian---tidak seperti Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang "sorry to say" terkesan serba maksa, Songong, dan Sok. Menurutku tak ada yang berhasil dari film yang diadaptasi dari Series Supernova-nya Dee Lestari itu. Bukunya sih keren, filmnya yang gagal fokus---. Dan tanggal 9 April kemarin, tepat di hari pertama tayang di bioskop, saya dan dua orang teman saya si batak Rimbi dan putri keraton Dian, berhasil nonton cantik di bioskop murah meriah Atrium. Kami bahkan nonton dua kali! Yang kedua terjadi karena kecerobohanku menghilangkan potongan tiket berikut tiket teman-temanku, padahal tiket XXI itu bisa dijadikan tiket masuk ke kafe Rolling Stone menyaksikan konser Filosofi kopi. Akhirnya kami nonton (lagi) kilat pada saat jam istirahat makan siang, demi untuk mendapatkan potongan tiket dan bisa nonton konser filosofi kopi. Kurang militan apa coba?

Saya suka dan puas, meskipun ada beberapa bagian yang agak silly. Sound effectnya kurang greget, akhirnya terkesan krik krik dibeberapa bagian. Ada juga scene yang meaningless, contoh adegan curcolnya El dan Jodi di kebun kopi, dialog panjang si Jodi dan cicinya yang terlalu sepi dari sound effect, atau dialog panjang si debt kolektor dengan Jodi yang lagi-lagi kurang greget. Terlepas dari itu, saya sangat mengapresiasi film ini. Film ini tidak hanya bercerita soal produksi kopi mulai dari cara penanamannya sampai cara penyajiannya, tapi juga banyak mengeksplor hubungan persahabatan,  dan yang lebih menarik, film ini menyentil nasib petani kopi yang banyak tersingkir akibat dari ekspansi perusahaan besar dan godaan mengganti komoditi kopi dengan komoditi lain yang lebih menguntungkan. Dalam sebuah wawancara, Glen Fredly sang co-produser bilang, film ini memang didedikasikan kepada para petani kopi di Indonesia. Ini merupakan angin segar bagi perfilman indonesia, film dengan pesan yang kuat sudah terlalu jarang kita temui di perfilman kita. Jika ingin mengangkat kembali perfilman indonesia, maka paling pertama yang bisa dilakukan adalah memperkuat tema ceritanya terlebih dahulu, sekiranya kecanggihan masih terlalu jauh untuk kita jamah. Kita tidak akan belajar jika terus-terusan membebek selera pasar dan godaan profit yang menggiurkan. Kampanye untuk nonton film Indonesia secara besar-besaran dan gratis beberapa hari yang lalu tidak ubahnya seperti layanan operator yang menawarkan fasilitas gratis, tapi dengan syarat dan ketentuan berlaku, parahnya lagi sinyal dan kualitasnya tiarap. Mau sebanyak apapun film gratisnya, kalau yang ditawarkan film pocong pocong, atau tema percintaan ababil akut, tidak akan membawa kita kemana-mana. Tawaran itu tak mampu menandingi film hollywood atau film negara lain yang jauh lebih maju dari sudut pandang manapun kita melihatnya.

Saya tak begitu menyukai kopi dan tak paham kenapa teman-teman cowok saya begitu mencintai kopi hitam, pacar saya bahkan mengakui dengan sangat fulgarnya bahwa kopi hitam adalah cinta sejatinya. Namun, tetap saja si kecil, hitam, dan pahit itu tak pernah kuanggap penting. Sampai akhirnya, film filosofi kopi berhasil membalikkan segalanya, saya memang tetap tak rutin mengkonsumsinya, tetapi penghargaanku terhadap kopi jauh lebih maju saat ini. Bahwa negara kita adalah penghasil kopi terbesar kelima di dunia. Bahwa negara kita ditopang oleh petani kopi yang berada di berbagai pelosok indonesia. Bahwa kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya, kopilah yang menyatukan anak-anak muda di warung kopi atau di teras rumah menyulam impian kecil mereka menjadi rencana yang maha besar, kopilah yang menjadi lampu berkekuatan 500 watt di kepala para sastrawan, para peneliti, mahasiswa, doktor, profesor, wartawan, di malam-malamnnya yang sunyi. Bahwa petani kopi kita adalah kelas/lapisan terbawah yang sangat mudah tersingkir dan tertindas dalam bisnis kopi kapitalis yang terus menggurita. Bahwa kita sebagian besar masyarakat indonesia tidak menyadari betapa beruntungnya kita memiliki kopi-kopi terbaik. Bahwa barista bernama Ben di film Filosofi Kopi  itu, guaaaaantengnya pooooooooooolllllllllllll uaaaaaanjeeeeeeng. ^_^
Ben, Al, dan Jodi di Konser Filosofi Kopi Kafe Rolling Stone

Chicco Jerikho, tiba-tiba saja mengalami metamorfosis yang sangat pesat. Sebelumnya, dia hanya pemain FTV dan sinetron yang biasa-biasa saja. Namun setelah main di Cahaya dari Timur Beta Maluku dan memenangi piala citra 2014, dia seperti baru terlahir kembali dengan segala pesona  yang dia miliki. Pemeran Ben dalam Filosofi Kopi itu memiliki tanggung jawab yang cukup besar jika tidak bisa dikatakan sangat besar atas kesuksesan film tersebut. Kegantengannya melebihi Tristan dalam film The Legend Of The Fall. Dia berhasil menghidupkan karakter Ben dengan sangat sempurna, Ben si barista ambisius, cuek, dan cinta mati sama yang namanya kopi. Keberhasilan tersebut tidak bisa lepas dari tandemnya Rio Dewanto yang berperan sebagai Jodi "si paman gober" yang pelit dan perhitungan. Jodi merupakan sahabat Ben dari kecil sekaligus pemilik modal dan mesin penghitung cuan kedai Filosofi Kopi. Ben dan Jodi menganalogikan dirinya sebagai kepala dan hati, Jodi sebagai kepala yang selalu realistis, sementara Ben adalah hati yang selalu idealis dan melakukan segala sesuatu hanya dengan satu alasan, karena cinta. Berlatar belakang kota Jakarta, film ini tidak lantas menipu diri dengan terus menjual Jakarta dengan segala keglamorannya. Gang-gang yang sempit, pasar tradisional, warteg dan es tehnya yang selalu menyegarkan, menjadi pemandangan yang biasa dalamfilm ini. Bahasa yang digunakan juga santai dan sangat natural, terkadang disisipi dengan bahasa kotor, dan inilah realitas yang kita temui di jalan tiap hari.


Konser filosofi kopi


Hal lain yang membuat film ini sangat layak untuk diapresiasi, bukan hanya karena subtansi dari ceritanya sendiri yang bagus, tetapi juga melibatkan musisi-musisi hebat baik yang sudah terkenal maupun baru untuk mengisi soundtrack film tersebut. Mereka adalah Maliq & d'Essentials, Gilbert Pohan, Sidepony, dan band yang dijaring melalui kompetisi ngeracik musik SVARNA. Dan yang bertanggung jawab atas keterlibatan musisi musisi tersebut adalah Glend Fredly.

Empat hari setelah tayang premier, pada tanggal 13 April 2015 kemarin, bertempat di Kafe Rolling Stone, Filosofi Kopi movie mengadakan konser dengan menghadirkan seluruh penyanyi soundtrack, produser, sutradara, casts, dan crew dari film tersebut. Saya termasuk orang yang percaya bahwa film yang bagus selalu didukung oleh soundtrack yang bagus pula. Pada malam itu, di konser yang cukup intimate, dihalaman belakang kafe Rolling Stone, bersama teman sebangsa dan setanah air yang kece tapi norak Rimbi Dian dan Langun, saya merasakan energi dan otimisme terhadap musik dan film indonesia. Sayang lagu-lagunya belum rilis, dan belum bisa dibajak juga. hahaha

Ngopi dulu, sebetulnya cuma rimbi yg ngopi, yang lain minum soda

Ada satu hal yang membuat saya terenyuh malam itu, pada seorang pria berkemeja biru muda, mengaku sebagai petani kopi, dan menyanyikan lagu-lagu bertema sosial dan lingkungan dengan petikan gitar yang rada-rada ngecountry. Setelah menyanyikan beberapa lagu, dia turun ke sisi kiri panggung, merapikan gitarnya dan memasukkannya ke dalam tas sambil jongkok. Setiap kali ada orang yang datang mengajak untuk berfoto, dia selalu meladeninya dengan ramah, lalu lanjut mengepack alat musiknya lagi. Setelah itu, dia berdiri di sisi panggung itu sampai konser hampir ditutup. Dia tidak memperlihatkan sedikitpun lagak, bahwa dia adalah seorang vokalis band yang sudah berpetualang ke banyak penjuru negeri menyuarakan isu sosial dan ekologis, jika dia adalah seorang aktifis lingkungan yang mendedikasikan banyak waktunya untuk menjaga alam Indonesia dari kerusakan dan kerakusan manusia-manusia bumi. Sementara orang-orang yang baru melakukan sedikit saja kampanye sosial, terlena dalam selebrasi dan pujian di atas panggung. Pria itu selain berilmu, dia juga telah banyak melakukan hal bermanfaat, namun kepalanya terus merunduk ke bawah. I really adore you Robi Navicula.
Me and Robi Navicula

Saya selalu menikmati momen dimana saya menggilai sesuatu, menggilai ketampanan Chicco, menggilai Filosofi Kopi the movie, menggilai kesederhanaan para petani-petani kopi, dan menggilai kejeniusan dan kesederhanaan musisi-musisi hebat. Saya memaklumi rimbi yang histeris dan gemetaran saat dirangkul dan dicium oleh chicco, sementara dian merengut tak karuan karena tak mendapatkan kesempatan yang sama. Saya rela diserang demam chicco selama berhari-hari dan tak tahu obat penawarnya apa.
Dari kiri ke kanan, Chicco, Jempol Rimbi, dan Rio

Meskipun yang keliatan cuma gigi, tak apalah, ini bukti kongkrit rimbi habis dirangkul chicco. Haha

Karena terkadang hidup butuh kegilaan untuk membuatnya lebih hidup.

------
Nb: Para pecinta kopi seharusnya nonton film ini. Ini bukan hanya sekedar mengapresiasi film indonesia, tetapi juga bentuk apresiasi kita kepada petani-petani kopi di indonesia dan pecinta kopi itu sendiri.

Rabu, 11 Maret 2015

Pseudo Happiness



Bisa jadi presiden Joko “Jokowi” widodo merasa tak terganggu dengan nilai tukar rupiah yang terus merangkak naik menembus nominal Rp13.200 per dolar. Sebagai pemimpin yang baik, wajar jika Pak Presiden mengajak seluruh warganya untuk tetap optimis  dengan kondisi ekonomi negara kita saat ini. Presiden bahkan mengklaim kondisi ekonomi kita tahun ini jauh lebih baik dari kondisi ekonomi tahun sebelumnya, hal tersebut bisa dilihat dari ruang fiskal, kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG), pasar obligasi, yang jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Dua bulan terakhir, kita bahkan mengalami deflasi! Pemerintah terus menjaga optimismenya dengan hanya melihat parameter-parameter ekonomi terkini, pertumbuhan ekonomi membaik, inflasi terkendali, IHSG membaik, defisit APBN terkendali, ruang fiskal melebar, dan sederet parameter lainnya.

Lalu, apa kabar “kami”, nelayan, petani, buruh, pedagang kaki lima, tukang sol sepatu, pedagang eceran, guru honorer, pengasuh, asisten rumah tangga, tukang cuci, tukang becak, cleaning service out sourching? Kami tak hanya menghadapi harga bensin yang naik turun seenak udelnya, listrik, harga beras, tiket pesawat dan kereta, sewa angkot dan ojek, yang meningkat tajam. Kami juga harus menikmati pahitnya efek domino dari lonjakan harga-harga tersebut. Lalu makna dari deflasi itu apa? Apakah hitung-hitungan yang dihasilkan oleh para pakar ekonomi itu adalah hal yang berbeda dengan yang terjadi disekitar kami?

Kurs memang telah menembus angka Rp13.200, namun postur APBN masih aman, defisit anggaran kita bahkan tidak melebar seperti yang terjadi pada tahun sebelumnya. Yang terjadi malah sebaliknya, semakin tinggi nilai kurs rupiah terhadap dolar amerika serikat, pundi-pundi pemerintah akan semakin gemuk. Hal ini tentu berbeda dengan tahun sebelumnya dimana tiap kali kurs mengalami depresiasi, defisit APBN membengkak tak terkendali. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu alasan kuat kenapa Pemerintah mencabut subsidi bbm waktu itu. Penjelasan sederhananya seperti ini, setiap kali kurs melemah (depresiasi), maka yang akan terpengaruh adalah pendapatan Negara bukan pajak/PNBP (penerimaan minyak dan gas), belanja negara (subsidi bbm dan bunga utang luar negeri), dan pembiayaan (pembayaran pokok utang luar negeri). Dari item-item tersebut, yang paling sensitive adalah belanja Negara subsidi bbm. Kurs dan ICP adalah parameter fundamental yang digunakan pemerintah dalam menghitung subsidi. Apabila salah satunya naik, maka subsidi bbm akan naik pula. Betul, naiknya nilai kurs rupiah terhadap dolar amerika serikat akan meningkatkan penerimaan pemerintah dari penerimaan minyak dan gas, akan tetapi pemerintah harus mengeluarkan uang yang jauh lebih besar untuk subsidi bbm. Oleh karenanya pelebaran defisit menjadi tak terkendali. Itu dulu, sebelum subsidi bbm dicabut.

Kita harus mengucapkan terimakasih kepada pak Presiden atas jasa-jasanya telah menyelamatkan Negeri ini dari krisis moneter dengan mencabut subsidi bbm tepat sebelum kurs rupiah melonjak tajam. Dengan dicabutnya subsidi bbm, APBN menjadi sangat bebal terhadap pergerakan kurs dan icp. Itulah impian dari setiap ekonom dan pemerintahan disetiap negara, yaitu mewujudkan anggaran negara (APBN) yang sustainable dan unvulnerable dari gangguan luar terutama asumsi ekonomi makro. Negara kita berhasil melakukannya, kita patut bangga, yah, bangga! Kita adalah Negara yang kuat dari gempuran krisis ekonomi. APBN kita kuat, melemahnya rupiah terhadap dolar amerika serikat, diluar kebiasaan, malah meningkatkan ruang fiskal kita, atau kita surplus/untung, dan keuntungan itu bisa digunakan untuk belanja prioritas presiden yang lain. Fantastis bukan?

Pertanyaannya, kenapa rakyat tidak merasakan hal yang sama? Jika APBN kuat dan tak mudah digoyahkan, seharusnya masyarakatpun juga demikian. Jika keuangan Negara kita stabil, harusnya asap dapur di rumah-rumah juga tetap mengepul stabil. Jika APBN menguat, masyarakat harusnya tak menjerit, dengan harga yang naik dan tak mau turun, meskipun harga bensin sudah turun! Kenapa selalu ada standar ganda? Apa sebetulnya yang kita perjuangkan? Angka-angka atau perut yang menahan lapar karena harus menghemat beras? Deretan angka parameter ekonomi atau anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena harus bekerja membantu orang tuanya? Siapa yang bertanggung jawab atas orang-orang yang hidup di jalan, di emperan toko, atau di gerobak-gerobak? Siapa yang bertanggung jawab atas anak-anak yang harus bekerja menjadi pengamen, bayi yang diberi obat tidur oleh ibu atau entah siapa itu, atau orang-orang gila yang telanjang memperlihatkan vaginanya di tengah pasar?

Masihkah kita berpikir sedang menyelamatkan dunia?

#selftalk

Selasa, 17 Februari 2015

Sore yang Teduh

Saya tak bisa memejamkan mata. Mungkin kelenjar adrenal dalam tubuhku masih terlalu bersemangat memompa jantungku dan melancarkan aliran darahku. Oksigen diparu-paruku sepertinya masih mampu menemaniku beraktifitas seharian lagi, tanpa tidur. Saya sungguh bersemangat, setelah 6 jam, bersama Dhani, menghabiskan waktu menyaksikan Sore, Payung Teduh, Tulus, Float, Pandai Besi, dan The Adams, di Museum Staria Mandala.

Sebetulnya ini bukan kali pertamanya saya menyaksikan konsernya Sore. Sebelumnya sudah pernah, dengan list lagu yang jauh lebih banyak, dan semua personelnya (Echa, Bimbe, dan Awan) juga bernyanyi, setidaknya satu lagu satu orang. Konser semalampun sejujurnya tidak memuaskan, karena Sore harus duet dengan Tulus, dan itu berarti porsi lagu yang mereka bawakan menjadi lebih sedikit karena dishare dengan lagu-lagunya Tulus. Yang membuatnya istimewa, karena saya ditemani sahabat, yang tahu betul cara menikmati musik. Tangan kami tak hentinya saling merangkul, bersenandung, jika tak tahu liriknya, kami masih tahu cara berjoget.

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di museum Satria Mandala. Di sana terdapat banyak pesawat tempur dan semacamnya, medannya berundak-undak, dan disampingnya ada sebuah bangunan yang masih dalam pengerjaan dengan tiang-tiang yang miring, entah itu disengaja mau menyerupai menara pisa, atau karena kesalahan konstruksi, yang jelas rupanya agak sedikit menakutkan. Penonton yang boleh masuk disyaratkan 18 tahun plus. Hampir saja kami tak diijinkan masuk, kami disangka masih 17 tahun. Hahaha. Bagi yang punya penyakit narsis, disediakan stand buat foto-foto, and lucky us, jika berhasil berfoto di tujuh stand yang telah disediakan, panitia menghadiahi kaos, goody bag, atau tiket vip. Ini benar benar anugrah bagi pengikut aliran narsisus seperti kami.


Awalnya saya dan dhany memilih hadiah kaos, kami pikir buat apa juga nonton dari samping, cuma liat kuping. Tapi setelah berlalunya beberapa band frontline, rumput yang becek gak ada ojek pula, dan tinggi badan tetap saja pendek meski sudah pakai wedges, kami berubah pikiran, kaos hitam yang sudah dibungkus tadi kami tukarkan lagi dengan tiket vip Sore Tulus. And here we were.


Yang membawa kami ke sana adalah Sore (band yang saya gandrungi saat ini), dan Payung Teduh (band yang lagi Dhani gandrungi saat ini). Sebenarnya saya tipe fans cyclycal, dulu waktu menyukai Efek Rumah Kaca, play list saya hanya berisi lagu-lagu ERK, waktu menyukai Keane play list saya hanya berisi lagu Keane, sampai akhirnya saya  bosan sendiri, dan mulai meninggalkannya, namun suatu waktu akan kembali jatuh cinta lagi. Saya tak tahu sampai kapan saya akan memburu Sore seperti ini, namun Float mulai mencuri hati saya, Payung Teduh sudah tentu sangat nikmat untuk didengar (namun menurutku lebih cocok didengarkan di kamar atau dalam konser yang santai di sore hari, atau dibawakan di kafe, bukan di lapangan yang luas dan riuh, Lagu mereka sangat cocok untuk mereka yang kasmaran atau lagi patah hati).

Pandai Besi, maaf saya tak bisa menikmati lagu-lagunya. Hampir-hampir saya tak bisa menerima lagu efek rumah kaca dibikin seperti itu. Saya bahkan nyaris tak mengenali lagu favorit saya, Jangan Bakar Buku, Hujan di Bulan Desember, Lelaki Pemalu, dan beberapa lagu ERK lain yang dinyanyikan oleh Pandai Besi malam itu. Sebagai fan Cholil dkk, saya agak kecewa. Cara bernyanyi vokalis utamanya seperti lagi nyinden dengan irama yang datar dan terlalu banyak repetisi. Syarat utama merecycle lagu orang lain adalah kau harus membuat lagunya lebih baik dari lagu aslinya, tidak hanya berbeda. Pandai Besi sepertinya memaksakan untuk berbeda dari lagu aslinya, sayangnya tidak lebih enak untuk didengarkan.
 
Float, saya hanya mengenal mereka lewat 3 hari untuk selamanya, tidak lebih Dan semalam, saya baru tersadar, kenapa tidak mencari tahu lagu-lagu mereka sejak dulu. Musik mereka asik, lebih kental dengan akustik dan cajon, ada sentuhan etnik nusantaranya juga, dan yang khas dari performance semalam, ada bass petotnya. Saya suka timre suara vokalisnya "Meng", seperti perpaduan Bob Dylan dan Once, looh, huaa sukaaaaaa. Sambil menulis tulisan ini, saya sedang mendengarkan Pulang.

Payung Teduh, saya sangat menyukai Perempuan Dalam Pelukan, sejak setahun belakangan, tapi tak berusaha mencari tahu lagu mereka yang lain. Saya Kira vokalisnya, Is, yang belakangan saya tahu ternyata orang soppeng (tetanggaan dengan Bone kampung saya),  memiliki bakat gombal melebihi kemampuan Jessica Iskandar. Di Perempuan dalam Pelukan dia bilang begini "hanya ada satu bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya. haha. cocok buat nipu cewek.  Apalagi setelah Dhani (fan payah-nya yang benar-benar payah), meminta foto bareng dengannya, dan tangannya mengelus-ngelus kepala Dhani. Aiiisssh, saya semakin yakin dia sweet sama semua orang, apalagi sama cewek-cewek. wakakaka.

Saya ingin cerita sedikit soal si fan yang meskipun payah tapi tetep asik ini, Dhani. Saya sudah berjanji akan menulis soal kekonyolannya di belakang panggung malam itu.
Karena merasa sia-sia ikut berdesak-desakan di depan panggung, hanya melihat kepala-kepala manusia berjibun, kepulan asap rokok dan menyan (?) dimana-mana, akhirnya kami memilih mundur. Beruntung kami mendapatkan spot yang hot, pada tembok dengan tinggi sekitar 80 cm yang memanjang tidak jauh dari panggung. Di sana kami berdiri, saling merangkul, beratapkan langit yang sejuk, bernyanyi, bergoyang ke kiri dan ke kanan, tak berani maju atau mundur, takut jatuh ke got. Moment itu unforgetable. Sesaat kami lupa, jika kami hampir 30, dan belum nikah. hahaha. Saat Payung Teduh menyanyikan lagu penutupnya, Dhani langsung merangsek ke depan mencoba mengambil foto Payung Teduh. Sayang Dhani kembali dengan tangan hampa, hasil jepretannya hanya menghasilkan backlight, dan objek fotonya tidak kelihatan sama sekali. Untuk mengobati kekecewaannya, dan sebagai rasa terimakasih saya ke dia, karena berbaik hati mengambil vip Sore dan Tulus, bukannya Payung Teduh, kuajaklah dia ke belakang panggung. Gayungpun bersambut, tak lama setelah kami sampai di back stage, pentolan Payung Teduh berambut kribo itu, tiba-tiba menghampiri kami. Malang nasib kami, dia ternyata tidak sedang mendekati kami, dia sedang menghampiri temannya yang berada tepat di samping kami. Dhani sudah salah tingkah dan speechless. Dia bahkan tidak berani menegur, sang vokalis yang berada tepat didepannya. Setelah mengumpulkan keberanian, Dhani akhirnya meminta untuk foto bareng. Saya ditemani dengan hape yang sudah nenek-nenek dan leletnya ampun-ampunan, gelagapan mencari fitur kamera, setelah terbuka, saya kemudian disibukkan mengubah setting video ke kamera, dua menit berlalu tanpa hasil apa-apa. Sang vokalis yang belum kami ketahui namanya lalu menyodorkan power bank-nya untuk dijadikan kamera. hahaha. Beruntung dani sudah menyiapkan kamera hapenya, dan jreeet, tertangkaplah momen ini.


Sang Vokalis melanjutkan obrolannya dengan temannya, sementara Dhani grogi, salting, kebingungan, sibuk mencari tahu nama idolanya siapa!!! Dia menelpon temannnya untuk menanyakan siapa nama idola yang berada didepannya saat itu, tak ada jawaban. Saya jadi ikut grogi, mencoba bertanya ke om google, dan ketemulah jawaban Alejandro Saksakame. Saya kemudian berbisik ke Dhani, dhan namanya Ale!. hahahah. Dhani tidak memercayaiku, meskipun ada bukti bahwa nama itu saya dapat dari om google. Kami sibuk grasak grusuk sana sini, keringat dhani bercucuran, dan saya tak bisa menahan ketawa. Walhasil, Dhani tidak sempat ngobrol, bahkan hanya sekedar menanyakan kabar, kepada idola yang karya-karyanya sangat dia cintai itu. Beberapa menit setelah pria ramah itu berlalu, kami baru menemukan namanya di blog antah berantah, hanya dua huruf "IS". Kami tak bisa berhenti menertawai diri kami sendiri.

Belum puas kami  menertawai kekonyolan kami sendiri, Bang Ade datang menghampiri. Sungguh diluar dugaan. Dan lagi, ternyata disamping kami ada fan lain yang jauh lebih well prepared dengan membawa kaset dan buku untuk ditandantangani. setelah meladeni fan yang lebih meyakinkan itu, barulah kami berfoto. Yes akhirnya bisa foto dengan Bang Ade, ditemani saksofon dan rokok yang tak tak pernah lepas di tangan. Sejujurnya, akan lebih perfect jika disitu ada Awan, Echa, Bimbe, dan Ex-personel Mondo. Cuma saja saya masih terlalu gengsi untuk masuk ke ruang artis dan minta foto.


Sore dan Tulus tampil di akhir acara saat waktu sudah menunjukkan pukul 21:30. Kami nonton tepat di sebelah kanan panggung. Sebelumnya, saya belum pernah nonton konser sedekat itu. I was so exited. Dari spot itu, kami bisa memandangi seluruh penonton yang datang yang bernyanyi dengan hikmat. Musik bisa menyatukan manusia dari kelas apapun dia. Musik memiliki kekuatan tersendiri, salah satu instrumen paling ampuh dalam menggiring opini, menggerakkan massa, dan menyembuhkan. Yah menyembuhkan kepenatan.

Dalam sebuah artikel saya pernah membaca, bahwa Sore awalnya tidak begitu percaya diri saat manggung secara live. Katanya selalu ada yang tidak lengkap jika bermain di panggung, entah itu soundnya yang kurang oke, atau salah satu alatnya tidak berfungsi dengan baik. Memang sih di lagu-lagu Sore selalu ada instrumen tambahan yang membuat hasil rekamannya kedengaran epic, namun tidak semua alat itu selalu bisa dibawa ke panggung. Mungkin itu yang membuat mereka kurang maksimal saat di panggung. Malam itu Bang awan kembali membuat joke, saat memperkenalkan tulus, "nah kalo ini baru penyanyi beneran, sebelum-sebelumnya yang nyanyi gatot kaca", sambil melirik Ade. Spontan seluruh penonton tertawa. Terlepas Sore tidak banyak mengeskplore lagu-lagunya sendiri karena harus berbagi dengan Tulus, tapi Pergi Tanpa Pesan menjadi kado indah malam itu. Lagu itu sangat merdu dinyanyikan oleh Tulus. Kata Bang Awan, tak ada yang pernah menyanyikan Pergi Tanpa Pesan, seindah Tulus menyanyikannya. Ya saya sepakat dengannya!

Weekend yang menyenangkan dan menyembuhkan....

Danke

Senin, 09 Februari 2015

Music gives Soul to The Universe

Music is moral law. It gives soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and charm and gaiety to life and to everything (Plato).

Musik secara naluriah ada pada setiap mahluk. Angin, api, dedaunan, pasir, pun mampu menghasilkan harmonisasi bunyi yang indah, kau bisa saja menyebutnya sebagai musik. Burung, yang sebagian besar bersuara falseto dan tak pernah diajarkan teknik bernyanyi yang benar oleh mamaknya, mampu bersenandung dengan sangat indah, dan kau selalu merindukannya. Suara semilir angin bercumbu dengan desiran ombak, kau mengejarnya, kau bahkan rela menukarnya dengan tabunganmu selama setahun. Musik, saat dia menghentakmu, alih-alih merasakan sakit, kau malah menikmatinya dan ketagihan. Musik, adalah sahabat yang tahu kapan dia dibutuhkan, di saat kau merasa sedih, atau sebaliknya. Musik dan lagu, memiliki memorinya masing-masing, kau tidak perlu repot-repot mengingatnya, kau hanya perlu merasakannya.

Inikah Cinta, lagu R&B yang dinyanyikan oleh ME dan sangat hits di era 90an, bagiku lagu itu tidak hanya ngehits dimasanya, dia memiliki kenangan yang kuat yang mengingatkanku pada masa-masa SD dulu. Di belakang sekolah dekat kompleks perumahan, setiap sore saya dan sahabat kecil saya Irma, di atas pohon jeruk, kami bertengger di sana, bersahut-sahutan, inikah rasanya cinta, oh inikah cinta, cinta pada jumpa pertama, ah, ah, ah. Kami sangat menguasai lagu itu, sampai cengkok-cengkoknya, sekiranya lagu R&B punya cengkok.

Shape of My Heart-nya Backstreet Boys, saat itu, saya masih SMP dan setengah mati suka sama lagu itu, dan ingin menghapalnya. Tapi, saat itu saya belum bisa bertanya pada om google, saya belum pula tahu cara mengakses internet, kasetnya juga tidak punya, akhirnya saya hanya bisa mengandalkan pendengaran yang pas-pasan, mencatatnya, yang penting pelafalannya kedengaran mirip setidaknya mimik mulutnya rada-rada mirip, ya sudah itu saja.

Padi, Tak Hanya Diam, mengingatkanku pada seorang lelaki yang katanya penyiar radio, saya tak mengingat bagaimana kami bisa kenalan, dia hanya tiba-tiba sering curhat via telpon mengenai keluarganya dan Bapaknya yang terkena kanker yang akhirnya meninggal. Saat itu Padi baru-baru rilis video klip Tak Hanya Diam, dan sering menjadi bahan obrolan kami jika bosan curhat soal keluarganya. :D

NOFX, lagu-lagu punk, metal, underground, yang gebukan drumnya memekakkan telinga, tak ada lain, akan mengingatkan saya pada Kurt Kobokan. Si cowok bringas dan pemalu itu, menanam banyak memori di kepalaku melalui lagu keras. Dia pula yang memperkenalkan Sigur Ros melalui film Heima.

Gery, dia memengaruhi alam bawa sadar saya melalui lagu-lagu, seberapapun kerasnya saya menolaknya. Dia tidak hanya memaksa saya mendengar ulang lagu-lagu the beatles, blur, Radiohead, Silverchair, The Strokes, Weezer, oasis, coldplay, The Simth, Duran-Duran, Incubus, dll, dia juga punya segudang cerita soal sejarah dan personel band-band itu sendiri.


Dan, kurasa setiap orang punya cara sendiri memperlakukan lagu-lagu kesukaannya. Saya memperlakukannya sama seperti menyimpan baju di lemari pakaian. Ada baju untuk ke kantor, baju buat olahraga, baju buat ke kondangan, baju buat ke rumah nenek dan tante-tante, baju buat traveling, baju buat tidur, dan lain-lain. 

Saya menyimpan Frente, Zee Avi, Miskha Adam, Death Cab for Cuties, Aditya Sofian, Eisley, Sarah Mclachan, Dido, Alanis Morrisette, Naif, Chrisye, The Innocence Mission, di folder pengantar tidur. Lalu saya meletakkan Air Suplay, Duran duran, The Strokes, Keane, Morrisey, The Vines, Eddie Vedder, Cold Play di keranjang penyemangat saat olahraga. Saat karaoke, saya hanya perlu memanggil lagu-lagu hitsnya Beyonce, Sia, Rihana, Reza Artamevia, Christina Aguilera, dan semacamnya. Saat me time di kamar, atau lagi jalan di trotoar jalan raya, saya akan memanggil Oasis, Cold Play, Sore, The Strokes, The Vines, Iwan Fals, Incubus, Payung Teduh, Radiohead, Blur, dan teman-temannya.

Kau tentu punya baju favorit. Meskipun sudah usang, kau tetap saja memakainya kemana-mana, ke pasar, ke kampus, nongkrong di kafe, ke kantor, bersantai di rumah, kemanapun kau nyaman memakainya. Lagu pun begitu, kau tentu punya lagu/album andalan yang punya posisi tersendiri di hati dan kepalamu, tak peduli semasif apapun gempuran musik baru yang datang. Saya memiliki Don't Crying Your Heart Out-nya Oasis, Bed Shaped-nya keane, Trouble The Scientist Yellow Shiver-nya Coldplay, Ordinary World Duran duran, Merintih Perihnya Sore, Pengobral Dosa dan Nelayannya Iwan Fals, ah banyaaak.

Hanya dengan musiklah, saya bisa merasa menjadi manusia terkeren di dunia. Saya memiliki ritual, menyumpal telinga saya dengan headset, dan memutar lagu-lagu dari folder berjalan di trotoar, seolah-olah ada kamera tepat di depan wajah saya, sekali-kali jangan pernah diganggu, saya sedang menyelesaikan syuting video klip teranyer abad ini. Mirip seperti yang dilakukan oleh Chris Martin dalam video klip Yellownya di pinggir pantai. Saya sungguh merasa sangat keren. hahaha

Oleh sebuah lembaga survei di Amerika Serikat, menurut hasil penelitiannya, selera Musik mencerminkan kepribadian dan tingkat kecerdasan seseorang, dan yang menyedihkan mereka mengklaim orang-orang yang menyukai Beyonce adalah kelompok orang-orang bodoh. jleeeeeb. Suka sama Nicky Minaj, Miley Cyrus, Selena Gomes, haha kau akan dianggap keterbelakangan mental mungkin...

Sejujurnya, saya kurang sepakat dengan hasil penelitian itu, terlalu menjeneralisir! Masih masuk akal, jika menghubungkan selera musik dengan tingkat pengetahuan. Suku Anak Dalam Jambi, sangat tidak adil jika kau menganggap mereka bodoh hanya karena mereka tidak tahu lagunya John Legend. Tetangga saya yang sangat doyan dangdut koplo, tak bisa kau klaim IQ jongkok hanya karena mereka cuma tahu lagu pacar lima langkah, sakitnya tuh di sini, janda tujuh kali, dan hamil duluan. Karena mereka tidak membaca, tidak mencari tahu, tidak punya akses secara ekonomi untuk tahu, tidak sekolah, yang menyebabkan mereka tidak tahu, bukan karena bodoh! Tapi bisa jadi, orang-orang cerdas, juga memiliki selera musik yang tinggi, lihat saja Einstein dan Stephen Hawking, selain menyukai Mozart, mereka juga membuat lagu dan melodi sendiri. 

Grammy Awards 2015 baru saja digelar. Saya tidak begitu peduli dengan pemenang-pemenangnya, toh itu dibuat berdasarkan konsensus, dan tidak bisa lepas dari namanya subjektivitas. Saya hanya senang nonton permonces dalam acara itu. Grammy tahun ini, openingnya mantap sekali, Pharel William kembali memukau dengan happynya (tahun lalu dia juga menyanyikan lagu yang sama), Sia keren, dan ditutup dengan Glory oleh Jhon Legend. Ingatan saya belum bisa lepas dari performance paling dahsyat di perhelatan Grammy tahun 2014, Imagine Dragons dan Kendrick Lamar, membawakan, Radio Active. Saya sudah nonton video ini berkali-kali, dan masih saja terkagum-kagum. Performance mereka perfect, epic, menghentak, memesona, hidup!


Yang saya tunggu-tunggu dari Grammy Awards tahun ini adalah SIA, saya masih berharap dia mau bernyanyi layaknya penyanyi lain, dari pada hanya mempertontonkan wignya blondenya. Tapi bukan SIA namanya kalau dia biasa saja. Masih nyentrik seperti biasa, dia menyanyi menghadap ke dinding membelakangi penonton, dia percaya sepenuhnya kepada bocah berusia 12 tahun Maddie Ziegler dengan tariannya yang luar biasa keren. Saya tak mengerti tari, tapi tiap kali melihat tarian dalam setiap performance SIA, saya bisa merasakan tarian itu hidup, dan mencengangkan. Berikut salah satu performance SIA yang menakjubkan.

 

Oke, demikian dulu ulasan musik narsis alakadarnya ini. Banjir mengepung dari segala penjuru. Semua menjadi latah, lebai, panik, dan saling menyalahkan. Mari pulang...

9 Februari 2015
@office
Backsound:breaking news menyoal banjir

Jumat, 06 Februari 2015

Catatan Pete-Pete #2

Menurutmu, kenapa robot-robot yang masih sangat muda itu, dijejer di sepanjang jalan Salemba setiap pagi dan sore hari? Apa kau merasa terbantu dengan keberadaan mereka? Atau kau malah kasihan, mereka tak ubahnya seperti robot mainan yang dipunggungnya ada tombol untuk menggerakan siku sampai tangannya selebar 90 derajat, sebagiannya lagi seperti robot linglung memerhatikan mobil dan motor yang mengalir seperti muntahan lava gunung Merapi? Tidak, kau tak akan mengerti. Di belakang robot robot itu berbaris mobil-mobil atasan mereka, bus-bus kantor mereka, motor-motor mereka, menutupi hampir setengah jalan sumber kemacetan itu. Anak SDpun tahu, sekiranya mobil-mobil yang diparkir di belakang robot di sepanjang jalan itu disingkirkan, tentu jalan itu akan lebih lapang, dan tak perlu anak-anak yang baru tamat SMA itu dipajang seperti robot soak yang sedang linglung.

Masih menyoal robot tipe ini, belum jua kita move on dari perang antara cicak dan kebun binatanf, baru-baru ini muncul lagi hot news baru, video perselingkuhan antara robot dan kopaja! Secara terpola dan tanpa malu, kernek kopaja kopaja yang melintas di bunderah HI menyetorkan duit serupa membayar karcis di pos robot setempat. Kernek kernek itu tak ubahnya seperti berada dalam suasana perang, turun dari kopaja, berlari seefektif mungkin sambil plangak plongok kiri kanan takut kena ranjau kali, kadang-kadang sambil merunduk takut kena peluru mungkin, dan menyimpan setorannya  di pos robot, lalu melanjutkan pelariannya, lari secepat mungkin, mengejar kopajanya yang malu malu untuk berhenti.

Ah kau robot. Seandainya saja kau mencintai dan memperlakukan kami selayaknya saudaramu, atau sahabatmu, seandainya kau bisa membuktikan bahwa kau dapat diandalkan, seandainya saja kejadian selingkuh selingkuh itu tidak terjadi, sekiranya saja atasanmu tidak seperti tikus mengerat semua makanan yang ada, tentu kami rakyat jelata ini tidak akan terus menjaga antipati padamu.