Senin, 17 September 2012

Tentang Kebahagiaan dan Kesedihan



Ketika suasana hati sedang kelabu. Banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk mengobatinya. Tentunya tidak dengan mengumumkan ke seluruh penjuru dunia tentang masalah yang dihadapi melalui jejaring social, apalagi memanjatkan doa di wall facebook, twitter, atau dinding apapun itu. saat ini saya benar-benar elergi dengan hal semacam itu.
Ketika dirundung sedih. Banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk mengobatinya.   Memasrahkan kepada satu-satunya pemberi kehidupan, Jalan-jalan menyaksikan betapa banyak kehidupan di luar sana yang lebih menyedihkan, kontemplasi, atau membaca. Ada satu bacaan yang benar-benar bisa membuat semuanya terasa ringan. “Tentang kebahagiaan dan kesedihan”. Yah karya indah ini bisa ditemukan di buku “sang Nabi”-nya Kahlil Gibran.
Tentang Kebahagiaan dan Kesedihan
Suka cita adalah duka cita yang terbongkar kedok aslinya. Dari sumber yang sama, yang melahirkan tawa,betapa seringnya mengalir air mata.
Dan bagaimana mungkin terjadi yang lain?
Semakin dalam sang duka menggoreskan luka ke dalam sukma, maka semakin dalam sang kalbu mewadahi bahagia yang tersirat.
Bukankah piala minuman pernah menjalani pembakaran ketika berada dalam pembuatan?
Dahulu, bukankah seruling yang menghibur seorang insan, sebilah kayu yang pernah dikerati, tatkala dia dalam pembuatan?
Dan apabila kamu sedang bergembira, bercerminlah dalam-dalam ke dalam lubuk hatimu, disanalah engkau akan menemukan bahwa hanya dengan membuat derita, maka kau akan bisa membuat kebahagiaan.
Apabila engkau berduka cita, bercerminlah lagi ke dalam lubuk hatimu, di sanalah pula kau akan menemui bahwa sesungguhnya engkau sedang menangisi sesuatu yang pernah engkau syukuri.
Di antara kalian ada yang mengatakan:
“Suka cita itu lebih besar dari duka cita”.
Yang lain mengatakan:
“Tidak, Dukalah yang lebih besar dari suka”.
Tetapi aku berkata padamu:
Bahwa keduanya tak akan terpisahkan. Bersama-samalah di meja makanmu, serta ingatlah selalu bahwa yang lain sedang terlelap dipembaringanmu.
Sebenarnya engkau ditempatkan tepat di tengah timbangan, yang adil.
Menengahi kegembiraan dan kesedihan.
Hanya apabila engkau sedang hampa, kau akan terdiam tak bergerak, dan seimbanglah takarannya.
Ketika sang bendahara berkenan mengangkatmu,untuk menguji berat emas perak yang ada di pinggang, saat itulah kesukaan dan kedukaan akan timbul tenggelam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar