Senin, 05 September 2016

Surat untuk Purnama #9

Dear Purnama

Kamu tahu hidup di Jakarta bukan perkara mudah. Semua serba tergesa-gesa jika tidak bisa dikatakan penuh kepanikan. Di jalan, klakson kendaraan mengiung-ngiung dari segala penjuru, oksigen yang kau isap selalu dibarengin asap pekat yang menyembur-nyembur dari pantat kendaraan, sementara waktu terasa berjalan sangat cepat, membuat darah sangat cepat naik ke leher, kepala panas, dan rasanya ingin memaki semua yang ada disekitarmu. Kau kasihan? 

Teman saya baru saja balik dari sekolah di Japun. Di sana, dia terbiasa hidup dengan sangat nyaman dan teratur, tak banyak suara klakson, apalagi asap kendaraan. Berbanding terbalik dengan Indonesia yang tak punya industri otomotif tapi volume kendaraan yang beredar dijalannya bikin mau muntah, Japan tak membiarkan jalan-jalannya sumpek dengan kendaraan  meskipun dia adalah salah satu negara yang paling banyak memproduksi kendaraan. Kembali ke teman saya, hanya butuh dua minggu baginya masuk kantor untuk ambruk (red:sakit). Tak hanya capek karena tiap pagi dan sore hari jadi ikan pepes di commuter line, stress membuat daya tahan tubuh menurun.

Teman saya yang banyak menghabiskan waktunya di timur indonesia, suatu hari nyeletuk, saya tidak habis pikir kenapa kalian bisa hidup di tempat seperti ini (red:Jakarta). Yahh, hanya orang-orang terpilih yang bisa menekuni hidup serupa ini, menghabiskan waktu 3 sampai 4 jam di jalan, untuk bisa mendapatkan nafkah, yang kemudian habis jika tidak minus di bulan itu juga. Jangan tanya soal memiliki rumah. Harga rumah di sini sudah gila-gilaan. Pekerja rendahan seperti saya tak usah bermimpi memiliki rumah dekat dari tempat kerja. Satu-satunya cara memiliki rumah adalah dengan menyingkir ke pinggiran kota atau ke luar kota sekalian, dan menyicilnya paling tidak 15 tahun. Setelah itu, tak ada lagi family space fiscal, syukur kalau masih bisa makan daging sapi segar sekali dalam seminggu.

Kau tentu sangat paham dengan alienasi. kelompok kiri atau kanan kritis menyebut bahwa kita manusia modern yang hidup di kota besar dan sumpek seperti Jakarta adalah gerombolah orang-orang teralienasi. Kau ingat Dimas Pangestu yang kumisnya aduhai itu, menurutnya alienasi atau proses menuju keterasingan dapat diperiksa dalam empat hal. Pertama, saat anda terasing terhadap objek yang sedang anda kerjakan. Pada beberapa jenis pekerjaan terkadang anda bahkan tidak dapat mengakses produk hasil kerja keras anda. Misalkan anda bekerja membuat sepatu merek terkenal, namun upah anda jika dikumpulkan sampai kapanpun tidak akan cukup untuk membeli sepatu tersebut. Kedua, saat anda terasing terhadap proses-proses yang berlangsung dalam pekerjaan anda, anda tidak diberi hak untuk berkontribusi terhadap arah dari pekerjaan anda. Anda sama sekali tidak diperkenankan untuk merubah sistem yang sudah ditetapkan atas pekerjaan anda sekalipun ide anda benar. Ketiga, anda terasing dari orang-orang karena pekerjaan anda, jam kerja yang berlebihan akan membuat anda bahkan tidak punya sisa waktu yang cukup untuk berintraksi dengan keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar anda. Terakhir, anda terasing dengan diri anda sendiri akibat pekerjaan anda. Pekerjaan anda membuat anda tidak mampu memenuhi hasrat manusiawi anda. Anda tidak lagi menjadi diri anda sendiri. Anda seolah-olah adalah mesin, atau bahkan menjadi sekrup yang menopang roda gerigi pada mesin. Pekerjaan anda tidak akan pernah peduli apakah anda sedang tidak enak badan, sedang haid, atau sedang berduka, pilihan yang tersedia hanyalah “bekerja, atau dipecat.”

Alhamdulillah, hidup saya masih lebih beruntung dari parameter-parameter yang dikatakan dimas, tapi tinggal beberapa langkah lagi saya akan tergelincir ke sana, jika tak pintar-pintar mengatur diri. Saya mencintai pekerjaan saya, orang-orang di sekitar saya, dan lingkungan kerja saya. Hanya saja, kota ini seperti sudah tak tertolong lagi. Macet, stres, kacau!

Saat melihat nenek-nenek atau anak-anak duduk di jalan menengadahkan tangan, yang terlintas di pikiran saya, mereka pasti di organisir, lalu kuurungkan niat untuk membantunya. Saat melihat manusia gerobak dengan anak-anak yang tidak sedikit tidur di emperan jalan, saya berpikir sebetulnya mereka punya pilihan untuk hidup di kampung atau jangan-jangan rumah mereka di kampung besar. Hegemoni media sudah merasuk keotakku, belas kasihanku memudar, lama-lama empatiku hilang. Purnama, ini menakutkan!




Sabtu, 27 Agustus 2016

SETAHUN TANPA TV-YANG MENYENANGKAN



Selepas tamat sekolah menengah atas, TV memang tidak begitu penting bagiku. TV adalah barang mahal yang tak dapat kumiliki di kamar kosan yang sempit dan pengap. Kalaupun ada acara TV yang ingin sekali kutonton, masih ada TV tetangga kamar yang malu-malu kutongkrongi. Televisi memang bukan kebutuhan primer, tapi selalu menggoda untuk dipelototi bahkan tak segan merampok waktu dan akal sehat. Jujur saya sangat menyukai infotaikucingment. Menyenangkan rasanya menyaksikan Syahrini pamer kekayaan dan kenorakan dari satu negara ke negara lain, naik jet pribadi, dengan berlian dan tas hermes menggelantung ditangannya, serta sepatunya yang kayak tapal kuda itu. Rasa penasaranku mendadak tak bisa dibendung lagi, kala mengetahui olga saputra sakit dan menghilang, dan ikut bersedih saat kembali dalam keadaan tidak bernyawa. saya ikut panas dan mencak-mencak saat menyaksikan si ruhut sitompul banyak cincau di acara debat salah satu acara TV. Sulit menahan diri untuk tidak ikut dalam arus berita Jessica, beritanya mengalahkan ketenaran presiden atau siapapun, proses peradilannya disiarkan secara langsung dari pagi sampai malam, nonstop nyaris tanpa iklan. Belum lagi, sinetron-sinetron yang tak kelar-kelar. Saya pernah menyukai Joda Akbar, bahkan nonton di youtube saking penasarannya. Demi apa semua itu? demi sampah yang tak ada kontibusinya sedikitpun pada diri saya, volume otak saya, terlebih buat kemaslahatan umat.

Sampai akhirnya saya menikah dan pindah ke kontrakan baru. Kami sepakat tak akan membeli TV. Jadilah kami tak pernah nonton TV. Apa rasanya? Seluruh waktu adalah milikmu. Kami jadi lebih banyak ngobrol, saya jadi lebih rajin masak dan bersih-bersih, banyak waktu buat tidur, membaca, nonton film hasil downloadan, dan jalan-jalan. Ternyata, tidak  nonton TV itu menyenangkan. Cukup mampu menangkal stress! Lalu dari mana mengupdate info dan beritu? Semua jadi mudah sejak ada si phone yang smart itu. Sayangnya godaan beralih ke dia. Hiks. Sebetulnya banyak acara TV yang mengedukasi, menghibur, dan, berguna, jika saja mampu dan mau mengeluarkan gocek yang agak banyak tiap bulannya.

Tak terasa sudah setahun berlalu, tanpa TV, infotaikucingment, sinetron, berita-berita penguras emosi, dan iklan. Tak ada yang mengontrol imajinasi saya, tak ada yang mencolek-colek hasrat berbelanja saya, dan saya merasa lebih muda!

Backsound: Mars Penyembah Berhala by Melancholic Bitch
..........................
Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi. 
Semesta pepat dalam 14 inci.

Sabtu, 14 November 2015

***

Bukan mimpi namanya, jika itu terlalu mudah bagimu, mimpi sepatutnya setinggi-tinggi imajinasi. Anak-anak sepertinya sangat memahami konsep itu. Tidak heran, sebagian besar anak-anak akan memilih profesi dokter, astronot, atau  pilot sebagai cita-cita dan impiannya. Selain itu, profesi tersebut hampir mirip dengan kerjaan tukang sulap, expecto patrunum!, maka jadilah ia, si fulan yang sakit seketika menjadi sehat, berada diluar angkasa--apa yang lebih menakjubkan dari itu, apalagi terbang bak superhero-- hemm pastilah sangat menyenangkan. Namun seiring dengan bertambahnya usia, logika bercampur kenyataan hidup terkadang membawa kita pada kutub yang berbeda, mimpi yang tadinya setinggi langit berlahan menyusut cetek. Hanya sedikit yang bisa menjaga dan mengawal mimpinya menjadi kenyataan. Siapa yang menyangka teori relativitas Enstein yang besar dan revolusioner itu berawal dari imajinasi anak berusia enam tahun tentang bagaimana rasanya berkendara dengan kecepatan cahaya  bersama seberkas sinar. Enstein konsisten mengembangkan imaginasinya, dan beberapa dekade kemudian, seluruh dunia makfum terhadap teori itu. Seharusnya seperti itu cara merawat mimpi.

Saya pernah, bahkan cukup lama, mengagumi dan merawat mimpi menjadi seorang dokter, sampai akhirnya hasil SPMB menghempaskan mimpi itu atau tepatnya nyali saya. Meskipun pada akhirnya saya memahami bahwa menjadi orang berguna tidak harus menjadi dokter, tapi sampai saat ini, saya tetap menyimpan 6 bintang untuk profesi itu. Betapa tidak, saat kau merasakan sakit tak berdaya, kau melangkahkan kakimu menuju rumah sakit menemui dokter, seluruh harapan seolah kau limpahkan ke dia, hidup dan matimu tergantung dari keuletan dan intelegensinya.

Sebelum ilmu pengobatan modern seperti yang kita kenal saat ini berkembang, sebagian besar kebudayaan dalam masyarakat awal menggunakan tumbuh-tumbuhan herbal dan hewan untuk tindakan pengobatan. Sebetulnya metode pengobatan alamiah tidak pernah benar-benar punah. Saat ini metode pengobatan herbal malah menjadi alternatif pengobatan yang cukup digandrungi menyusul issu konspirasi perusahaan farmasi dalam meraup untung.

Di desa, pengobatan herbal tidak pernah surut, masyarakat tak pernah takut jauh dari dokter, karena mereka punya dokter keluarga masing-masing, sekiranya setiap orang yang bisa menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Sayangnya sebagian besar dokter keluarga ini sudah uzur. Di keluarga saya, mama tua (nenek) adalah dokter andalan di keluarga kami. Setiap ada salah seorang dari kami keturunannya yang sakit, terlebih dahulu kami akan berkonsultasi ke mama tua. Tak lama kemudian, mama tua akan datang membawa daun-daunan yang dia dapatkan di kebun belakang rumah atau kebun tetangga. Dan saya bisa memastikan, sejauh ini, pengobatan mama tua mujarab. Kami baru akan ke dokter, jika lebih dari 3 hari, penyakitnya tak kunjung surut, dan biasanya penyakit kami tak akan berlanjut ke dokter. Ironisnya, tak ada minat untuk mempelajari resep pengobatan mama tua, kami bahkan sangat jarang memberikan kredit kepada mama tua atas kemampuan pengobatannya tersebut, hanya karena dia tidak memperoleh pengetahuannya secara formal. Berbeda dengan profesi dokter, dengan jas putih bersih mentereng, stetoskop menggantung di pundak, tulisan tangan yang tak bisa dibaca, dan alat kedokteran yang canggih, membuatnya beribu-ribu kali lipat lebih keren dari mama tua. Profesi dokter hampir selalu  ada dalam list cita-cita seorang anak, profesi dokter dihormati, mulia, putih serupa peri penolong yang menentukan hidup matimu.

Lalu, belakangan, dokter menjadi mahluk baru bermuka dua, mereka dipuja, sekali waktu dicaci. Pemujaan terhadap profesi dokter membuat mereka membangun dunianya sendiri, eksklusif, dan nyaris tidak dapat dijangkau oleh masyarakat kecil. Tak banyak yang bisa dihasilkan oleh popularitas dan pemujaan yang berlebihan selain kecongkakan. Ditambah lagi kasus malpraktek, mahalnya biaya konsultasi ke dokter berikut biaya obat-obatan dan fasilitas kesehatan lainnya, attitude sebagian dokter yang memperlakukan pasien seperti onggokan sampah yang tinggal menunggu waktu terurai, dan dokter yang berafiliasi dengan perusahaan farmasi, dokter muda wefie-wefiean saat sedang belajar operasi, membuat dokter menjadi semakin berjarak dengan masyarakat. Sebetulnya dokter tidak berdiri sendiri dalam mambangun stigma ini, sistem pendidikan dan regulasi kesehatan kitalah yang membuatnya menjadi lebih buruk. Tapi kita tak akan membahasnya sampai ke sana.

===

Saya masih mengagumi profesi dokter, dan juga masih menyimpan stigma sebagian besar dokter congkak, sampai akhirnya saya berurusan dengan dokter dan harus menginap di rumah sakit dengan jarum menancap di nadi. Saya adalah pasien BPJS, dan sudah siap diperlakukan setengah hati oleh dokter dan seluruh crew rumah sakit. Saya sudah siap menelan ludah menahan perasaan sedih karena tidak dianggap, dan berbisik dalam hati sekiranya petugas rumah sakit itu tahu betapa penghargaan mereka kepada pasien adalah obat yang bisa menyembuhkan. Saya sungguh sudah siap dengan seluruh kenyataan dan stigma itu.

Namun, harapan tak selalu menjadi kenyataan, dan ini sangat langka, harapan buruk berakhir dengan kenyataan memuaskan, what a releaf! Kami mendapati semua petugas di RS itu melakukan fungsinya dengan sangat baik, sebelum masuk ruang tindakan, saya sudah merasa sembuh. Saya bisa merasakan dokter memperlakukan saya sepenuh hati, misalnya menjelaskan segala sesuatunya dengan rinci, memberikan dorongan dan semangat, menjelaskan tindakan apa yang mau diberikan kepada saya, bahkan sebelum dibius, dokter anastesinya (yang dari perawakannya sudah sangat senior dan berpengalaman) memperkenalkan diri dan menjelaskan saya akan disuntik apa dan akan kehilangan kesadaran selama berapa menit. Selesai tindakan, tak ada masalah dengan administrasi, hanya butuh beberapa menit, urusan dengan rumah sakit beres.

Saya memilih dokter itu secara acak, ekspektasi sayapun tak terlalu tinggi. Namun sekali control dengannya, saya sudah berkesimpulan, saya memilih dokter yang tepat. Satu hal yang paling menarik, dia pelit memberikan resep obat. Saat dia harus memberikan resep obat, dia menganjurkan saya membelinya di apotik umum, katanya dia tidak suka obat di RS tempat dia praktek, harganya terlalu mahal, kamu beli di apotik umum saja, lebih  murah! Hahah, see, tidak semua dokter berafiliasi dengan perusahaan farmasi. Terberkatilah dokter-dokter baik hati dan punya prinsip.


Saya sangat percaya, pelayanan dan kehangatan dokter dan petugas rumah sakit merupakan hal yang tidak terpisahkan dari upaya penyembuhan pasien. Saya merasa perlu menulis pengalaman ini, di tengah turunnya kepercayaan masyarakat terhadap kredibiltas dokter, selain itu saya masih terlalu respek dengan profesi dokter. Bagiku, dia masih seperti tukang sulap, perpanjangan tangan Tuhan, expecto patrunum, kunfayakun, maka sembuhlah kamu. 

===



Rabu, 16 September 2015

Be Grateful



Seekor kedelai terus menengadahkan kepalanya ke sebuah pohon apel,  menunggu jatuhnya sebuah apel merah merona, apel yang sudah ia incar selama berbulan-bulan, sejak masih dalam rupa kuncup. 

Sayangnya, apel itu seperti menolak tarikan gravitasi dibawahnya, tak kunjung jatuh. Tinggallah si kedelai meratapi nasib, sungguh malang nasibku, saya hanya ingin mengecap manisnya sebiji apel itu, tapi Tuhan tak memedulikanku sama sekali

Saking sibuknya dengan kesedihannya, ia tak punya waktu untuk melihat ke sekitarnya, disana terhampar kebun anggur yang subur, buah-buahnya jatuh berserak di rerumputan, bahkan banyak yang sudah membusuk. 

Sang kedelai, terlalu sibuk memimpikan manisnya buah apel, hingga tak pernah terpikirkan olehnya untuk mencoba mengecap manisnya anggur. 

Ia terus dirundung sedih dan kelaparan, di tengah kebun anggur yang subur dan luas.

Sungguh, rejeki selalu datang dari segala arah. hanya saja, terkadang kita terlalu fokus pada satu pintu yang tak kunjung tersingkap. 

Kemudian, kita berteman dekat dengan kesepian dan kesedihan.


Rabu, 20 Mei 2015

MANUSIA PERAHU, KEMANA HARUS BERLABUH?




Dosa apa yang telah dilakukan oleh minoritas muslim Rohingya, sehingga tak ada lagi tempat untuk mereka di muka bumi ini? Bagaimana bisa, jagad raya maha luas yang diciptakan oleh Tuhan ini, gratis untuk seluruh mahluk hidup dan tak hidup sekalipun, menjadi begitu mahal harganya, oleh ulah sekelompok orang yang menyebut dirinya sebagai negara? Beritahu logika apa yang bisa digunakan untuk memahami, ribuan orang, wanita dan anak-anak, kelaparan, sakit dan depresi, terapung-apung di tengah lautan, mencari daratan dan perlindungan, namun tak ada lagi empati dan sedikit saja rasa iba untuk membiarkan mereka sekedar berlabuh, dengan mengatas namakan keinginan rakyat dan Negara?

Sekiranya, pangeran Sidharta atau yang lebih dikenal dengan Gauthama Buddha masih hidup, tentu dia akan menangis sejadi-jadinya, menyaksikan sekelompok pengikutnya kehilangan nurani dan melupakan pokok ajaran Buddha yang kedua; tidak memikirkan kepentingan diri sendiri dan terbelenggu oleh nafsu. Pemerintah Myanmar yang mayoritas beragama Buddha menolak suku Rohingya sebagai warga Negara mereka. Bahkan, sebutan Rohingya bagi masyarakat Myanmar adalah hal yang tabu. Mereka menyebut kelompok muslim Rohingya dengan nama Bengalis. Bengali adalah sebutan diskriminasi bagi kelompok Rohingya, yang mengekpersikan kebencian (xenophobia), dan mengimplikasikan bahwa suku Rohingya adalah imigran gelap dari Bangladesh.  Tahun lalu, 40 orang Rohingya termasuk anak-anak dibunuh secara kejam di Desa Du Chee Yar Tan oleh penduduk setempat. Sudah beberapa dekade, minoritas Rohingya mengalami diskiriminasi dan penganiayaan oleh Myanmar. Bagi minoritas Rohingya, hanya ada dua pilihan, Live and die or leave by boat. Sementara itu, Aung San Suu Kyi, penerima nobel perdamaian yang terkenal itu, yang katanya lagi kepengen jadi presiden Myanmar tahun 2015, hanya bergeming, menjadi penonton pasif, menyaksikan kejahatan kemanusiaan bergulir selama bertahun-tahun di negaranya. Katanya, dia tidak berkomentar karena takut memperkeruh suasana. Spekulasi lain beredar, dia memilih menjadi pendiam, untuk mengamankan dan merebut hati rakyat Myanmar dalam pemilihan presiden mendatang.

Selama berbulan-bulan, ribuan migran Myanmar dan Bangladesh terapung-apung di lautan Hindia, tanpa tahu harus kemana, setelah Pemerintah Thailand menolak kapal tersebut untuk bersandar, dan juga di usir oleh otoritas Malaysia kembali ke tengah lautan, dan akhirnya ditelantarkan oleh agen perdagangan manusia asal Thailand di tengah lautan Asia Tenggara. Kemana gerangan hati nurani, menelantarkan ratusan wanita dan ibu-ibu yang menangis, anak-anak yang memohon pertolongan, kelaparan, sakit-sakitan, bahkan sampai meminum urinenya sendiri karena kehausan? Otoritas Thailand secara resmi menyatakan menolak kapal berisi migran tersebut, termasuk didalamnya wanita dan anak-anak, dan beralibi sudah melakukan tanggungjawabnya dengan memberikan makanan dan minuman. Sementara otoritas Malaysia menyatakan, mereka mengirim migran tersebut kembali ke tengah lautan, karena Myanmar dan Bangladesh tidak dalam kondisi perang, jadi tak ada alasan untuk menerima migran tersebut. Mereka beralasan penolakan tersebut merupakan keinginan warga negaranya yang tidak menginginkan migran tersebut masuk ke negaranya. Malaysia memang telah menampung ribuan pengungsi Rohingya pasca kerusuhan yang terjadi di Miyanmar tahun lalu, tetapi bukankan dalam kondisi seperti ini, prioritas pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan hidup, menyelamatkan ribuan orang dari kelaparan dan ancaman kematian, dan itu adalah tanggungjawab setiap mahluk yang memiliki nurani apatah lagi institusi bernama negara!

Pada akhirnya, nelayanlah Acehlah, yang tanpa berpikir panjang, melaporkan dan memberikan pertolongan, disusul dengan tumpah ruahnya belas kasih penduduk Aceh kepada saudara-saudara kita yang malang itu. Saya menitikkan air mata menyaksikan foto-foto para pengungsi tersebut, membayangkan mereka kelaparan, kehausan, depresi, selama berbulan-bulan, di tengah lautan, tanpa tahu akan berlabuh dimana. Mereka, orang-orang tanpa negara, tak memiliki apapun. Di saat yang bersamaan, saya juga merasa begitu  bangga kepada suadara-saudara saya di Aceh, kepada Pemerintah Aceh, yang dengan tangan terbuka, memberikan pertolongan kepada para pengungsi tersebut, kebaikan mereka ditakzimi oleh seluruh dunia. 



Menerima migran Rohingya memang merupakan masalah yang pelik, apalagi bagi negara berkembang seperti Indonesia. Boro-boro memberikan kehidupan yang lebih baik kepada para pengungsi tersebut, penduduk sendiri saja masih banyak yang menganggur dan miskin, belum lagi gesekan sosial yang akan timbul pada saat pengungsi tersebut berbaur dengan masyarakat setempat, dimana para pengungsi tersebut akan menerima banyak bantuan dari UNHCR, NGO, lembaga donor, dan negara lainnya. Apa yang dilakukan oleh Pemda Aceh dan pemerintah Indonesia patut diapresiasi, ini adalah krisis kemanusiaan yang serius, sepatutnya semua negara khususnya negara Asian berkerja secara bersama-sama menyelesaikan masalah ini.

***

Selasa, 14 April 2015

TENTANG SI KECIL PAHIT YANG MEMUKAU


Saya bukanlah pecinta kopi. Meskipun tak menganggapnya penting, saya masih mengkonsumsinya, dengan kuantitas yang bisa dihitung dengan satu tangan dalam sebulan. Biasanya dengan tujuan khusus, menahan kantuk saat rapat, atau dalam rangka begadang jika weekend tiba. Konon, kopi pertama kali ditemukan sebagai minuman penambah energi oleh seorang petani Ethiopia bernama Khalid saat mengembala kambingnya. Kambing Khalid tiba-tiba menjadi sangat atraktif sesaat setelah memakan biji kopi. Saya berharap, reaksi tubuh saya setelah meminum kopi sama seperti kambing-kambingnya Khalid. Tapi itu tak terjadi, seringkali efek dari kopi yang saya minum malah seperti efek obat tidur, saya malah semakin tak berdaya melawan kantuk.

Sampai akhirnya saya nonton film bertema kopi yang diproduksi oleh seorang sutradara muda bernama Anggi Dwimas Sasongko. Sepertinya saya harus membuka mata, kopi bukan hanya sekedar minuman yang ngehits, lebih dari itu, kopi mengandung banyak cerita dan makna dibaliknya. Film berjudul Filosofi Kopi ini diadaptasi dari cerita pendek Dee lestari yang juga berjudul "Filosofi Kopi". Saya menyukai hampir semua cerpen dan prosa dalam buku Filosofi Kopi. Yang paling saya sukai adalah Spasi, namun seperti terserang amnesia lokal, cerita Filosofi Kopi tak mampu kuingat sama sekali. Jadi pada saat menyaksikan film Filosofi Kopi, saya tak perlu membanding-bandingkannya dengan cerita aslinya dalam buku.



Sejak pertama kali isu Filosofi Kopi akan difilmkan muncul, saya langsung antusias ingin menontonnya. Entah kenapa saya punya firasat film ini akan berhasil mencuri perhatian---tidak seperti Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang "sorry to say" terkesan serba maksa, Songong, dan Sok. Menurutku tak ada yang berhasil dari film yang diadaptasi dari Series Supernova-nya Dee Lestari itu. Bukunya sih keren, filmnya yang gagal fokus---. Dan tanggal 9 April kemarin, tepat di hari pertama tayang di bioskop, saya dan dua orang teman saya si batak Rimbi dan putri keraton Dian, berhasil nonton cantik di bioskop murah meriah Atrium. Kami bahkan nonton dua kali! Yang kedua terjadi karena kecerobohanku menghilangkan potongan tiket berikut tiket teman-temanku, padahal tiket XXI itu bisa dijadikan tiket masuk ke kafe Rolling Stone menyaksikan konser Filosofi kopi. Akhirnya kami nonton (lagi) kilat pada saat jam istirahat makan siang, demi untuk mendapatkan potongan tiket dan bisa nonton konser filosofi kopi. Kurang militan apa coba?

Saya suka dan puas, meskipun ada beberapa bagian yang agak silly. Sound effectnya kurang greget, akhirnya terkesan krik krik dibeberapa bagian. Ada juga scene yang meaningless, contoh adegan curcolnya El dan Jodi di kebun kopi, dialog panjang si Jodi dan cicinya yang terlalu sepi dari sound effect, atau dialog panjang si debt kolektor dengan Jodi yang lagi-lagi kurang greget. Terlepas dari itu, saya sangat mengapresiasi film ini. Film ini tidak hanya bercerita soal produksi kopi mulai dari cara penanamannya sampai cara penyajiannya, tapi juga banyak mengeksplor hubungan persahabatan,  dan yang lebih menarik, film ini menyentil nasib petani kopi yang banyak tersingkir akibat dari ekspansi perusahaan besar dan godaan mengganti komoditi kopi dengan komoditi lain yang lebih menguntungkan. Dalam sebuah wawancara, Glen Fredly sang co-produser bilang, film ini memang didedikasikan kepada para petani kopi di Indonesia. Ini merupakan angin segar bagi perfilman indonesia, film dengan pesan yang kuat sudah terlalu jarang kita temui di perfilman kita. Jika ingin mengangkat kembali perfilman indonesia, maka paling pertama yang bisa dilakukan adalah memperkuat tema ceritanya terlebih dahulu, sekiranya kecanggihan masih terlalu jauh untuk kita jamah. Kita tidak akan belajar jika terus-terusan membebek selera pasar dan godaan profit yang menggiurkan. Kampanye untuk nonton film Indonesia secara besar-besaran dan gratis beberapa hari yang lalu tidak ubahnya seperti layanan operator yang menawarkan fasilitas gratis, tapi dengan syarat dan ketentuan berlaku, parahnya lagi sinyal dan kualitasnya tiarap. Mau sebanyak apapun film gratisnya, kalau yang ditawarkan film pocong pocong, atau tema percintaan ababil akut, tidak akan membawa kita kemana-mana. Tawaran itu tak mampu menandingi film hollywood atau film negara lain yang jauh lebih maju dari sudut pandang manapun kita melihatnya.

Saya tak begitu menyukai kopi dan tak paham kenapa teman-teman cowok saya begitu mencintai kopi hitam, pacar saya bahkan mengakui dengan sangat fulgarnya bahwa kopi hitam adalah cinta sejatinya. Namun, tetap saja si kecil, hitam, dan pahit itu tak pernah kuanggap penting. Sampai akhirnya, film filosofi kopi berhasil membalikkan segalanya, saya memang tetap tak rutin mengkonsumsinya, tetapi penghargaanku terhadap kopi jauh lebih maju saat ini. Bahwa negara kita adalah penghasil kopi terbesar kelima di dunia. Bahwa negara kita ditopang oleh petani kopi yang berada di berbagai pelosok indonesia. Bahwa kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya, kopilah yang menyatukan anak-anak muda di warung kopi atau di teras rumah menyulam impian kecil mereka menjadi rencana yang maha besar, kopilah yang menjadi lampu berkekuatan 500 watt di kepala para sastrawan, para peneliti, mahasiswa, doktor, profesor, wartawan, di malam-malamnnya yang sunyi. Bahwa petani kopi kita adalah kelas/lapisan terbawah yang sangat mudah tersingkir dan tertindas dalam bisnis kopi kapitalis yang terus menggurita. Bahwa kita sebagian besar masyarakat indonesia tidak menyadari betapa beruntungnya kita memiliki kopi-kopi terbaik. Bahwa barista bernama Ben di film Filosofi Kopi  itu, guaaaaantengnya pooooooooooolllllllllllll uaaaaaanjeeeeeeng. ^_^
Ben, Al, dan Jodi di Konser Filosofi Kopi Kafe Rolling Stone

Chicco Jerikho, tiba-tiba saja mengalami metamorfosis yang sangat pesat. Sebelumnya, dia hanya pemain FTV dan sinetron yang biasa-biasa saja. Namun setelah main di Cahaya dari Timur Beta Maluku dan memenangi piala citra 2014, dia seperti baru terlahir kembali dengan segala pesona  yang dia miliki. Pemeran Ben dalam Filosofi Kopi itu memiliki tanggung jawab yang cukup besar jika tidak bisa dikatakan sangat besar atas kesuksesan film tersebut. Kegantengannya melebihi Tristan dalam film The Legend Of The Fall. Dia berhasil menghidupkan karakter Ben dengan sangat sempurna, Ben si barista ambisius, cuek, dan cinta mati sama yang namanya kopi. Keberhasilan tersebut tidak bisa lepas dari tandemnya Rio Dewanto yang berperan sebagai Jodi "si paman gober" yang pelit dan perhitungan. Jodi merupakan sahabat Ben dari kecil sekaligus pemilik modal dan mesin penghitung cuan kedai Filosofi Kopi. Ben dan Jodi menganalogikan dirinya sebagai kepala dan hati, Jodi sebagai kepala yang selalu realistis, sementara Ben adalah hati yang selalu idealis dan melakukan segala sesuatu hanya dengan satu alasan, karena cinta. Berlatar belakang kota Jakarta, film ini tidak lantas menipu diri dengan terus menjual Jakarta dengan segala keglamorannya. Gang-gang yang sempit, pasar tradisional, warteg dan es tehnya yang selalu menyegarkan, menjadi pemandangan yang biasa dalamfilm ini. Bahasa yang digunakan juga santai dan sangat natural, terkadang disisipi dengan bahasa kotor, dan inilah realitas yang kita temui di jalan tiap hari.


Konser filosofi kopi


Hal lain yang membuat film ini sangat layak untuk diapresiasi, bukan hanya karena subtansi dari ceritanya sendiri yang bagus, tetapi juga melibatkan musisi-musisi hebat baik yang sudah terkenal maupun baru untuk mengisi soundtrack film tersebut. Mereka adalah Maliq & d'Essentials, Gilbert Pohan, Sidepony, dan band yang dijaring melalui kompetisi ngeracik musik SVARNA. Dan yang bertanggung jawab atas keterlibatan musisi musisi tersebut adalah Glend Fredly.

Empat hari setelah tayang premier, pada tanggal 13 April 2015 kemarin, bertempat di Kafe Rolling Stone, Filosofi Kopi movie mengadakan konser dengan menghadirkan seluruh penyanyi soundtrack, produser, sutradara, casts, dan crew dari film tersebut. Saya termasuk orang yang percaya bahwa film yang bagus selalu didukung oleh soundtrack yang bagus pula. Pada malam itu, di konser yang cukup intimate, dihalaman belakang kafe Rolling Stone, bersama teman sebangsa dan setanah air yang kece tapi norak Rimbi Dian dan Langun, saya merasakan energi dan otimisme terhadap musik dan film indonesia. Sayang lagu-lagunya belum rilis, dan belum bisa dibajak juga. hahaha

Ngopi dulu, sebetulnya cuma rimbi yg ngopi, yang lain minum soda

Ada satu hal yang membuat saya terenyuh malam itu, pada seorang pria berkemeja biru muda, mengaku sebagai petani kopi, dan menyanyikan lagu-lagu bertema sosial dan lingkungan dengan petikan gitar yang rada-rada ngecountry. Setelah menyanyikan beberapa lagu, dia turun ke sisi kiri panggung, merapikan gitarnya dan memasukkannya ke dalam tas sambil jongkok. Setiap kali ada orang yang datang mengajak untuk berfoto, dia selalu meladeninya dengan ramah, lalu lanjut mengepack alat musiknya lagi. Setelah itu, dia berdiri di sisi panggung itu sampai konser hampir ditutup. Dia tidak memperlihatkan sedikitpun lagak, bahwa dia adalah seorang vokalis band yang sudah berpetualang ke banyak penjuru negeri menyuarakan isu sosial dan ekologis, jika dia adalah seorang aktifis lingkungan yang mendedikasikan banyak waktunya untuk menjaga alam Indonesia dari kerusakan dan kerakusan manusia-manusia bumi. Sementara orang-orang yang baru melakukan sedikit saja kampanye sosial, terlena dalam selebrasi dan pujian di atas panggung. Pria itu selain berilmu, dia juga telah banyak melakukan hal bermanfaat, namun kepalanya terus merunduk ke bawah. I really adore you Robi Navicula.
Me and Robi Navicula

Saya selalu menikmati momen dimana saya menggilai sesuatu, menggilai ketampanan Chicco, menggilai Filosofi Kopi the movie, menggilai kesederhanaan para petani-petani kopi, dan menggilai kejeniusan dan kesederhanaan musisi-musisi hebat. Saya memaklumi rimbi yang histeris dan gemetaran saat dirangkul dan dicium oleh chicco, sementara dian merengut tak karuan karena tak mendapatkan kesempatan yang sama. Saya rela diserang demam chicco selama berhari-hari dan tak tahu obat penawarnya apa.
Dari kiri ke kanan, Chicco, Jempol Rimbi, dan Rio

Meskipun yang keliatan cuma gigi, tak apalah, ini bukti kongkrit rimbi habis dirangkul chicco. Haha

Karena terkadang hidup butuh kegilaan untuk membuatnya lebih hidup.

------
Nb: Para pecinta kopi seharusnya nonton film ini. Ini bukan hanya sekedar mengapresiasi film indonesia, tetapi juga bentuk apresiasi kita kepada petani-petani kopi di indonesia dan pecinta kopi itu sendiri.