Rabu, 12 Oktober 2016

Sandyawan "Santo Pejuang Kemanusiaan"


Pada hari ini, kita bersama sama akan menyaksikan sebuah peristiwa, dimana kebrutalan kapitalisme, tidak akan mampu menggusur akal sehat dan hati nurani bangsa ini.  Kita menyaksikan keangkaramurkaan, betapa(pun) besar kekuatan yang digunakan gubernur DKI jakarta, tidak akan mampu mengalahkan kami yang kecil ini, rakyat jelata, yang meskipun kami sudah lama diperlakukan secara tidak adil, saksikanlah kami tidak takut, tidak jera, karena kami punya harga diri! kami akan melawan dengan sikap dan jiwa yang besar tanpa kekerasan!

Kami mengajak seluruh warga Jakarta, yang mempunya hati nurani, untuk merapat dan tidak takut lagi dengan ancaman dan kebrutalan pembangunan kota Jakarta, yang hanya mementingkan tembok-tembok dan gedung-gedung besar, tetapi melupakan ekonomi rakyat kecil, melupakan kemanusiaan yang adil dan beradab. Kami sudah lama melakukan sikap yang lebih berbudaya ketimbang Pemprov DKI yang main gusur, sementara orang-orang kaya yang membangun kotanya di pulau reklamasi, tanpa ijin, tanpa IMB, tanpa Raperda, dibiarkan begitu saja! Sebuah tindakan yang tidak adil! Bagaimana mungkin rakyat kecil, yang mempunyai sertifikat dan bukti-bukti kepemilikan tanah dikatakan tidak pantas memilikinya, hanya karena miskin?
Sandyawan berorasi sesaat sebelum Bukit Duri diluluhlantahkan aparat/Sumber Facebook
Penggalan orasi di atas diteriakan dengan nada lantang bergetar oleh seorang lelaki paruh bayah ringkih, dengan topi baret yang bertengger dikepalanya, di sebuah pagi yang kelam, di perkampungan Bukit Duri, sesaat sebelum diluluh lantahkan oleh buldozer dan gerombolan robot-robot bermuka datar suruhan Gubernur DKI sang penguasa Jakarta Raya. Pria yang disapa Romo Pemulung itu tidak bisa tinggal diam menyaksikan kezaliman menimpa ratusan keluarga, ibu-ibu dan anak-anak, kehilangan tempat tinggal, kehidupan sosial dan mata pencaharian mereka, dalam sekali waktu. Romo kelahiran Jeneponto bernama lengkap Ignatius Sandyawan Sumardi itu, terus melawan dan mengadvokasi masyarakat, menolak penggusuran dan pemindahan ke Rusunawa di luar jangkauan kemampuan ekonomis warga yang sudah turun-menurun bermukim di kawasan Bukit Duri. Namun demikian, meskipun proses gugatan class action warga Bukit Duri masih berlangsung di pengadilan, pemerintah tetap melakukan penggusuran dengan dalih telah melaksanakan sesuai prosedur karena telah memberikan surat peringatan kepada warga.

Dalam sebuah video yang diunggah di Youtube oleh akun Iman D Nugroho berjudul Babak Baru Perlawan Sandy, Pria yang belakangan menolak disapa Romo itu menjelaskan dengan ilmiah dan tenang terkait fenomena penggusuran yang menjadi kebijakan favorit pemerintah saat ini.

Sejak tahun 1990, ada 3000 sampai 7000 KK warga miskin urban yang digusur paksa tanpa diberi solusi alternatif yang berarti. Ternyata akumulasi ini tidak berubah bentuknya bahkan sampai dengan sekarang. Jumlah internally displaced persons (pengungsi dalam negeri) meningkat karena penggusuran. Jaman ini adalah jaman pragmatisme pembangunan, utamakan pembangunan infrastruktur fisik, sementara infrastruktur sosial, ekonomi dan budaya hancur lembur. ketika infrastruktur fisik diutamakan, justru infrastruktur ekonomi kocar-kacir. Bagi warga yang paling utama adalah pekerjaan sektor informal, bukan tempat tidur atau tempat tinggal, betapapun tampak mewahnya. Banyak diantara warga yang memiliki bukti kepemilikan pervonding indonesia, akta jual beli, PBB, dsb. Apakah pemprov DKI punya bukti kepemilikan? seluruh tanah di negeri ini adalah tanah negara, dikuasai negara, tetapi kalau pemerintah menyatakan itu tanahnya maka pemerintah harus menunjukkan bukti kepemilikan!

Saat ditanya soal alternatif gubernurmu siapa, Sandy menjawab

Itu bukan pertanyaan buat saya, bagi saya itu tidak relevan. Coba berpolitik itu politik tentang kemanusiaan, yang mengurus perkara-perkara hidup rakyat yang sederhana, bukan sekadar politik artifisial, politik pilkada, politik tawar menawar, dagang sapi, berebutan uang dan kekuasaan. Saya selalu hidup di dataran rendah Jakarta, saya merasakan sekali kehancuran kohesi sosial masyarakat. Bagaimana mungkin rumah-rumah di pulau reklamasi, yang sama-sama rumah-rumah tidak punya IMB, tapi pulau reklamasi itu raperdanya belum selesai, tidak digusur?  Kalau kebiasaan berbohong dan mengubah kebijakan sesuai selera dengan keyakinan sendiri, tanpa pernah mendengarkan aspirasi rakyat dan berjalan secara membabi buta di dalam kekuasaan ini, rakyat akan membuat perhitungan!
Karena aktivitas sosial dan advokasinya itu, Ahok-pun menuding Sandy sebagai provokator dan penghasut warga Bukit Duri. Tudingan Gubernur DKI Jakarta tersebut kemudian diamini oleh gerombolan para pendukungnya. Bermacam-bermacam tudingan mulai dari penipu, pelestari kemiskinan, penjual kemiskinan, makelar tanah, pemberontak, anti-pemerintah, provokator, iblis, pengkhianat sampai komunis dan kriminal diterima Sandy.
Sandy mencintai orang-orang miskin lebih dari dia mencintai diri dan keluarganya. ia memilih jalan sunyi sejak di usia yang masih sangat belia. Selepas SMP, atas pilihannya sendiri, Sandyawan melanjutkan sekolah ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang. Pertengahan tahun 1980-an, ia pun memutuskan untuk masuk kuliah ke Seminari Tinggi di Yogyakarta. Pada tahun 1988, Sandyawan ditahbiskan menjadi Pastor dari Serikat/Ordo Yesuit. Ordo Yesuit adalah ordo terkemuka dalam agama katolik dimana anggota-anggotanya terdiri dari orang-orang terpelajar dan berpengalaman. Mereka tidak hanya ahli dalam bidang teologi, tetapi juga dalam ilmu sains, ekonomi, budaya, sastra dan sebagainya.

Ketertarikan Sandyawan untuk berbaur dan mendalami kehidupan masyarakat kecil dimulai sejak ia masih di bangku kuliah. Setiap kali masa liburan perkuliahan datang, ia selalu minta izin kepada Pastor Provinsial Serikat/Ordo Yesuit, untuk mendapatkan tugas mendalami kehidupan kaum miskin, yang tersisih dari proses pembangunan di negeri ini. Caranya cukup unik, yaitu dengan menyamar dan berbaur sehingga kelompok sasarannya sama sekali tidak mengetahui statusnya sebagai seorang biarawan.

Amatlah tidak beralasan dan terburu-buru jika menuding Sandy sebagai penjual kemiskinan dan penipu, sementara seluruh hidupnya dipersembahkan untuk membantu dan mendampingi penduduk miskin. Sandy bukanlah politisi atau peneliti yang turun ke perkampungan kumuh untuk kepentingan tertentu. Dia hidup dan menyatu didalamnya, dan berontak ketika ketidakadilan datang padanya.

Tak banyak yang bisa menyamai sepak terjang Sandyawan dalam mendalami kemiskinan, ia bahkan melakukan penyamaran menjadi orang miskin terlebih dahulu baru kemudian serius mengadvokasi masyarakat miskin. Penyamarannya yang pertama adalah sebagai buruh pabrik gula di Kendal, Jawa tengah. Di sana, selama sebulan penuh, Sandyawan bekerja sebagaimana layaknya seorang buruh pabrik gula: mengangkat tebu ke truk dan lori, lalu memisah-misahkan akar, batang, dan klaras tebu untuk kemudian diolah di pabrik. Pada musim liburan berikutnya, ia kembali menyamar dan berbaur namun kali ini sebagai petani di sebuah desa di Wonosari. Sandyawan juga pernah menyamar dan berbaur dengan para buruh pabrik di kawasan Jakarta Timur, seperti Cibubur, Ciracas, dan Cijantung. Penyamarannya yang paling lama yakni dua bulan lebih adalah bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik susu di kawasan Cijantung. Selama menyamar dan berbaur inilah ia banyak berbicara dan bertukar-pikiran dengan para buruh tentang masalah-masalah perburuhan yang mereka hadapi.

Di sela-sela masa perkuliahan jurusan Teologi pada Seminari Tinggi di Yogyakarta itulah, Sandyawan pernah menjadi koordinator perkampungan sosial di Pingit, Yogyakarta. Di sini ia mendampingi para keluarga gelandangan yang biasa berkeliaran di kawasan Malioboro. Bersama beberapa temannya, Sandyawan juga pernah membantu Romo Mangun mendampingi masyarakat Kedung Ombo yang tanahnya digusur untuk proyek pembangunan waduk. Kaum pemulung dan anak-anak jalanan merupakan kelompok sasaran yang diutamakan oleh Romo Sandy. Perhatian kepada kaum pemulung, terutama tampak dari pendidikan keterampilan dan dasar (menulis dan membaca) bagi para pemulung dan anak-anak jalanan yang diberikan secara rutin.

Sandyawan juga pernah berurusan dengan aparat keamanan, yaitu saat maraknya pembersihan becak di akhir era 1980-an. Memang, ketika itu Sandyawan sempat mengumpulkan ratusan tukang becak untuk mengadukan masalah mereka ke DPR. Sebuah pertemuan para tukang becak yang dipimpinnya sempat dikepung oleh aparat keamanan. Keterlibatan Sandyawan dalam pembelaan dan penegakan Hak Asasi Manusia berlanjut melalui perannya sebagai Sekretaris Tim Relawan Penanganan Korban Kerusuhan Peristiwa 27 Juli 1996. Dia adalah salah seorang pemrakarsa pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta kerusuhan Mei 1998 yang bertugas untuk mengkoordinasi pemberian advokasi dan pencarian informasi mengenai korban kerusuhan massal yang berawal dari penyerbuan markas DPP PDI tersebut. Selain itu pula, secara informal, Tim Relawan berfungsi sebagai supporting dari Tim Pencari Fakta (TPF) Komnas HAM. Tim Relawan ini merupakan cikal bakal dari organisasi Tim relawan untuk kemanusiaan yang resmi berdiri tahun 1998 setelah peristiwa kerusuhan Mei 1998. Pada tahun 1996 Romo Sandy bersama kakaknya Benny Sumardi, juga pernah ditangkap dan disidang dengan tuduhan membantu gerakan Partai Rakyat Demokratik (PRD). (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Ignatius_Sandyawan_Sumardi).
Dalam tulisannya yang sentimental berjudul Ahok dan Sandy, Jaya Suprana mengisahkan,
Dengan mata kepala saya melihat sendiri betapa Sandi diam, bahkan tersenyum legowo ikhlas menerima segenap tudingan, tuduhan dan hujatan Ahok dan para pendukungnya. Tetapi mereka yang sepaham dalam kemanusiaan dengan Sandi apalagi yang pernah ditolong Sandi, ternyata tidak ikhlas. Satu persatu dan berkelompok, teman-teman Sandi dari segenap penjuru Nusantara bahkan Dunia (USA, Belanda, Jerman, Kanada,Australia dll) mengirimkan surel, sms, whatsapp, etc dan berdatangan secara ragawi ke sanggar Ciliwung Merdeka di bantaran kali Ciliwung sebagai istana gubuk di mana Sandi bertahta di singgasana dipan kayu reyot dengan river-view ke arah kali Ciliwung di seberang Kampung Pulo yang telah sukses digusur Ahok. Sandi kerap lupa mereka siapa namun mereka sangat ingat Sandi sebab berhutang budi bahkan nyawa kepada Sandi.
Siapa pula yang menyangka jika program kampung deret bebas banjir yang digembar-gemborkan oleh Pak Jokowi-Ahok semasa mencalonkan diri menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta adalah konsep dari Sandyawan dan timnya (komunitas Ciliwung Merdeka yang terdiri dari tokoh masyarakat dan ustad setempat). Pada tanggal 6 Oktober 2012, Jokowi memberikan kesempatan pada Sandyawan dan timnya selama satu jam untuk presentasi konsep kampung susun. Pak Jokowi datang membawa aparat pemerintahan bahkan Wali Kota Jakarta Selatan. Bahkan, dari ide itu, Jokowi waktu itu merencanakan akan membangun kampung deret di 27 titik di Jakarta berdasarkan tema. Waktu itu Pak Jokowi dengan yakin dan penuh penekanan berkata, 'kami tidak akan merelokasi apa lagi menggusur, kami akan menata kembali, kami akan merevitalisasi kampung ini.

Namun janji tinggallah janji, sejak Jokowi dimandat menjadi Presiden, tak pernah lagi rencana pembangunan Kampung Deret dibicarakan, baik oleh Jokowi sebagai Presiden RI, apalagi Ahok Gubernur DKI Jakarta. Yang terjadi justru sebaliknya, wacana penggusuran semakin lantang disuarakan oleh Ahok di berbagai media massa. Puncak dari segala kegetiran itu akhirnya meletus di tanggal 28 September 2016. Penggusuran kampung Bukit Duri benar-benar terjadi. Penghianatan yang amat sangat nyata yang dilakukan oleh mereka yang seluruh harapan diberikan kepadanya!

PS: Ini bukan kampanye. Kejadian penggusuran demi penggusuran yang terjadi belakangan ini semakin menguatkan iman saya untuk tidak datang ke bilik suara pada pemilihan kepala daerah Februari 2017 mendatang. Sekiranya Ahok tidak dekat dengan gusar gusuran, dia masih yang terbaik diantara kandidat lainnya, jauh  melampaui malah.

Senin, 05 September 2016

Surat untuk Purnama #9

Dear Purnama

Kamu tahu hidup di Jakarta bukan perkara mudah. Semua serba tergesa-gesa jika tidak bisa dikatakan penuh kepanikan. Di jalan, klakson kendaraan mengiung-ngiung dari segala penjuru, oksigen yang kau isap selalu dibarengin asap pekat yang menyembur-nyembur dari pantat kendaraan, sementara waktu terasa berjalan sangat cepat, membuat darah sangat cepat naik ke leher, kepala panas, dan rasanya ingin memaki semua yang ada disekitarmu. Kau kasihan? 

Teman saya baru saja balik dari sekolah di Japun. Di sana, dia terbiasa hidup dengan sangat nyaman dan teratur, tak banyak suara klakson, apalagi asap kendaraan. Berbanding terbalik dengan Indonesia yang tak punya industri otomotif tapi volume kendaraan yang beredar dijalannya bikin mau muntah, Japan tak membiarkan jalan-jalannya sumpek dengan kendaraan  meskipun dia adalah salah satu negara yang paling banyak memproduksi kendaraan. Kembali ke teman saya, hanya butuh dua minggu baginya masuk kantor untuk ambruk (red:sakit). Tak hanya capek karena tiap pagi dan sore hari jadi ikan pepes di commuter line, stress membuat daya tahan tubuh menurun.

Teman saya yang banyak menghabiskan waktunya di timur indonesia, suatu hari nyeletuk, saya tidak habis pikir kenapa kalian bisa hidup di tempat seperti ini (red:Jakarta). Yahh, hanya orang-orang terpilih yang bisa menekuni hidup serupa ini, menghabiskan waktu 3 sampai 4 jam di jalan, untuk bisa mendapatkan nafkah, yang kemudian habis jika tidak minus di bulan itu juga. Jangan tanya soal memiliki rumah. Harga rumah di sini sudah gila-gilaan. Pekerja rendahan seperti saya tak usah bermimpi memiliki rumah dekat dari tempat kerja. Satu-satunya cara memiliki rumah adalah dengan menyingkir ke pinggiran kota atau ke luar kota sekalian, dan menyicilnya paling tidak 15 tahun. Setelah itu, tak ada lagi family space fiscal, syukur kalau masih bisa makan daging sapi segar sekali dalam sebulan.

Kau tentu sangat paham dengan alienasi. kelompok kiri atau kanan kritis menyebut bahwa kita manusia modern yang hidup di kota besar dan sumpek seperti Jakarta adalah gerombolah orang-orang teralienasi. Kau ingat Dimas Pangestu yang kumisnya aduhai itu, menurutnya alienasi atau proses menuju keterasingan dapat diperiksa dalam empat hal. Pertama, saat anda terasing terhadap objek yang sedang anda kerjakan. Pada beberapa jenis pekerjaan terkadang anda bahkan tidak dapat mengakses produk hasil kerja keras anda. Misalkan anda bekerja membuat sepatu merek terkenal, namun upah anda jika dikumpulkan sampai kapanpun tidak akan cukup untuk membeli sepatu tersebut. Kedua, saat anda terasing terhadap proses-proses yang berlangsung dalam pekerjaan anda, anda tidak diberi hak untuk berkontribusi terhadap arah dari pekerjaan anda. Anda sama sekali tidak diperkenankan untuk merubah sistem yang sudah ditetapkan atas pekerjaan anda sekalipun ide anda benar. Ketiga, anda terasing dari orang-orang karena pekerjaan anda, jam kerja yang berlebihan akan membuat anda bahkan tidak punya sisa waktu yang cukup untuk berintraksi dengan keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar anda. Terakhir, anda terasing dengan diri anda sendiri akibat pekerjaan anda. Pekerjaan anda membuat anda tidak mampu memenuhi hasrat manusiawi anda. Anda tidak lagi menjadi diri anda sendiri. Anda seolah-olah adalah mesin, atau bahkan menjadi sekrup yang menopang roda gerigi pada mesin. Pekerjaan anda tidak akan pernah peduli apakah anda sedang tidak enak badan, sedang haid, atau sedang berduka, pilihan yang tersedia hanyalah “bekerja, atau dipecat.”

Alhamdulillah, hidup saya masih lebih beruntung dari parameter-parameter yang dikatakan dimas, tapi tinggal beberapa langkah lagi saya akan tergelincir ke sana, jika tak pintar-pintar mengatur diri. Saya mencintai pekerjaan saya, orang-orang di sekitar saya, dan lingkungan kerja saya. Hanya saja, kota ini seperti sudah tak tertolong lagi. Macet, stres, kacau!

Saat melihat nenek-nenek atau anak-anak duduk di jalan menengadahkan tangan, yang terlintas di pikiran saya, mereka pasti di organisir, lalu kuurungkan niat untuk membantunya. Saat melihat manusia gerobak dengan anak-anak yang tidak sedikit tidur di emperan jalan, saya berpikir sebetulnya mereka punya pilihan untuk hidup di kampung atau jangan-jangan rumah mereka di kampung besar. Hegemoni media sudah merasuk keotakku, belas kasihanku memudar, lama-lama empatiku hilang. Purnama, ini menakutkan!




Sabtu, 27 Agustus 2016

SETAHUN TANPA TV-YANG MENYENANGKAN



Selepas tamat sekolah menengah atas, TV memang tidak begitu penting bagiku. TV adalah barang mahal yang tak dapat kumiliki di kamar kosan yang sempit dan pengap. Kalaupun ada acara TV yang ingin sekali kutonton, masih ada TV tetangga kamar yang malu-malu kutongkrongi. Televisi memang bukan kebutuhan primer, tapi selalu menggoda untuk dipelototi bahkan tak segan merampok waktu dan akal sehat. Jujur saya sangat menyukai infotaikucingment. Menyenangkan rasanya menyaksikan Syahrini pamer kekayaan dan kenorakan dari satu negara ke negara lain, naik jet pribadi, dengan berlian dan tas hermes menggelantung ditangannya, serta sepatunya yang kayak tapal kuda itu. Rasa penasaranku mendadak tak bisa dibendung lagi, kala mengetahui olga saputra sakit dan menghilang, dan ikut bersedih saat kembali dalam keadaan tidak bernyawa. saya ikut panas dan mencak-mencak saat menyaksikan si ruhut sitompul banyak cincau di acara debat salah satu acara TV. Sulit menahan diri untuk tidak ikut dalam arus berita Jessica, beritanya mengalahkan ketenaran presiden atau siapapun, proses peradilannya disiarkan secara langsung dari pagi sampai malam, nonstop nyaris tanpa iklan. Belum lagi, sinetron-sinetron yang tak kelar-kelar. Saya pernah menyukai Joda Akbar, bahkan nonton di youtube saking penasarannya. Demi apa semua itu? demi sampah yang tak ada kontibusinya sedikitpun pada diri saya, volume otak saya, terlebih buat kemaslahatan umat.

Sampai akhirnya saya menikah dan pindah ke kontrakan baru. Kami sepakat tak akan membeli TV. Jadilah kami tak pernah nonton TV. Apa rasanya? Seluruh waktu adalah milikmu. Kami jadi lebih banyak ngobrol, saya jadi lebih rajin masak dan bersih-bersih, banyak waktu buat tidur, membaca, nonton film hasil downloadan, dan jalan-jalan. Ternyata, tidak  nonton TV itu menyenangkan. Cukup mampu menangkal stress! Lalu dari mana mengupdate info dan beritu? Semua jadi mudah sejak ada si phone yang smart itu. Sayangnya godaan beralih ke dia. Hiks. Sebetulnya banyak acara TV yang mengedukasi, menghibur, dan, berguna, jika saja mampu dan mau mengeluarkan gocek yang agak banyak tiap bulannya.

Tak terasa sudah setahun berlalu, tanpa TV, infotaikucingment, sinetron, berita-berita penguras emosi, dan iklan. Tak ada yang mengontrol imajinasi saya, tak ada yang mencolek-colek hasrat berbelanja saya, dan saya merasa lebih muda!

Backsound: Mars Penyembah Berhala by Melancholic Bitch
..........................
Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi. 
Semesta pepat dalam 14 inci.

Sabtu, 14 November 2015

***

Bukan mimpi namanya, jika itu terlalu mudah bagimu, mimpi sepatutnya setinggi-tinggi imajinasi. Anak-anak sepertinya sangat memahami konsep itu. Tidak heran, sebagian besar anak-anak akan memilih profesi dokter, astronot, atau  pilot sebagai cita-cita dan impiannya. Selain itu, profesi tersebut hampir mirip dengan kerjaan tukang sulap, expecto patrunum!, maka jadilah ia, si fulan yang sakit seketika menjadi sehat, berada diluar angkasa--apa yang lebih menakjubkan dari itu, apalagi terbang bak superhero-- hemm pastilah sangat menyenangkan. Namun seiring dengan bertambahnya usia, logika bercampur kenyataan hidup terkadang membawa kita pada kutub yang berbeda, mimpi yang tadinya setinggi langit berlahan menyusut cetek. Hanya sedikit yang bisa menjaga dan mengawal mimpinya menjadi kenyataan. Siapa yang menyangka teori relativitas Enstein yang besar dan revolusioner itu berawal dari imajinasi anak berusia enam tahun tentang bagaimana rasanya berkendara dengan kecepatan cahaya  bersama seberkas sinar. Enstein konsisten mengembangkan imaginasinya, dan beberapa dekade kemudian, seluruh dunia makfum terhadap teori itu. Seharusnya seperti itu cara merawat mimpi.

Saya pernah, bahkan cukup lama, mengagumi dan merawat mimpi menjadi seorang dokter, sampai akhirnya hasil SPMB menghempaskan mimpi itu atau tepatnya nyali saya. Meskipun pada akhirnya saya memahami bahwa menjadi orang berguna tidak harus menjadi dokter, tapi sampai saat ini, saya tetap menyimpan 6 bintang untuk profesi itu. Betapa tidak, saat kau merasakan sakit tak berdaya, kau melangkahkan kakimu menuju rumah sakit menemui dokter, seluruh harapan seolah kau limpahkan ke dia, hidup dan matimu tergantung dari keuletan dan intelegensinya.

Sebelum ilmu pengobatan modern seperti yang kita kenal saat ini berkembang, sebagian besar kebudayaan dalam masyarakat awal menggunakan tumbuh-tumbuhan herbal dan hewan untuk tindakan pengobatan. Sebetulnya metode pengobatan alamiah tidak pernah benar-benar punah. Saat ini metode pengobatan herbal malah menjadi alternatif pengobatan yang cukup digandrungi menyusul issu konspirasi perusahaan farmasi dalam meraup untung.

Di desa, pengobatan herbal tidak pernah surut, masyarakat tak pernah takut jauh dari dokter, karena mereka punya dokter keluarga masing-masing, sekiranya setiap orang yang bisa menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Sayangnya sebagian besar dokter keluarga ini sudah uzur. Di keluarga saya, mama tua (nenek) adalah dokter andalan di keluarga kami. Setiap ada salah seorang dari kami keturunannya yang sakit, terlebih dahulu kami akan berkonsultasi ke mama tua. Tak lama kemudian, mama tua akan datang membawa daun-daunan yang dia dapatkan di kebun belakang rumah atau kebun tetangga. Dan saya bisa memastikan, sejauh ini, pengobatan mama tua mujarab. Kami baru akan ke dokter, jika lebih dari 3 hari, penyakitnya tak kunjung surut, dan biasanya penyakit kami tak akan berlanjut ke dokter. Ironisnya, tak ada minat untuk mempelajari resep pengobatan mama tua, kami bahkan sangat jarang memberikan kredit kepada mama tua atas kemampuan pengobatannya tersebut, hanya karena dia tidak memperoleh pengetahuannya secara formal. Berbeda dengan profesi dokter, dengan jas putih bersih mentereng, stetoskop menggantung di pundak, tulisan tangan yang tak bisa dibaca, dan alat kedokteran yang canggih, membuatnya beribu-ribu kali lipat lebih keren dari mama tua. Profesi dokter hampir selalu  ada dalam list cita-cita seorang anak, profesi dokter dihormati, mulia, putih serupa peri penolong yang menentukan hidup matimu.

Lalu, belakangan, dokter menjadi mahluk baru bermuka dua, mereka dipuja, sekali waktu dicaci. Pemujaan terhadap profesi dokter membuat mereka membangun dunianya sendiri, eksklusif, dan nyaris tidak dapat dijangkau oleh masyarakat kecil. Tak banyak yang bisa dihasilkan oleh popularitas dan pemujaan yang berlebihan selain kecongkakan. Ditambah lagi kasus malpraktek, mahalnya biaya konsultasi ke dokter berikut biaya obat-obatan dan fasilitas kesehatan lainnya, attitude sebagian dokter yang memperlakukan pasien seperti onggokan sampah yang tinggal menunggu waktu terurai, dan dokter yang berafiliasi dengan perusahaan farmasi, dokter muda wefie-wefiean saat sedang belajar operasi, membuat dokter menjadi semakin berjarak dengan masyarakat. Sebetulnya dokter tidak berdiri sendiri dalam mambangun stigma ini, sistem pendidikan dan regulasi kesehatan kitalah yang membuatnya menjadi lebih buruk. Tapi kita tak akan membahasnya sampai ke sana.

===

Saya masih mengagumi profesi dokter, dan juga masih menyimpan stigma sebagian besar dokter congkak, sampai akhirnya saya berurusan dengan dokter dan harus menginap di rumah sakit dengan jarum menancap di nadi. Saya adalah pasien BPJS, dan sudah siap diperlakukan setengah hati oleh dokter dan seluruh crew rumah sakit. Saya sudah siap menelan ludah menahan perasaan sedih karena tidak dianggap, dan berbisik dalam hati sekiranya petugas rumah sakit itu tahu betapa penghargaan mereka kepada pasien adalah obat yang bisa menyembuhkan. Saya sungguh sudah siap dengan seluruh kenyataan dan stigma itu.

Namun, harapan tak selalu menjadi kenyataan, dan ini sangat langka, harapan buruk berakhir dengan kenyataan memuaskan, what a releaf! Kami mendapati semua petugas di RS itu melakukan fungsinya dengan sangat baik, sebelum masuk ruang tindakan, saya sudah merasa sembuh. Saya bisa merasakan dokter memperlakukan saya sepenuh hati, misalnya menjelaskan segala sesuatunya dengan rinci, memberikan dorongan dan semangat, menjelaskan tindakan apa yang mau diberikan kepada saya, bahkan sebelum dibius, dokter anastesinya (yang dari perawakannya sudah sangat senior dan berpengalaman) memperkenalkan diri dan menjelaskan saya akan disuntik apa dan akan kehilangan kesadaran selama berapa menit. Selesai tindakan, tak ada masalah dengan administrasi, hanya butuh beberapa menit, urusan dengan rumah sakit beres.

Saya memilih dokter itu secara acak, ekspektasi sayapun tak terlalu tinggi. Namun sekali control dengannya, saya sudah berkesimpulan, saya memilih dokter yang tepat. Satu hal yang paling menarik, dia pelit memberikan resep obat. Saat dia harus memberikan resep obat, dia menganjurkan saya membelinya di apotik umum, katanya dia tidak suka obat di RS tempat dia praktek, harganya terlalu mahal, kamu beli di apotik umum saja, lebih  murah! Hahah, see, tidak semua dokter berafiliasi dengan perusahaan farmasi. Terberkatilah dokter-dokter baik hati dan punya prinsip.


Saya sangat percaya, pelayanan dan kehangatan dokter dan petugas rumah sakit merupakan hal yang tidak terpisahkan dari upaya penyembuhan pasien. Saya merasa perlu menulis pengalaman ini, di tengah turunnya kepercayaan masyarakat terhadap kredibiltas dokter, selain itu saya masih terlalu respek dengan profesi dokter. Bagiku, dia masih seperti tukang sulap, perpanjangan tangan Tuhan, expecto patrunum, kunfayakun, maka sembuhlah kamu. 

===



Rabu, 16 September 2015

Be Grateful



Seekor kedelai terus menengadahkan kepalanya ke sebuah pohon apel,  menunggu jatuhnya sebuah apel merah merona, apel yang sudah ia incar selama berbulan-bulan, sejak masih dalam rupa kuncup. 

Sayangnya, apel itu seperti menolak tarikan gravitasi dibawahnya, tak kunjung jatuh. Tinggallah si kedelai meratapi nasib, sungguh malang nasibku, saya hanya ingin mengecap manisnya sebiji apel itu, tapi Tuhan tak memedulikanku sama sekali

Saking sibuknya dengan kesedihannya, ia tak punya waktu untuk melihat ke sekitarnya, disana terhampar kebun anggur yang subur, buah-buahnya jatuh berserak di rerumputan, bahkan banyak yang sudah membusuk. 

Sang kedelai, terlalu sibuk memimpikan manisnya buah apel, hingga tak pernah terpikirkan olehnya untuk mencoba mengecap manisnya anggur. 

Ia terus dirundung sedih dan kelaparan, di tengah kebun anggur yang subur dan luas.

Sungguh, rejeki selalu datang dari segala arah. hanya saja, terkadang kita terlalu fokus pada satu pintu yang tak kunjung tersingkap. 

Kemudian, kita berteman dekat dengan kesepian dan kesedihan.


Rabu, 20 Mei 2015

MANUSIA PERAHU, KEMANA HARUS BERLABUH?




Dosa apa yang telah dilakukan oleh minoritas muslim Rohingya, sehingga tak ada lagi tempat untuk mereka di muka bumi ini? Bagaimana bisa, jagad raya maha luas yang diciptakan oleh Tuhan ini, gratis untuk seluruh mahluk hidup dan tak hidup sekalipun, menjadi begitu mahal harganya, oleh ulah sekelompok orang yang menyebut dirinya sebagai negara? Beritahu logika apa yang bisa digunakan untuk memahami, ribuan orang, wanita dan anak-anak, kelaparan, sakit dan depresi, terapung-apung di tengah lautan, mencari daratan dan perlindungan, namun tak ada lagi empati dan sedikit saja rasa iba untuk membiarkan mereka sekedar berlabuh, dengan mengatas namakan keinginan rakyat dan Negara?

Sekiranya, pangeran Sidharta atau yang lebih dikenal dengan Gauthama Buddha masih hidup, tentu dia akan menangis sejadi-jadinya, menyaksikan sekelompok pengikutnya kehilangan nurani dan melupakan pokok ajaran Buddha yang kedua; tidak memikirkan kepentingan diri sendiri dan terbelenggu oleh nafsu. Pemerintah Myanmar yang mayoritas beragama Buddha menolak suku Rohingya sebagai warga Negara mereka. Bahkan, sebutan Rohingya bagi masyarakat Myanmar adalah hal yang tabu. Mereka menyebut kelompok muslim Rohingya dengan nama Bengalis. Bengali adalah sebutan diskriminasi bagi kelompok Rohingya, yang mengekpersikan kebencian (xenophobia), dan mengimplikasikan bahwa suku Rohingya adalah imigran gelap dari Bangladesh.  Tahun lalu, 40 orang Rohingya termasuk anak-anak dibunuh secara kejam di Desa Du Chee Yar Tan oleh penduduk setempat. Sudah beberapa dekade, minoritas Rohingya mengalami diskiriminasi dan penganiayaan oleh Myanmar. Bagi minoritas Rohingya, hanya ada dua pilihan, Live and die or leave by boat. Sementara itu, Aung San Suu Kyi, penerima nobel perdamaian yang terkenal itu, yang katanya lagi kepengen jadi presiden Myanmar tahun 2015, hanya bergeming, menjadi penonton pasif, menyaksikan kejahatan kemanusiaan bergulir selama bertahun-tahun di negaranya. Katanya, dia tidak berkomentar karena takut memperkeruh suasana. Spekulasi lain beredar, dia memilih menjadi pendiam, untuk mengamankan dan merebut hati rakyat Myanmar dalam pemilihan presiden mendatang.

Selama berbulan-bulan, ribuan migran Myanmar dan Bangladesh terapung-apung di lautan Hindia, tanpa tahu harus kemana, setelah Pemerintah Thailand menolak kapal tersebut untuk bersandar, dan juga di usir oleh otoritas Malaysia kembali ke tengah lautan, dan akhirnya ditelantarkan oleh agen perdagangan manusia asal Thailand di tengah lautan Asia Tenggara. Kemana gerangan hati nurani, menelantarkan ratusan wanita dan ibu-ibu yang menangis, anak-anak yang memohon pertolongan, kelaparan, sakit-sakitan, bahkan sampai meminum urinenya sendiri karena kehausan? Otoritas Thailand secara resmi menyatakan menolak kapal berisi migran tersebut, termasuk didalamnya wanita dan anak-anak, dan beralibi sudah melakukan tanggungjawabnya dengan memberikan makanan dan minuman. Sementara otoritas Malaysia menyatakan, mereka mengirim migran tersebut kembali ke tengah lautan, karena Myanmar dan Bangladesh tidak dalam kondisi perang, jadi tak ada alasan untuk menerima migran tersebut. Mereka beralasan penolakan tersebut merupakan keinginan warga negaranya yang tidak menginginkan migran tersebut masuk ke negaranya. Malaysia memang telah menampung ribuan pengungsi Rohingya pasca kerusuhan yang terjadi di Miyanmar tahun lalu, tetapi bukankan dalam kondisi seperti ini, prioritas pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan hidup, menyelamatkan ribuan orang dari kelaparan dan ancaman kematian, dan itu adalah tanggungjawab setiap mahluk yang memiliki nurani apatah lagi institusi bernama negara!

Pada akhirnya, nelayanlah Acehlah, yang tanpa berpikir panjang, melaporkan dan memberikan pertolongan, disusul dengan tumpah ruahnya belas kasih penduduk Aceh kepada saudara-saudara kita yang malang itu. Saya menitikkan air mata menyaksikan foto-foto para pengungsi tersebut, membayangkan mereka kelaparan, kehausan, depresi, selama berbulan-bulan, di tengah lautan, tanpa tahu akan berlabuh dimana. Mereka, orang-orang tanpa negara, tak memiliki apapun. Di saat yang bersamaan, saya juga merasa begitu  bangga kepada suadara-saudara saya di Aceh, kepada Pemerintah Aceh, yang dengan tangan terbuka, memberikan pertolongan kepada para pengungsi tersebut, kebaikan mereka ditakzimi oleh seluruh dunia. 



Menerima migran Rohingya memang merupakan masalah yang pelik, apalagi bagi negara berkembang seperti Indonesia. Boro-boro memberikan kehidupan yang lebih baik kepada para pengungsi tersebut, penduduk sendiri saja masih banyak yang menganggur dan miskin, belum lagi gesekan sosial yang akan timbul pada saat pengungsi tersebut berbaur dengan masyarakat setempat, dimana para pengungsi tersebut akan menerima banyak bantuan dari UNHCR, NGO, lembaga donor, dan negara lainnya. Apa yang dilakukan oleh Pemda Aceh dan pemerintah Indonesia patut diapresiasi, ini adalah krisis kemanusiaan yang serius, sepatutnya semua negara khususnya negara Asian berkerja secara bersama-sama menyelesaikan masalah ini.

***