Senin, 12 November 2012

Jalan-Jalan ke Kota Semarang




Ini adalah kunjungan pertama saya ke Semarang (officially). Jika sebelumnya hanya numpang lewat saja, kali ini benar-benar berkunjung dan nginap di sana. Kami (saya dan teman-teman kantor) ke sana dalam rangka menghadiri acara pernikahan teman kami “Ayu dan Ega” tanggal 11 November 2012.
Jika diminta untuk memberikan pendapat tentang kota itu, maka saya akan bilang Semarang adalah salah satu kota yang sepertinya nyaman untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Kotanya sederhana, hampir mirip Jogjakarta. Cuma saja Jogjakarta lebih ramai karena memiliki banyak tempat wisata dan kental dengan adat istiadatnya. Mengenai kedua kota ini, saya selalu percaya bahwa kesederhanaan akan selalu diikuti dengan rasa nyaman.
Ada perasaan lega dan lapang ketika berada di kota itu. meskipun ketika turun dari gerbong kereta di stasiun Tawang, hembusan angin terasa panas dan lembab, tapi pemandangan yang disajikan sepanjang jalan menuju jalan Veteran tempat kami akan menginap serta merta membuat rasa gerah saya menjadi sirnah. Mungkin karena mau hujan saja makanya gerahnya luar biasa. Stasiun Tawang merupakan stasiun kereta api besar tertua di Indonesia. Tidak mengherankan jika gedung-gedung dan gaya arsitektur sekitaran stasiun tersebut masih kental dengan corak belanda, mirip seperti kota tua di Jakarta, atau Benteng Rotterdam di Makassar.

Berhubung karena jadwal yang agak padat, kami tidak memiliki waktu banyak untuk berkunjung ke banyak tempat di Semarang. Tanggal 10 november sore kami sampai, hanya sempat makan di Mbah Jingkrak yang walhasil membuat perutku mules semalaman, dan malamnya ke acara Midodareni-nya Ayu. Hujan gerimis menyertai serangkaian acara midodareni ayu malam itu. Saya pernah mendengar, hujan di hari hajatan adalah tanda restu sang ilahi kepada yang punya hajat dan setiap bulir hujan yang turun akan disertai dengan rejeki yang melimpah, semoga itu benar terjadi, amin Tuhan. Di adat bugis Makassar, Midodareni sama seperti penyerahan erang-erang dari pihak pengantin pria ke penganti wanita. Cuma saja penyerahan erang-erang di bugis dilakukan bertepatan saat sang pengantin pria mau mengucapkan ijab Kabul. Sementara Midodareni dilakukan malam hari sebelum ijab Kabul dan resepsi, atau malam terakhir bagi calon pengantin wanita sebagai remaja putri.
Jalan-jalan pagi di Simpang Lima Semarang
 Pagi harinya, beberapa dari kami jalan-jalan pagi ke Simpang Lima, sementara yang lainnya melanjutkan tidur, ada juga yang ke acara ijab kabulnya Ayu dan Ega. Simpang Lima merupakan Landmark dari semarang. Disebut Simpang Lima karena merupakan pertemuan lima jalan yang menyatu yaitu Jl. Pahlawan, Jl. Pandanaran, Jl. Ahmad Yani, Jl. Gajah Mada dan Jl A Dahlan. Pagi itu ramai sekali, saya sangat exicted melihat masyarakat dan anak-anak tumpah ruah dijalan dengan wajah yang begitu ceria. Hari itu bertepatan dengan car free day, jalanan hanya dipenuhi oleh orang-orang yang sedang senam, dan anak-anak bermain sepatu roda membentuk ular-ularan yang sebentar-sebentar terjatuh dan bangkit lagi dipenuhi gelak tawa. Ada banyak sajian kuliner disekitaran Simpang Lima, dan harganya sangat terjangkau. Saya dan empat teman saya memesan soto ayam plus gorengan, sate, es teh manis, dan kami hanya dimintai Rp33.700, heheh, senangnya luar biasa.
Main ular-ularan
Aduhh, ularnya termutilasi. hiks hiks

Jam 12 siang acara resepsi pernikahan dimulai, ini pernikahan adat jawa pertama yang sangat santai yang pernah saya hadiri. Seketika ada panggung kecil ditengah gedung lengkap dengan audiensnya yang teriak histeris. Banyak yang menyumbangkan lagu dan berjoget, tidak terkecuali kedua pengantin dan ibunya. Hahaha. We were having fun!
Foto bersama DJA 2010
Tidak lengkap rasanya jika datang ke suatu tempat tanpa membeli oleh-oleh.  Pusat toko oleh-oleh di Semarang berada di Jalan Pandanaran. Oleh-oleh yang paling khas di Semarang adalah Lumpia Semarang. Oh iya kami mencarter mobil mikrolet berkeliling semarang, ini mengingatkanku pada jaman kuliah, sungguh menyenangkan. Cuma saja angan-angan makan makanan khas Semarang sebelum meninggalkan kota itu harus pupus musnah diterjang badai! Sang sopir malah membawa kami ke warung mie Surabaya di persimpangan jalan sepi entah berantah yang rasanya.... tidak akan saya teruskan, katanya tidak baik mengumpat makanan. Sambil makan, kami semua terus menggerutu. Hahaha.
Senin 12 November 2012 jam 5 pagi saya membuka gorden jendela kereta, berharap sudah sampai di stasiun Senen Jakarta. Di luar dugaan, ternyata kami baru sampai di stasiun tegal, sekitar 4 jam perjalanan lagi baru sampai di Jakarta naik kereta. Dari percakapan penumpang dibelakangku yang sepertinya sedang ditelpon oleh kerabatnya, ada kereta yang anjlok di daerah tegal. Parahnya, sama sekali tidak ada pengumuman atas apa yang terjadi apalagi permintaan maaf dari pihak kereta (Gumarang).
Here I am in Jakarta, aroma libur panjang sudah begitu pekat rasanya. Sayang, sepertinya liburan kali ini akan menyedihkan. Huhuhu. But life must goes on…. Sumange’!

Sumber beberapa informasi: Wikipedia
Pictures was taken by Me (minjam kameranya marti) and Julius Situngkir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar