Senin, 10 Februari 2014

Pram yang Terbuang



Arus balik, adalah buku pertama yang aku baca dari sekian banyak karyanya yang gemilang. Waktu itu aku masih di semester-semester awal menjelang pertengahan kuliah. Sungguh disayangkan baru mengenal penulis sekaliber dia di usia yang bisa dibilang sangat telat untuk melek buku-buku bagus. Jika tidak bergabung dengan unit kegiatan pers mahasiswa (UKPM) yang hari ini berulang tahun, mungkin akan lebih telat lagi aku mengenalnya. Sebelumnya aku hanya terbuai dengan novel-novel remaja atau detektif, dan buku inovasi, belakangan buku inovasi selfhelp atau apapun namanya tidak kusentuh lagi.

Selanjutnya aku berkelana dengan tetralogi Pulau Buru dan semakin terkesima dibuatnya. Keempat buku itu sangat kaya dengan informasi dan dibangun dengan kekaguman dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.

Setelah sekian lama tak membaca buku-bukunya Pram lagi, beberapa bulan lalu aku membeli Panggil Aku Kartini, tapi tak habis aku baca, entah kenapa aku tidak mendapatkan energi seperti di arus balik atau di Tetralogi Pulau Buru. Terakhir, aku ke toko buku loak senen dan seperti biasa langsung menuju tokonya bang Mora si Batak ganteng dan slengean, mataku langsung tertuju pada Nyanyian Sunyi Seorang Bisu (NSSB), tanpa babibu langsung kubawa pulang dengan harga yang lumayan murah 30 rb. Sebenarnya ada dua bagian, tapi aku hanya membeli bagian pertamanya saja dulu.

Mungkin terlalu prematur untuk membagi apa yang aku baca di NSSB ini, tapi sudah terlalu banyak yang aku dapat dan tak kuasa  lagi untuk kusimpan sendiri. Selain itu, aku tidak bisa mengandalkan ingatanku saja, makanya harus aku tulis.

======


Selasa, 04 Februari 2014

Hujan Seharusnya Menyenangkan


Jakarta masih saja diselimuti awan gelap. Syukur dia tidak lagi memuntahkan air yang kedatangannya sangat ditakuti oleh penduduk kota ini. Musim hujan yang selalu disambut dengan penuh suka cita di tempat lain, entah sejak kapan menjadi sesuatu yang begitu menakutkan di ibu kota Negara Indonesia ini. Isu banjirpun dipolitisir dengan sangat hebat dan bombastis oleh tv-tv dan media cetak, dijadikan alat kampanye dan ajang cari muka oleh orang-orang yang tak punya “kemaluan”, juga dijadikan alat untuk saling menghantam oleh para petinggi negeri ini. bukan hanya para petinggi saja, istri-istrinyapun ikut perang di sosial media saling menyalahkan. Dan masyarakat yang setiap tahun menjadi langganan banjir, hanya bisa pasrah, menjadi penonton sekaligus objek, menunggu siklus banjir terjadi tiap tahun seperti menunggu tanggal datang bulan bagi wanita yang sudah pasti dan rutin terjadi. Meskipun begitu, saya percaya ditengah bencana dan kesusahan seperti ini, kebaikan dan cinta selalu ada, tumbuh subur, merambat dengan diam-diam. Mereka tidak butuh pengakuan apapun.

Pernah saya melihat berita di televisi (milik seorang pebisnis kaya yang terlalu semangat ingin menjadi presiden), di tengah kepungan banjir seorang reporter wanita mewawancarai kakek-kakek “bapak, tiap tahun menjadi langganan banjir, apa tidak ada niatan untuk pindah rumah?”. Saya spontan tertawa, pertanyaan macam apa itu? Dia pikir Jakarta ini punya nenek moyang kakek-kakek itu, bisa nyaplok tanah dan membangun rumah seenak perutnya dia. Sang kakek dengan muka bingung menjawab, “seandainya semudah itu neng, mau sih mau tapi mau ngambil  uang dari mana”.  Tidak usah muluk-muluk pindah ke tempat lain, cukup sungai-sungai itu dikembalikan fungsinya sebagai tempat mengalirkan air dari daratan menuju lautan, hentikan pembangunan mall, perumahan, dan gedung-gedung yang tidak memerhatikan amdal, jangan lagi hijaunya rumput dan pepohonan diganti dengan beton dan aspal, hentikan pembabatan hutan di hulu (pegunungan), dan sediakan bak sampah yang memadai di semua tempat dan gratis. Itu sepenuhnya bisa dikontrol dan diupayakan oleh pemerintah, bukan si reporter itu sih, saya tidak menyalahkannya kok. ^_^

Imlek baru saja lewat, kata orang-orang hujan akan berangsur-angsur mereda setelah hari imlek, semoga tidak ada lagi kiriman banjir dari hulu, aneh rasanya bogor yang hujan, kok Jakarta yang kebanjiran. Bukan hanya badai yang pasti berlalu, banjirpun pasti akan berlalu. Semoga semua pihak bisa berbenah, semoga tahun depan musim hujan bukan lagi menjadi hal yang menakutkan, dan banjir di Indonesia tidak lagi menjadi rutinitas tahunan yang menjadi tontonan Negara-negara lain. 

Dan kita dengan nikmat bisa menyeruput teh panas sambil mamandangi gemerintik hujan melalui jendela, tanpa ada perasaan was-was di tempat lain banjir merangkak naik sampai ke atap rumah.

Karena saya sangat menyukai hujan….

Semoga Tuhan……

1 Februari 2014
Lagi demen sama Lorde